Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

In Memoriam Harmoko: Hari-hari Penuh Keberuntungan

Aris Santoso oleh Aris Santoso
6 Juli 2021
A A
In Memoriam Harmoko: Hari-hari Penuh Keberuntungan MOJOK.CO

In Memoriam Harmoko: Hari-hari Penuh Keberuntungan MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selain kompetensi dan kecerdasan, berkarier di politik juga harus memiliki keberuntungan, dan itu sudah dimiliki Harmoko.

Seorang tokoh selalu dikenang karena ujaran atau pemikirannya, demikian juga dengan Harmoko. Ujaran terpenting Harmoko adalah saat memberi dukungan solid pada gerakan mahasiswa untuk melengserkan Soeharto. Pernyataan Harmoko saat menjadi Ketua DPR RI menjadi narasi ikonik, yang menjadi momentum agar Soeharto segera mempercepat pengunduran dirinya.

Wakil Ketua DPR RI, Letjen Syarwan Hamid, (Akmil 1966, mantan Kassospol ABRI), yang duduk di samping Harmoko, bahkan sempat mengepalkan tangannya, gaya khas aktivis gerakan mahasiswa. Apa yang disampaikan Harmoko dan kepal tangan Syarwan Hamid, sungguh di luar ekspektasi publik saat itu, mengingat dua tahun sebelumnya Syarwan termasuk keyperson penyerbuan kantor pusat PDI (27 Juli 1996), serta pembubaran PRD.

Tidak bisa lain, kita harus berani mengatakan, saat itu Harmoko secara sadar menjadikan dirinya sebagai martir. Terlebih bila dihubungkan dengan rekam jejaknya yang begitu setia pada Soeharto. Posisinya sebagai Menteri Penerangan selama tiga periode kabinet (1983-1997), sudah cukup menunjukkan bagaimana bentuk hubungan antara Soeharto dan Harmoko.

Bagaimana Harmoko bisa dipilih Soeharto sampai tiga kali pada posisi yang sama, rasanya hanya Soeharto yang tahu. Biasanya, Soeharto merotasi menterinya pada pos yang berbeda, meski orangnya itu-itu saja, seperti yang pernah terjadi pada Ali Wardhana, JB Sumarlin, Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Soebroto, dan seterusnya.

Bagaimana melihat performa Harmoko saat menjadi Menpen, salah satunya bisa dengan cara membandingkannya  dengan Ali Murtopo, Menpen yang kemudian digantikan Harmoko. Keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda, karisma Ali Murtopo luar biasa, yang mungkin terlampau besar untuk seorang Menpen. Secara intelektual Harmoko juga sangat jauh dibanding Ali Murtopo. Jejak Ali di bidang intelektual masih eksis sampai sekarang, yakni lembaga riset CSIS.

Dalam setiap kunjungan ke daerah, Ali Murtopo selalu berpidato dengan gayanya yang tipikal, senantiasa berapi-api. Setiap pidato, Ali Murtopo selalu memilih lapangan terbuka, atau gedung yang luas. Sehingga pendengarnya pun berbaur antara pejabat lokal, jurnalis yang sedang meliput, dan masyarakat biasa yang sangat menikmati pidatonya.

Seingat saya pada masa itu, hanya dua menteri yang sangat populer, karena gayanya yang tipikal, dan kebetulan dua-duanya juga seorang jenderal, seorang lagi adalah M Jusuf (Menhankam/Panglima ABRI 1978 – 1983). Sementara hampir tidak ada yang bisa dikenang dari Harmoko selama menjabat 14 tahun sebagai Menpen, termasuk saat merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Golkar (1993-1998).

Pada fase ini terjadi paradoks, sebagai figur dengan kapasitas intelektual serba terbatas, namun karena ada gerbong besar kekuasaan di belakangnya, Harmoko bisa menaklukan jurnalis besar yang secara intelektual sudah diketahui publik, yaitu Goenawan Mohammad  (GM) dan Eros Djarot. Apa hendak dikata, sungguh sebuah kecelakaan sejarah tiada tara, salah satu yang bisa dikenang ketika Harmoko menjadi Menpen, adalah saat menutup untuk selamanya penerbitan majalah Tempo dan tabloid Detik, pada Juni 1994.

Tentu saja GM (Pemred Tempo) dan Mas Eros (Pemred Detik) paham sepenuhnya, bahwa penutupan medianya bukan kehendak Harmoko, baik sebagai menteri maupun sebagai pribadi, bahwa itu adalah titah langsung kekuasaan (baca: Soeharto). Bagaimana mungkin Harmoko akan tega menutup sebuah media, karena dia sendiri adalah mantan jurnalis, yang selama bertahun-tahun mencari nafkah dengan menjadi kuli tinta. Artinya dengan ditutupnya sebuah media, terlebih media mapan seperti Tempo, ada berapa mulut anak-anak bangsa yang kebutuhan gizinya bakal terancam, karena sangat bergantung pada media tempat ayah atau ibu mereka bekerja.

Kita harus berani mengatakan, narasi yang berkembang selama 14 tahun Harmoko menjadi Menpen, boleh disebut datar-datar saja atawa generik, semisal pengumuman kenaikan harga BBM, kenaikan harga sembako atau soal gaji bulan ke-13 bagi PNS (kini disebut ASN). Sementara untuk pengumuman untuk isu yang lebih strategis, biasanya  disampaikan oleh Moerdiono (Menteri Sekretaris Kabinet), seperti berita pembebasan tiga tokoh era Orde Lama, yakni Soebandrio (mantan Menlu, Kepala Badan Pusat Intelijen), Omar Dani (mantan KSAU), dan Brigjen Pol Soetarto Kolopaking (Wakil Kepala Badan Pusat Intelijen).

Setelah berakhirnya era Orde Baru, Harmoko adalah menteri yang paling sering menjadi bahan olok-olok. Saya kira ini kurang fair, bahwa dalam setiap rezim selalu ada tokoh yang berperilaku seperti itu, yaitu mengikuti kemana angin bertiup. Sebut saja tokoh seperti Ruslan Abdulgani dan Letjen TNI Amir Machmud, yang di masa Orde Lama dikenal sangat setia pada Bung Karno, namum bisa berbalik arah, sehingga tetap mendapat posisi baik pada rezim Soeharto.

Olok-olok paling “menyakitkan” tentu akronim nama Harmoko, yang kita masih ingat dimulai dengan “hari-hari…”, apa kelanjutannya kita semua sudah tahu. Sementara karier politik Harmoko bisa dibaca dengan sudut pandang lain, bahwa hari-hari Harmoko senantiasa penuh keberuntungan. Seperti promosi seseorang pada posisi strategis, selain kompetensi dan kecerdasan, dia juga harus memiliki keberuntungan, dan itu sudah dimiliki Harmoko.

BACA JUGA Hitam-Putih Gelar Pahlawan Nasional Pak Harto dan artikel menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2021 oleh

Tags: harmokomentri peneranganorbaOrde BaruSoeharto
Aris Santoso

Aris Santoso

Pengamat militer

Artikel Terkait

Nasib buruh usai Marsinah jadi pahlawan nasional. MOJOK.CO
Ragam

Suara Hati Buruh: Semoga Gelar Pahlawan kepada Marsinah Bukan Simbol Semata, tapi Kemenangan bagi Kami agar Bebas Bersuara Tanpa Disiksa

12 November 2025
Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional MOJOK.CO
Ragam

Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional. Sejarawan: Pragmatis dan Keliru

11 November 2025
Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'.MOJOK.CO
Ragam

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: ‘Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku’

10 November 2025
Alasan Soeharto tak layak dapat gelar pahlawan, referensi dari buku Mereka Hilang Tak Kembali. MOJOK.CO
Aktual

Buku “Mereka Hilang Tak Kembali”, Menyegarkan Ingatan bahwa Soeharto Tak Pantas Dapat Gelar Pahlawan, tapi Harus Diadili

1 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.