Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Beberapa Penyebab Merajalelanya Populasi Jomblo di Madura

Edi AH Iyubenu oleh Edi AH Iyubenu
29 Juli 2017
A A
Susahnya Jadi Mahasiswa Madura di Jogja Kena Stigma Buruk: Sudah Biasa Dianggap Arogan, Egois, dan Dicap Maling.MOJOK.CO

Ilustrasi Susahnya Jadi Mahasiswa Madura di Jogja Kena Stigma Buruk: Sudah Biasa Dianggap Arogan, Egois, dan Dicap Maling (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menurut The Masolah Institute (TMI) yang berkantor di jalan Dokter Cipto, Sumenep, anak-anak muda Madura lebih mudah mendapatkan pasangan dibanding daerah-daerah lain. Itu tak lepas dari tradisi leluhur Madura yang amat ketat menjaga pergaulan kaum Hawa yang lajang. Bila telah cukup umur, dipertemukanlah (nyonggo’) anak cewek itu dengan calon pasangannya. Dikawal ketat hingga ke pelaminan.

Sangat jarang terjadi ketidakcocokan bila sudah memasuki fase lamaran (epenta-tonggeben). Bukannya tak ada, tapi langka. Sebab harga pembatalannya tidak sesederhana cabe-cabean dan terong-terongan massa kini mengirim wasap “Kamu terlalu baik …” di saat sedang sayang-sayangnya. Risiko ketegangan hubungan antarkeluarga menjadi harga mewah yang tak gampang ditebus begitu saja.

Jika setelah menikah terjadi perceraian (bayangkan bagaimana ketegangannya), semua barang dari pihak lelaki yang dibawakan sejak masa pranikah akan diangkut kembali tanpa tercecer sedikit pun. Kardus yang dilipat sebagai ganjal kaki lemari sekalipun akan turut dikembalikan. Tak boleh ada yang tertinggal, selain kenangan malam pertama …. 

Sekjen TMI, Ve, menuturkan kepada saya bahwa gelombang modernisme, hedonisme, feminisme, dan akulturasi budaya yang tak terhindarkan memang telah menggeser wajah tradisi tersebut. Sebagian positif, lainnya negatif. Di antara yang negatif ialah merajalelanya populasi jomblo di Madura. Beda jauh sama zaman eppa’-emak dulu. 

Lunturnya tradisi leluhur tersebut ternyata berbanding lurus dengan melambatnya angka pernikahan di Madura. Bagaimana mau menikah, pada jomblo kok. Maka, tegas Ve, “Cara mengatasi problem Madura kontemporer tersebut harus dilakukan dengan kembali kepada kultur fitri Madura. Niscaya takkan ada lagi anak-anak Madura yang menjomblo.” 

Ve lalu mendedahkan beberapa argumennya di kantor TMI. 

Pertama, bapak adalah solusi. 

Relasi asali anak dan bapak di Madura tidaklah intim macam kecenderungan anak-anak masa kini. Tidak ada ceritanya seorang anak main Salodor sama bapaknya. Mustahil. Jika bapak ada di beranda, anak bisa ada di kamar atau dapur. Jika bapak ada di dapur, anak bisa ada di depan atau kamar. Tidak pernah ada kejadian anak sedang di kamar, lalu bapak ikut masuk. 

Ini bukan berarti bapak kurang sayangnya kepada anak atau sebaliknya. Mereka menerapkan filosofi “cinta dalam hati”. Cinta tanpa mawar, coklat, dan tiket piknik. Cukup ngerti, saling paham. Simak ilustrasi ini: 

Seorang anak dari daerah Jadung, yang hendak pergi ke Jogja telah sampai di terminal Bungurasih, Surabaya. Bapaknya menelepon. 

“Nyampe mana?” 

“Surabaya.” 

“Hati-hati.” 

“Iya.” 

Iklan

“Kapan pulang?” 

“Apa mau sekarang saja?” 

“Buwehh …. Reng abit mun acaca ber-nyalaber.” Telepon dimatikan. Seringkas itu ekspresi sayang di antara mereka. 

Ketidakintiman relasi permukaan ini jelas menunjukkan rasa sungkan. Tingkat nurut anak sangat tinggi. Maka, ketika sudah tiba masanya, bapak dengan mudah mengenalkan anaknya kepada seorang lelaki pilihan bapak. Anak pun menunduk diam, dan sesuai isyarat Nabi, “Diamnya perawan adalah persetujuannya”. Beda memang sama yang tak perawan. Pernikahan pun tak lama digelar. 

Kedua, karisma kiai. 

Begitu anak sudah masuk usia SD (ibtida’iyah) atau SMP (tsanawiyah), bapak mengantar anaknya ke seorang kiai untuk nyantri. Mondok. 

Sejak dini, anak-anak Madura ditanamkan nilai-nilai dan pengetahuan tentang Islam. Silakan buktikan ini: sebajingan apa pun orang Madura, niscaya ia jago tahlilan dan selalu memendam cita-cita naik haji. 

Sosok kiai otomatis sangatlah karismatik di tengah masyarakatnya. Dalam perkara apa pun. Bukan hanya perihal pengajian, tapi hingga urusan anak sawan, santet, seret rezeki, dan tentunya jodoh. 

Apa pun titah kiai, haram dipunggungi. Selalu sami’na wa atha’na. Jangankan sampai bersemuka, sekadar melihat tembok rumah kiai saja hati mereka langsung ta’dhim. Kepala sontak tertunduk. 

Kuatnya kharisma kiai ini menjadi jalan ampuh bagi siapa pun untuk menyongsong jodohnya. Bila ada seorang bapak yang meminta tolong seorang kiai untuk mencarikan jodoh anaknya, dengan mudah sang kiai bisa menunjuk itu atau ini, berikutnya dipertemukan dan menikah. Sesimpel itu sang kiai menolong kaum jomblo yang sudah masak di pohon. Sakti betul. 

Ketiga, jangan kuliah. 

Menuntut ilmu setinggi-tingginya memang penting, itu bahkan ajaran Nabi. Tapi bukannya tanpa konsekuensi. 

Lunturnya tradisi leluhur tadi jelas dipantik oleh semakin banyaknya pemuda-pemudi Madura yang melanjutkan kuliah seusai nyantri. Atau langsung kuliah tanpa nyantri dulu. Pergaulan yang terbuka, akulturasi dengan Drakor, hingga menempelnya isu-isu sekular Barat macam modernisme, hedonisme, dan feminisme, melesatkan perspektif dan sikap baru di kalangan anak kuliahan itu. Ekspresi-ekspresi resistan pun berhamburan.

Makin tinggi kuliahnya, makin jadi pemberontakannya. Salah satunya ialah resistensi terhadap peran sentral bapak dalam urusan perjodohan. 

Jangankan sampai dinikahkan, sekadar diminta kenalan dulu saja sulitnya bisa segede gaban. Atas nama memperjuangkan chemistry bin suara hati, vitalnya masa penjajakan dan grayang-grayangan, hak untuk memilih, seabrek kriteria pasangan impian, pergeseran paradigma sakinah mawaddah wa rahmah, hingga slogan pura-pura “menikah bukanlah tujuan utama hidupku karena yang utama adalah kebahagiaan”, tertundalah pelaminan itu. 

Sementara waktu terus berlalu. Via Vallen mulai digantikan Nella Kharisma. Uut Selly tak pernah lelah menguplod dada dan bokong menggantikan Duo Serigala. Drakor menumbangkan kaset-kaset Barry Prima dan Advent Bangun. Hanya Jonru yang terus istikamah …. 

Kini, putra-putri Madura (baik Madura Negeri maupun Madura Swasta) tidaklah jauh berbeda dengan insan-insan penghuni region-region jomblo lainnya. Populasi jomblo merajalela. Menguasai seluruh sudut jalanan. Suara-suara galau, sepi, dan lelah sangat melimpah ruah. 

TMI telah melakukan riset di pengujung 2016 soal fenomena ini. Hasilnya, seperti yang diduga, angka jomblo di Madura berbanding lurus dengan angka perkuliahan. Rekomendasi TMI berbunyi begini: “Jangan kuliahkan anak anda agar cepat menikah.” 

Begitulah faktanya. Dapat disimpulkan bahwa kuliah tidak selalu baik-baik saja buahnya. Lulus niscaya nganggur, jomblo pula. 

Mahabenarlah TMI bahwa kembali kepada tradisi leluhur menjadi solusi riil-strategisnya. Agar kembali menjadi insan Madura yang kaffah. Pondokin saja, agar ilmu agamanya mantap, fasih tahlilan, yasinan, mauludan, dan patut diajak ke sripahan. Lalu nikahkan. Soal rezeki, kenapa waswas? Itu sudah diatur oleh Gusti Allah. 

Asal kaffah, tak ada orang jomblo di Madura.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: jombloMaduraSurabaya
Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Yang punya Kafe Basabasi.

Artikel Terkait

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)
Pojokan

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres menjadi saksi "kegilaan" Bonek di rute Grobogan - Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya di Stadion GBT MOJOK.CO
Urban

KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua

6 Maret 2026
Ilustrasi Honda Vario Sumber Derita dan Bikin Gila di Jalanan Surabaya (Wikimedia Commons)
Pojokan

Honda Vario Adalah Motor yang Paling Menderita di Surabaya: Mesin Loyo Itu Sengsara Dihajar Jalan Rusak

6 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.