Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ivermectin Beneran Obat COVID-19? Jangan Mudah Percaya Pesan WhatsApp dengan Status ‘Forwarded Many Times’

Alexander Arie oleh Alexander Arie
11 Juni 2021
A A
Ivermectin Beneran Obat COVID-19? Jangan Mudah Percaya Pesan WhatsApp dengan Status ‘Forwarded Many Times’

Ivermectin Beneran Obat COVID-19? Jangan Mudah Percaya Pesan WhatsApp dengan Status ‘Forwarded Many Times’

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Lagi ramai kalau ivermectin bisa menyembuhkan Covid-19. Duh, jangan gampang percaya sama pesan berantai yang muncul di WhatsApp, ya.

Sebuah pesan dengan keterangan Forwarded Many Times muncul di salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti. Sebagian besar anggota grup itu bergelar Apoteker. Namun, sayangnya, yang benar-benar menjalankan praktik kefarmasian hanya sebiji. Sisanya bekerja di pabrik, jadi YouTuber, ada juga yang jadi kontraktor.

Sederhananya, grup itu adalah tempat berbagi pesan-pesan hoaks bijak dari grup keluarga. Mulai dari yang keagamaan hingga kesehatan seperti halnya pesan penting terkait obat COVID-19 yang sepotongnya berbunyi:

“Obat bernama Ivermectin dinilai mampu mengalahkan COVID-19. Sekarang ivermectin 12 mg untuk COVID-19 sudah tersedia bebas di apotek.”

Pandemi COVID-19 ini sudah berjalan lebih dari setahun dan sudah cukup sering kita melihat pernyataan ‘obat COVID-19’ terutama di grup WhatsApp keluarga. Padahal, sampai saat ini belum ada obat yang sepenuhnya disetujui untuk COVID-19. Seluruh obat dan vaksin masih berada pada level izin penggunaan dalam keadaan darurat alias Emergency Use Authorization.

Mengutip dari—ehm—artikel jurnal yang saya tulis sendiri, EUA adalah salah satu bentuk kerja sama apik sektor administrasi publik dan sektor kesehatan modern yang memungkinkan obat-obat dalam pengembangan maupun obat-obat yang sudah disetujui tapi untuk indikasi lain dapat digunakan pada suatu kondisi darurat.

Di awal pandemi, kita mengenal klorokuin dan hidroksiklorokuin yang juga ramai dibagikan di grup-grup WhatsApp. Klorokuin, misalnya, sudah sangat lama ada di pasaran dan disetujui sebagai obat malaria. Namun, dengan berbagai pertimbangan, EUA sempat mengizinkan klorokuin digunakan untuk pengobatan sebelum kemudian dicabut kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Nah, ivermectin ceritanya kurang lebih sama. Ivermectin, di Amerika Serikat, disetujui sebagai agen anti-parasit spektrum luas yang berdasarkan sejumlah penelitian secara in vitro ternyata memiliki aktivitas antivirus. Di Indonesia sendiri sejauh ini baru ada satu produk ivermectin, yakni kaplet 12 miligram dan terdaftar di BPOM untuk indikasi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis). Patut diingat, namanya juga buat kecacingan, jadi dosisnya tunggal dalam rentang 150-200 mcg/kg Berat Badan untuk pemakaian (((SATU TAHUN))).

Potensi ivermectin untuk melawan COVID-19 telah diteliti sejak awal pandemi. Bapak Doktor beneran—bukan panggilan kesayangan—bernama Leon Caly dan teman-teman, mendapati bahwa ivermectin dapat menghambat replikasi SARS-CoV-2 secara in vitro melalui penelitian di laboratorium. Penelitian tersebut diterbitkan di jurnal Antiviral Research bulan Juni 2020.

Oya, hampir seluruh jurnal kondang di dunia yang biasanya digembok, khusus untuk COVID-19, membuka aksesnya lebar-lebar, termasuk jurnal-jurnal yang disebutkan di tulisan ini. Kesempatan ini tentunya baik bagi kita untuk belajar tentang COVID-19 dari beragam perspektif atau ya setidak-tidaknya belajar bahasa Inggris.

Penelitian Bapak Leon tersebut mendasari banyak riset lanjutan perihal ivermectin yang dibuktikan dengan begitu banyaknya penelitian lain yang mengutipnya. Salah satu penelitian lanjutannya adalah yang dikerjakan Bapak Carlos Chaccour dan rekan-rekannya dan dipublikasikan di The Lancet. Penelitian Pak Doktor dari Venezuela yang sudah melanglang buana di berbagai negara tersebut cukup penting karena dilakukan pada manusia alias merupakan uji klinik.

Pada penelitian tersebut, dilakukan pengamatan terhadap dua kelompok pasien. Satu kelompok memperoleh ivermectin, satu lagi tidak. Terlihat jumlah virus yang lebih sedikit pada kelompok yang diberikan ivermectin, dibandingkan yang tidak. Walau demikian, terdapat sejumlah catatan lain yang mengarah pada kesimpulan penting bahwa studi tersebut bersifat pilot dan dapat dieksplorasi lebih lanjut pada uji klinik yang lebih luas, termasuk dengan melibatkan pasien dengan faktor risiko maupun penyakit yang lebih parah.

Beberapa hari lalu, melalui akun Twitternya, Bapak Doktor Carlos membagikan tulisan pakar penemuan obat, Bapak Derek Lowe. Dalam artikelnya Ivermectin As a COVID-19 Therapy, Bapak Lowe menekankan bahwa penemuan obat itu bukanlah tentang Prayit, cupang legendaris dari Mojok, yang menderita suatu penyakit, lalu mencoba terapi baru X terus membaik dan kita bisa berteriak ‘eureka… eureka…’ karena obat dari penyakit tersebut sudah ada.

Penemuan obat adalah tentang serangkaian penelitian dengan desain uji yang mantap, besaran sampel yang memadai, jumlah data yang adekuat, serta metode statistik yang mampu disimpulkan. Jadi, ketika ivermectin yang adalah obat untuk kecacingan itu hendak digunakan sebagai obat COVID-19 dan potensinya secara in vitro sudah terbukti, maka uji klinik yang baik adalah kunci keberlanjutannya.

Iklan

Sejumlah negara memang telah menggunakan ivermectin untuk terapi COVID-19. European Medicines Agency (EMA) menyebut Republik Ceska dan Slovakia sebagai dua negara yang mengizinkan penggunaan ivermectin untuk COVID-19, walau begitu Uni Eropa secara umum masih belum menerapkan hal yang sama. Setidaknya demikian pernyataan pada Maret 2021 yang belum diperbaharui sampai saat tulisan ini diketik.

Di Indonesia sendiri, BPOM menyebut bahwa akan dilakukan uji klinik di bawah koordinasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan bersama sejumlah rumah sakit. Uji klinik ini menjadi bagian penting baik untuk Indonesia maupun secara global agar semakin banyak data yang tersedia untuk bisa menyimpulkan bisa tidaknya ivermectin digunakan sebagai terapi COVID-19.

Eh tapi, kok Bapak Moeldoko, yang ketua tani itu, sudah menginstruksikan ivermectin supaya diedarkan secara luas, terutama ke Kudus, di mana lagi gawat-gawatnya di sana. Padahal BPOM baru mau uji klinis.

Artinya, kalau sudah beredar luas, BPOM sudah kasih izin, dong? Pusing, kan. Ini saya enggak dapat beritanya dari grup-grup WhatsApp, lho. Sudah banyak media yang memberitakan.

Satu hal yang pasti, ivermectin yang beredar dengan indikasi kecacingan itu adalah obat dengan nomor izin edar DKL. Jika ada huruf ‘K’ berarti obat keras yang seharusnya tidak dapat diperoleh tanpa indikasi medis maupun tanpa resep dokter. Apalagi, konsumsi ivermectin dalam jangka panjang dapat mengakibatkan efek samping nyeri otot/sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit diare, sampai sindrom Stevens-Johnson.

Jangan lupa, pada awal pandemi COVID-19, ratusan orang di Iran dan puluhan orang di Turki meninggal gara-gara mengonsumsi baik ethanol maupun methanol dengan tujuan mencegah diri terinfeksi SARS-CoV-2. Bayangkan bahwa seseorang itu takut kena COVID-19 tapi malah meninggal gara-gara melakukan sesuatu yang ditujukan untuk mencegah penularan COVID-19 itu sendiri. Pada akhirnya mereka memang nggak ketularan COVID-19 karena keburu meninggal.

Demikianlah pula dengan obat-obat, baik yang sudah berlalu seperti klorokuin, sekarang sedang hits seperti ivermectin, maupun kelak akan bermunculan dengan keterangan obat COVID-19.

Sampai obat yang beneran diindikasikan untuk COVID-19 hadir dan dinyatakan dapat dibeli untuk swamedikasi, kita hendaknya hanya mengonsumsi ‘obat COVID-19’ kalau memang dikasih oleh fasilitas pelayanan kesehatan saja. Kalau kemudian membeli sendiri atas kehendak sendiri dengan tujuan pencegahan, apalagi hanya gara-gara baca pesan di grup WhatsApp yang Forwarded Many Times, sebaiknya pikir-pikir kembali ya~

BACA JUGA Memahami Klorokuin, Obat yang Diklaim Bisa Sembuhkan Penderita Corona dan tulisan mencerahkan lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 11 Juni 2021 oleh

Tags: coronaCOVID-19grup waivermectinkudusMoeldokoobat covidWAGwhatsapp
Alexander Arie

Alexander Arie

Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta. Asli Bukittinggi.

Artikel Terkait

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO
Esai

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Praja bertanding panahan di Kudus. MOJOK.CO
Sosok

Nyaris Menyerah karena Tremor dan Jantung Lemah, Temukan Semangat Hidup dan Jadi Inspirasi berkat Panahan

20 Desember 2025
Atlet panahan asal Semarang bertanding di Kota Kudus saat hujan. MOJOK.CO
Ragam

Memanah di Tengah Hujan, Ujian Atlet Panahan Menyiasati Alam dan Menaklukkan Gentar agar Anak Panah Terbidik di Sasaran

19 Desember 2025
Pontang-panting Membangun Klub Panahan di Raja Ampat. Banyak Kendala, tapi Temukan Bibit-bibit Emas dari Timur Mojok.co
Ragam

Pontang-panting Membangun Klub Panahan di Raja Ampat. Banyak Kendala, tapi Temukan Bibit-bibit Emas dari Timur

17 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.