Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kartu Penulis Mojok

Rusdi Mathari oleh Rusdi Mathari
29 Agustus 2015
A A
Kartu Penulis Mojok

Kartu Penulis Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mojok berusia setahun dan banyak orang mulai membicarakannya. Situs ini didaulat sebagai media alternatif, media satire di tengah seragamnya isi dari arus besar situs online. Tulisan-tulisan di Mojok dianggap berbeda dari tulisan-tulisan di media lain. Penuh olok-olok dan konon membuat yang membacanya tertawa atau minimal tersenyum masam.

Tentu, pendapat semacam itu tak bisa dihindari karena tak mungkin melarang orang berpendapat dan menilai Mojok, tapi tentu saja tak semua orang (pembaca Mojok) akan berpendapat seperti itu.  Jonru, Felix Siauw, Yusuf Mansur, AA Gym, PKS Piyungan, Hizbut Tahrir, Fahira Idris, dan Ahok, misalnya, kemungkinan besar malah menganggap Mojok sebagai media yang menjengkelkan—karena beberapa tulisan di Mojok yang memojokkan mereka. Akan jadi tragedi seandainya mereka kemudian menyukai Mojok, sementara mereka adalah bahan olok-olok yang sering dimunculkan di Mojok, hanya karena pendapat, kelakuan mereka dianggap konyol oleh para penulis Mojok.

Celakanya, hampir setiap  tulisan di Mojok yang mengolok-olok nama-nama itu banyak mendapat perhatian. Dibaca banyak orang karena dianggap tulisan bermutu dan lucu.

Silakan dicek, setiap kali muncul tulisan yang mengejek Jonru, menertawakan Felix Siauw, mengolok-olok Yusuf Mansur; tingkat kunjungan pembaca Mojok ikut pula terdongkrak. Nama Jonru bahkan ditetapkan sebagai tagar tersendiri oleh Mojok untuk memudahkan pembaca melihat-lihat kembali tulisan yang mengejek-ejek Jonru. Tahun lalu, Jonru bahkan ditetapkan sebagai salah satu “Person of The Year” versi Mojok.

Maka tak bisa dihindari, apabila ada yang berpendapat, keterkenalan Mojok antara lain dipicu oleh nama-nama di atas. Silakan berdebat tentang benar-tidaknya, tapi sebagai media yang menabalkan diri bahwa Mojok adalah hak segala bangsa, baik yang sudah mandi maupun belum. Mojok disukai wanita setengah berjilbab, setengah liberal, setengah konservatif, setengah komunis hingga yang tidak setengah-setengah, dicintai pria dari kutub selatan sampai kutub utara, tak ada salahnya, apabila Mojok mulai mengundang mereka untuk ikut menulis di Mojok.

Sudah saatnya Mojok memberi kesempatan kepada nama-nama itu untuk membalas olok-olok yang selama setahun ini ditujukan kepada mereka.  Misalnya, Jonru diminta mengejek Iqbal Aji Daryono: kalau hanya berani beristri satu (dan takut sama istri) tak usah sok-sokan melindungi Jokowi. Felix Siauw mengejek Arman Dhani: mbok kalau belum ada cewek yang mau diajak menikah, jangan melampiaskan kekesalan ke saya. Fahira Idris diminta menulis tentang liburan halal (mungkin) bersama Arlian Buana. Atau orang-orang PKS Piyungan diminta menegaskan bahwa Eddward S Kennedy sebetulnya adalah kader PKS yang kecewa.

Intinya semacam balas budi Mojok. Cara ini sekaligus untuk menguji popularitas para tokoh itu dan juga Mojok: benarkah mereka hanya populer di kalangan mereka sendiri?

Hal lain yang tak kalah penting  (bagi Mojok) adalah, Mojok bisa mengurangi ”musuh.” Pembacanya tak akan terbatas hanya pada penggemar para penulis Mojok, melainkan lintas sektoral, lintas apa saja. Bukan hanya monopoli simpatisan komunis, liberal, sekuler, dan peler, melainkan juga simpatisan Hizbut Tahrir, PKS, dan anggota rohis.

Dengan demikian, Mojok berdiri di atas semua pemikiran. Sepanjang pemikiran itu sebatas olok-olok dan bukan pemikiran untuk menihilkan dan membunuh manusia.

Tidakkah para tokoh itu punya penggemar masing-masing yang bisa jadi jauh lebih banyak dari para penulis Mojok, dan karena  itu potensial untuk membaca Mojok? Dan siapa tahu pula, kelak, mereka tertarik dan jatuh cinta bergabung dalam daftar penulis Mojok, meskipun untuk versi penulis syariah atau halal misalnya.

Benar, pengelola Mojok bisa mendaku bahwa mereka telah mengundang nama-nama yang kerap dirundung dalam tulisan di Mojok, dan konon nama-nama itulah yang tidak bersedia; tapi klaim pengelola Mojok sebetulnya bisa diragukan keseriusannya.

Undangan yang disampaikan, patut diduga tidak mencerminkan kehalalan dan syariat. Misalnya tidak didahului dan diakhiri dengan “assalamualaikum…” dan sebagainya. Dengan undangan yang tidak serius semacam itu, maka undangan pengelola Mojok bukan hanya akan dibaca tidak memenuhi syariat, tapi juga sebagai bentuk olok-olok yang lain: pura-pura minta menulis sebelum kembali mencari-cari bahan tertawaan. Dan tentu saja Jonru, Felix Siauw, dan lain-lain, akan semakin punya alasan untuk menolak menulis di Mojok.

Apakah para tokoh kita itu benar penting untuk diundang menulis di Mojok, silakan pula diperdebatkan. Tapi kalaupun dianggap tidak penting, pengelola Mojok seharusnya mencari alternatif penulis lain yang menyuarakan pendapat yang berbeda agar Mojok tidak (semakin) membosankan. Nagita Slavina, istri Raffi Ahmad, misalnya, bisa diundang untuk menulis tentang aura kebapakan yang dipancarkan oleh Kokok Dirgantoro dan Puthut EA. Atau Mulan Jameela, istri Ahmad Dhani, diminta menulis tentang sakitnya mencopot alat kontrasepsi agar Agus Mulyadi tahu rasanya mencopot kondom.

Kalau Nagita atau Mulan juga tak bersedia karena dilarang suami mereka, pengelola Mojok mungkin perlu meminta Jokowi untuk menulis. Sebagai presiden, saya kira, dia butuh katarsis: membuang kejenuhan dan kebosanan sebagai presiden. Terserah Jokowi mau menulis apa. Siapa tahu dia punya ide tentang pentingnya Kartu Penulis Mojok.

Iklan

Atau kalau dia minta saran tema, usulkan saja agar menulis dampak perdamaian Dua Korea terhadap rasa bubur ayam di Cikini.

Terakhir diperbarui pada 25 September 2025 oleh

Tags: Fahira IdrisFelix SiauwJonruMojok
Rusdi Mathari

Rusdi Mathari

Artikel Terkait

5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran MOJOK.CO
Liputan

5 Liputan Terpopuler Mojok Sepanjang 2025: Saat Realita Dunia Kerja Menampar Para Sarjana dan Lulusan S2

1 Januari 2026
5 Esai Terpopuler Mojok 2025 (Mojok.co/Ega Fansuri)
Esai

5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi

1 Januari 2026
Purwokerto Tidak Istimewa, tapi Nyaman Melebihi Jogja MOJOK.CO
Esai

Pandji Benar. Purwokerto Memang Tidak Istimewa, Tapi Lebih Nyaman Ketimbang Jogja

21 Juni 2024
Felix Siauw Seharusnya Pro Syiah Iran Sejak Dulu MOJOK.CO
Esai

Coba Bayangkan Kalau Sejak Dulu Felix Siauw Pro Iran, Israel Pasti Sudah Rata dengan Tanah!

17 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.