Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Kenapa yang Menyerang Golput Hanya dari Satu Kubu Capres Saja?

Puthut EA oleh Puthut EA
21 Januari 2019
A A
kepala suku
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pertanyaan di atas sempat dilontarkan oleh seorang mantan aktivis ‘98. Pertanyaan semacam ini sebetulnya sudah menyeruak sebulan ini, ketika suara-suara golput makin membesar. Saya tertarik untuk membahasnya.

Pertanyaan itu tidak langsung bisa dijawab tanpa mencoba mencari tahu: apa watak atau karakter golput di tahun 2019? Sama atau berbeda mereka dengan golput di era sebelumnya—dalam konteks pasca-Reformasi?

Secara teoritis, setiap petahana punya keuntungan dan kekurangan dalam ranah dukungan politik.

Keuntungannya banyak, saya contohkan satu saja: menguasai semua peranti kekuasaan untuk bisa mengendalikan dukungan politik.

Dan kekurangannya: pasti akan ada barisan kecewa. Setiap petahana yang bertanding lagi, selalu menyisakan dua musuh baru. Pertama, mereka yang tidak terakomodasi secara ekonomi. Kedua, mereka yang tidak terakomodasi secara politik.

Mereka yang tidak terakomodasi secara ekonomi, biasanya terkait soal bisnis. Apakah bisnis mereka makin sulit, tidak dapat cantolan ke kekuasaan, tersingkir oleh pebisnis lain yang diakomodasi oleh kekuasaan, dll.

Sedangkan mereka yang tidak diakomodasi secara politik, adalah kelompok yang “menitipkan” agenda-agenda politik mereka kepada petahana di pemilu sebelumnya. Agenda lazimnya terkait soal: HAM, korupsi, lingkungan, budaya, dll.

Dari dua kelompok besar itu, yang paling berbahaya bagi petahana adalah kelompok kedua. Karena sebagian besar mereka bukan hanya melek politik melainkan juga punya kapasitas politik (wawasan, otoritas, intervensi sosial, dll), bahkan memiliki peranti politik (organisasi, komunitas, pergaulan sosial, dll).

Golput yang akhir-akhir ini diperbincangkan banyak orang utamanya di media sosial, adalah golongan kedua. Dan golongan ini mendapatkan tambahan energi baru yang tak kalah kuatnya. Siapakah mereka?

Sebelum masuk ke sana, kita perlu mencermati fenomena ganjil di pemilu kali ini. Dari empat pilpres langsung, 3 sudah digelar dan 1 baru akan dilaksanakan, hanya di pemilu ini yang makin mendekat hari H justru undecided voters justru makin bertambah.

Secara teoritis, di pemilu mana pun, makin mendekati pelaksanaan hajatan, undecided voters mestinya makin mengecil. Hal itu seiring dengan makin yakin dan menguatnya preferensi politik hasil dari durasi kampanye. Tapi kali ini tidak.

Lalu kira-kira apa sebabnya?

Sebabnya tentu banyak yang tahu, karena hal ini sudah banyak dinyatakan oleh para pengamat politik: isu dalam pilpres kali ini tidak produktif, dan cenderung menghina kewarasan serta akal sehat.

Kelompok ini yang makin membesar, punya potensi besar pula untuk makin bergabung dalam golput. Sebab begitu sampai batas waktu dan psikologis tertentu, para undecided voters ini memutuskan memilih untuk tidak memilih.

Iklan

Tambahan yang lain adalah dari pihak pendukung petahana yang sudah memutuskan mendukung lagi petahana, namun kecewa dengan berbagai manuver petahana. Termutakhir yang mudah dijadikan contoh adalah kebijakan Jokowi membebaskan Abu Bakar Baasyir.

Ini bukan soal kebijakan benar atau salah. Tapi bahwa kebijakan ini ternyata mendulang risiko 1-2 persen pendukung petahana memutuskan untuk golput.

Jadi, kekuatan golput makin membesar dan kuat karena tiga kelompok itu: agenda politik mereka tidak diakomodasi oleh petahana selama memerintah; kecewa dengan dinamika pilpres yang tidak produktif; dan kecewa dengan manuver petahana.

Beberapa lembaga sedang mensurvei berapa peningkatan golput. Saya sendiri memperkirakan dari angka golput yang rerata 25-30 persen, mengalami lompatan 5 persen per akhir Januari ini. Dan bisa jadi sampai April makin bertambah. Apalagi jika mereka dilawan.

Sebab karakter golput ini sebetulnya, awalnya, tidak aktif. Tapi kalau mereka dipersalahkan, didesak, dipojokkan, maka semua instrumen politik mereka akan dipasang, dan memukul balik para penyerangnya. Itulah yang tidak dipahami para relawan dan politikus.

Sekarang saatnya menjawab, kenapa hanya kubu petahana saja yang memojokkan dan menyerang golput?

Jelas, irisan terbesar mereka mestinya ada pada klaster petahana. Makanya para relawan dan politikusnya memojokkan mereka. Sebab yang tergembosi adalah kubu petahana.

Kubu sebelah lebih rileks memandang hal ini, bisa jadi karena mereka tahu bahwa kue golput ini dipotong di petahana, atau mereka punya pandangan pragmatis: tidak kuat menahan gempuran golput jika diserang.

Artinya, ada dua musuh yang harus mereka hadapi. Barisan pendukung petahana dan golput. Tentu ini berat bagi kubu sebelah.

Saya akan menambah bobot politik dari persoalan golput ini. Benarkah aksi golput tidak ada gunanya?

Itu pandangan yang keliru besar. Saya mau mengingatkan ilmu dasar politik: politik bukan melulu persoalan elektoral. Dalam konteks elektoral, tentu golput bisa sangat merugikan petahana, terlebih jika pendukungnya gagal memahami karakter golput dan terus menyerang serta memojokkan mereka.

Politik itu dimensinya luas. Ada banyak isu yang terus bisa dikawal, siapa pun yang memenangi pemilu. Karena pengalaman elektoral menyatakan bahwa tidak mungkin memasrahkan agenda-agenda strategis kepada siapapun selain diri dan organisasi serta masyarakat yang terlibat di masing-masing isu.

Artinya, justru dalam proses ini akan memunculkan dinamika politik baru yang menarik dan dinamis. Politik yang bukan hanya soal coblos-mencoblos. Politik yang ingin memastikan agenda politik berbagai kelompok bisa dikawal dan didesakkan kepada siapapun yang kelak memenangi pilpres.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2019 oleh

Tags: Capreselektoralgolputkepala sukupilprespolitik
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti
Video

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti

28 Oktober 2025
Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai
Video

Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

25 Oktober 2025
Kotak Pandora Politik Terbuka: Gus Romy Ungkap Krisis di PPP
Video

Kotak Pandora Politik Terbuka: Gus Romy Ungkap Krisis di PPP

20 Mei 2025
Dwifungsi ABRI dan Ambisi Kuasa di Luar Barak
Video

Dwifungsi ABRI dan Ambisi Kuasa di Luar Barak

10 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.