Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Perlukah Sri Mulyani Meladeni Tantangan Debat Rizal Ramli?

Puthut EA oleh Puthut EA
8 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gara-gara telah dipersilakan Presiden Jokowi, Rizal Ramli pede menantang Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk berdebat soal utang Indonesia. Posisi Bu Sri Mulyani jadi serbasalah.

Rizal Ramli menantang Sri Mulyani berdebat tentang konsep utang negara. Tantangan ini ditunggu bahkan dikipasi oleh para netizen. Sampai saat ini, Sri Mulyani belum menanggapi.

Banyak pihak yang mungkin lupa kenapa debat ini mengemuka ke publik. Semua bermula dari pernyataan Jokowi yang gerah karena banyak pihak yang mempertanyakan kebijakan utang pemerintahan Jokowi. Karena gerah, Jokowi mempersilakan siapa pun untuk berdebat soal kebijakan utang dengan menteri keuangan alias Sri Mulyani.

Dalam konteks itu, tampaknya kita perlu memikirkan apakah perdebatan itu relevan atau tidak, tepat atau tidak. Termasuk mungkin meluruskan konsep debat yang mungkin cenderung dipahami secara keliru.

Debat sebagai Bagian dari Mencari Solusi

Salah satu pondasi negara ini adalah perdebatan. Jika kita membaca ulang sejarah republik ini, sesungguhnya kita membaca ulang sejarah perdebatan mulai dari konsep bernegara, ideologi, bahkan strategi politik. Para pendiri bangsa ini bukan berasal dari kubu pemikiran yang sama. Mereka adalah para pemikir-pejuang, yang berani berhadap-hadapan untuk memperdebatkan gagasan.

Dari situ kita tahu pentingnya gagasan sekaligus pentingnya mempertahankan gagasan. Namun, yang paling penting lagi adalah memahami dua hal: pertama, tarung gagasan itu penting. Karena dengan pertarungan itulah kita diperkaya oleh aneka konsep, pertimbangan, dan buah pikiran.

Kedua, perdebatan tidak untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi mencari hal terbaik yang bisa dilakukan. Hukum perdebatan itu bukan kalah dan menang. Sebab, yang lebih sering terjadi, adu gagasan itu justru menghasilkan sebuah sintesis gagasan. Kalaupun toh ada yang kalah, itu bukan hal yang memalukan karena kekalahan seperti itu ada dalam posisi mulia: menjadi batu uji atas sebuah gagasan lain yang terpilih. Kita tidak bisa mengatakan batu asah itu batu kotor. Batu asah bukan batu kalah. Dia batu mulia karena membantu mempertajam pisau yang diasah.

Debat dalam Konteks Bernegara

Sebetulnya dalam konsep bernegara kita, perdebatan itu difasilitasi. Itulah mengapa ada parlemen. Sesuai dengan akar katanya, parlemen berasal dari kata parle alias bicara. Bicara dalam konteks parlemen itu juga bisa berarti memprotes dan berdebat. Maka, jika ada orang bilang “anggota dewan banyak bicara”, sesungguhnya dia tidak memahami apa fungsi parlemen. Anggota parlemen memang harus banyak bicara. Banyak berdebat. Dia dipilih dan dibayar untuk bicara, untuk memprotes, untuk berdebat.

Dalam konteks itulah sebetulnya ajang perdebatan, misalnya soal utang, diberi tempat berdebat, yakni di parlemen. Anggota dewan bisa meminta menteri keuangan atau Sri Mulyani untuk datang dan mengajak berdebat. Menguji kebijakan utang pemerintah. Dalam hal aturan bernegara inilah tantangan Rizal Ramli tidak relevan ditanggapi Sri Mulyani.

Debat Publik sebagai Pertanggungjawaban Intelektual

Tapi, ajakan debat Rizal Ramli bisa dilihat dari perspektif intelektual. Baik Rizal maupun Sri Mulyani, keduanya dikenal sebagai intelektual. Dalam soal itu, Sri Mulyani boleh saja meladeni tantangan Rizal Ramli.

Tentu akan lebih elok jika fasilitatornya adalah lembaga yang punya legitimasi keilmuan. Bukan sembarang panitia debat. Ini perdebatan yang panjang, dari mulai konsep sampai implementasi. Bahkan mungkin perdebatannya bukan dua orang saja, melainkan dua tim. Dalam model debat seperti itu, paling pas jika yang menghelat adalah pihak kampus atau lembaga penelitian yang punya otoritas.

Iklan

Perdebatan pun tidak perlu dibuka luas ke publik untuk menghindari yel-yel atau sorak-sorai yang tidak perlu. Ini bukan pertandingan sepakbola. Ini perdebatan yang memerlukan kedalaman pikiran, keheningan, saling mencerna dan mungkin reflektif.

Kalau perdebatannya bisa ditonton sembarang orang, lalu semua orang bisa berteriak apalagi merundung, jelas itu perdebatan yang dangkal dan tidak perlu. Cari panitia penyelenggara yang punya otoritas dan kualifikasi, kurasi publik yang hadir, beri waktu yang panjang, debat bisa dilakukan dengan sehat dan bermartabat. Hasil perdebatan silakan disebar ke publik luas sebagai pertanggungjawaban kepada publik.

Karena Jokowi, Sri Mulyani Serbasalah

Bagi banyak orang, memang wacana debat ini membingungkan. Sebab yang mempersilakan debat ini Presiden Jokowi. Artinya, seorang presiden mempersilakan kebijakannya didebat dan siapa pun boleh menantang debat Sri Mulyani. Rizal Ramli juga tidak salah. Dia merasa punya ilmu, punya konsep, dan punya pengalaman. Wajar jika dia kemudian menantang berdebat Sri Mulyani begitu Presiden Jokowi mempersilakan orang untuk mengajak berdebat Sri Mulyani.

Sementara yang bingung dan kena abu panasnya adalah Sri Mulyani. Sebagai seorang intelektual, tentu dia tidak akan gerah dengan perdebatan. Tapi, sebagai seorang menteri dia tahu duduk soal perdebatan dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan. Dia mungkin serbasalah. Mau dilayani, konteks perdebatannya apa dan bagaimana. Mau tidak dilayani, lha yang mempersilakan Presiden Jokowi….

Mungkin, lain kali Presiden Jokowi kalau menyatakan sesuatu sebaiknya dipikir secara mendalam dulu. Supaya anak buahnya tidak merasa serbasalah.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2018 oleh

Tags: debatdprjokowiparlemenRizal Ramlisejarah debatsri mulyaniutang indonesia
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Jurusan Ilmu Politik di UHO mengecewakan. MOJOK.CO
Kampus

Nekat Kuliah Jurusan Ilmu Politik di Kampus Akreditasi B, Berujung Menyesal Tak Dengar Nasihat Ortu

3 Oktober 2025
Purbaya Hendak Selamatkan Petani, tapi Malah Dijegal (Rokok Indonesia:Ekosaint)
Pojokan

Niat Mulia Purbaya Mencegah Kematian Industri Tembakau Malah Dihalangi, Sementara Aksi Premanisme Sri Mulyani Memeras Keringat Petani Dibela

1 Oktober 2025
Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak
Pojokan

Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak

4 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.