Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kalau Perempuan Jadi Korban Kekerasan Kenapa Malah Kalian Salahkan?

Miranda Olga oleh Miranda Olga
17 Desember 2017
A A
pelakor_selingkuh_mojok

pelakor_selingkuh_mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Perempuan kerapkali disalahkan saat terjadi tragedi dan kekerasan.”

Untuk saudari-saudariku.

Barangkali banyak di antara kamu yang sedang dimabuk cinta. Menganggap sikap-sikap posesif dan cemburu menjadi suatu hal lucu dan menggemaskan, pemanis dalam hubungan yang dengan tersipu kamu ceritakan kepada teman-teman. Lalu ketika sang kekasih berbisik di telinga, bilang, “If I can’t have you, no-one can,” mukamu makin memerah karena percaya bahwa inilah yang orang-orang sebut sebagai tough love.

Pertanyaannya, tahukah kamu bahwa lebih dari 90% perempuan korban pembunuhan itu habis di tangan pasangannya sendiri? Bahwa 1 dari 3 perempuan berisiko mengalami kekerasan—bahkan tak segan sampai mati—yang dilakukan oleh laki-laki yang pernah bilang cinta berulang-ulang?

Bacalah berita-berita terkini. Kasus para istri yang dibunuh suaminya masing-masing senantiasa bertengger di liputan-liputan populer, sebab isunya seksi dan mampu meningkatkan keterlibatan pembacanya untuk berkomentar dan membicarakannya dalam percakapan sehari-hari. Kalau kamu berpikir itu adalah peristiwa yang “jauh” dan “tidak akan kamu alami”, maka kamu salah. Dalam lingkungan yang memelihara patriarki seperti di tempat hidup kita kini, sesungguhnya peristiwa macam itu tidaklah unik atau spesial. Kita berisiko sama seperti para korban.

Saudari-saudariku, ayo kita coba lebih hati-hati.

Bisa jadi yang kita kira sebagai tough love, malah sebenarnya adalah patriarchal terrorism—suatu buah karya masyarakat patriarkis yang membuat laki-laki butuh dan berupaya mengontrol sebuah hubungan berdasarkan gender. Perilaku ini mendukung terciptanya hubungan asimetris absolut dengan supremasi laki-laki dan perempuan sebagai pihak yang subordinat. Terkadang, situasi ini disembunyikan lewat kata-kata gombal, “Aku ingin jadi orang yang melindungi kamu, aku ingin bertanggungjawab atasmu, aku ingin yang terbaik untukmu.” Romantis? Iya, sampai dia lempar kamu dengan asbak karena tertawa pada candaan laki-laki lain, atau menolak memberi nafkah agar kamu tidak bisa keluar rumah.

Sampai di sini, tolong jangan anggap aku berlebihan. Karena nyatanya memang ada pemakluman terhadap sikap para lelaki kepada perempuan, kepada pasangannya. Toh, tanpa menyebut nama, ada pula junjunganmu yang mengizinkan suami memukul istri ketika ia “durhaka”, bukan? Dan meski nasihat tersebut sudah lewat beribu tahun lamanya, tetap saja itu terpatri dalam pondasi pernikahan masa sekarang. Bentuk validasi untuk mengancam perempuan agar tidak berlaku di luar batas, sebab sikapnya bisa diganjar oleh nyawanya.

Perempuan-perempuan yang bertahan dengan suami kasar, enggan bekerja, kerap menghilang, dan perilaku buruk lainnya sering dicap sebagai Perempuan Kuat. Bila mereka kabur dari kondisi itu, atau mengeluhkannya kepada orang lain, ia menjadi Perempuan Lemah (yang ditanya-tanya, Lalu kenapa menikah dari awal?). Bila mereka melawan dan menuntut hak-haknya, bahkan berani mengajukan perpisahan, ia digunjing sebagai Perempuan Durhaka. Jenis perempuan satu ini sering dikatakan telah melewati batas, dan tidak sedikit masyarakat berpikir bahwa mereka pantas mendapat ganjaran—dicaci, dipukul, hingga dibunuh.

Aku tidak mengatakan bahwa masyarakat segila itu untuk membiarkan laki-laki melakukan genosida terhadap perempuan. Hanya saja, ide-ide yang menggaungkan perempuan sebagai pihak yang seharusnya berperan memberi perhatian, pengertian, dan kasih sayang dalam keluarga; yang perlu menstabilkan bahtera sementara sang laki-laki menentukan arah perjalanan; membuatku pesimis berpikir masyarakat kita mampu membaca berita tentang dibunuhnya istri-istri oleh para suaminya tanpa mencuit, “Ini perempuannya pasti ada sesuatu!”

Yah, dalam ilmu yang sudah kupelajari selama ini, memang tak selalu hubungan yang melibatkan kekerasan itu diisi oleh pelaku full evil dan korban pure innocent. Ada banyak, sangat banyak aspek yang perlu dilibatkan ketika menghakimi kekerasan dalam hubungan, utamanya di pernikahan. Namun, aku tidak mau menjadi orang yang membenarkan pembunuhan sebagai upaya penyelesaian masalah, apa pun alasannya. Dan aku pun berharap saudari-saudariku bisa turut berpikir sama, lantas saling memberi kekuatan kepada saudari lainnya untuk bicara kalau-kalau sudah lihat lampu merah pada hubungan yang tengah dijalaninya.

Saudari-saudariku, kalau kamu lantas masih penasaran mengapa ada suami yang mampu membunuh istrinya (baik terencana atau tidak terencana, kecelakaan atau memang disengaja), sebenarnya jawabannya sederhana: sebab ia kehilangan kontrol. Bukan kontrol atas emosinya, tapi kontrol atas pasangannya. Atas hubungannya. Itu adalah pilihan ekstrem yang penuh keputusasaan, dan sering diikuti dengan percobaan bunuh diri oleh sang suami. Kamu tahu ke mana akarnya kembali? Pada patriarki, yang turut menuntut laki-laki agar menjadi pemegang kontrol karena maskulinitas yang dimilikinya. Akhirnya perempuan dan laki-laki sama-sama menjadi korban teror patriarki.

Aku ingin punya cinta yang hidup—tanpa usaha untuk saling menguasai, atau ketakutan bila yang satu berposisi lebih tinggi di antara lainnya. Perlukah beruntung untuk mendapatkannya? Atau bisa kita sama-sama saja perjuangkan dengan berhenti menyuburkan peran kerja berdasar gender dalam keluarga, dan menolak memaklumi segala kekerasan dalam rumah tangga?

Saudariku, ini mimpiku atau punya kita semua?

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2017 oleh

Tags: KekerasanKekerasan Dalam Rumah Tanggakekerasan seksualkekerasan terhadap perempuanpembunuhan istriperempuansuami membunuh istri
Miranda Olga

Miranda Olga

Artikel Terkait

Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO
Aktual

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Dosen UNIMA diduga lakukan kekerasan seksual ke mahasiswi FIPP hingga trauma dan bunuh diri MOJOK.CO
Aktual

Trauma Serius Mahasiswi UNIMA akibat Ulah Menjijikkan Oknum Dosen, Tertekan hingga Gantung Diri

2 Januari 2026
Berantas topeng monyet. MOJOK.CO
Liputan

Nasib Monyet Ekor Panjang yang Terancam Punah tapi Tak Ada Payung Hukum yang Melindunginya

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.