MOJOK.COSetiap zaman memiliki semangatnya sendiri, yang mungkin tak bisa diulang di kemudian hari. Seperti era Soe Hok Gie atau Soe Hok Jien alias Arief Budiman.

Bagi gerakan mahasiswa era 1980-an, salah satu tanda dan semangat dimaksud adalah soal kehadiran kakak-beradik Arief Budiman (Soe Hok Jien) dan Soe Hok Gie. Dalam sejarah gerakan mahasiswa, tidak berlebihan rasanya bila kakak-beradik Arief Budiman dan Soe Hok Gie disebut sebagai legenda.

Memasuki dekade 1980-an, gerakan mahasiswa Indonesia sebenarnya sedang meredup, sehubungan tindakan represif rezim Orde Baru. Namun di tengah situasi suram tersebut, secara kebetulan, keduanya muncul dengan cara masing-masing.

Gie memang sudah meninggal pada Desember 1969, namun catatan hariannya yang monumental itu terbit pada awal 1980-an (Catatan Harian Seorang Demonstran, LP3ES, 1983). Terbitnya buku ini, harus diakui, kembali menghidupkan semangat aktivis gerakan mahasiswa, khususnya dari generasi 1980-an.

Pada saat yang hampir bersamaan, Arief Budiman baru saja pulang studi dari kampus terkenal di Amerika Serikat (Harvard), dan kemudian memilih mengajar di UKSW di Salatiga. Pemikiran Arief Budiman yang “kiri” telah memicu kegairahan diskusi intelektual muda masa-masa itu, yang sebagian juga merangkap sebagai aktivis gerakan mahasiswa.

Pemikiran Arief Budiman dan terbitnya buku harian adiknya, telah memberi dampak besar pada gerakan mahasiswa 1980-an, yang kontinuitasnya masih bisa dilacak hingga tumbangnya rezim Orde Baru pada Mei 1998.

Menjauh dari Jakarta

Obituari ini saya tulis hanya beberapa jam setelah pemakaman Arief Budiman, yang meninggal siang ini di Salatiga (23 April 2020). Saya kenang kembali masa-masa awal perkenalan dan kebersamaan dengan beliau, mulai pertengahan 1980-an, sampai menjelang beliau berpulang. Saya sendiri biasa memanggilnya Pak Arief, mengikuti kebiasaan mahasiswa beliau di UKSW.

Seperti kebanyakan penulis atau cendekiawan, kita biasanya lebih dahulu mengenal tulisannya, baru kemudian (bila ada kesempatan) bisa berkenalan secara langsung. Sembari mengajar di UKSW, Pak Arief rajin menulis di media cetak dan majalah, saat itu memang belum dikenal media daring. Tulisan beliau telah mempesona sejumlah besar mahasiswa, termasuk saya sendiri, hingga saya berangan-angan untuk mengenalnya secara langsung.

Sekitar tahun 1984, saya mendengar Pak Arief akan menjadi narasumber pada diskusi internal di LSP (Lembaga Studi Pembangunan), sebuah lembaga penelitian pimpinan Adi Sasono (almarhum), di daerah Kebon Jeruk (Jakarta Barat).

Rasanya lembaga ini sekarang sudah tidak aktif lagi. Kantor LSP lumayan jauh dari kampus FSUI (kini FIB UI) di Rawamangun, tempat saya bersekolah selepas SMA. Namun karena begitu inginnya bertemu Pak Arief, saya bersikeras untuk datang, dengan menumpang angkutan umum, dan harus transit di bundaran Palmerah.

Dalam kesempatan ngobrol informal di LSP, saya menyampaikan niat untuk diskusi lebih lama. Pak Arief mengiyakan dengan nada simpatik, beliau mempersilahkan pada mahasiswa yang hadir siang itu, untuk mampir ke ruang kerjanya di kampus UKSW, bila pas ke Salatiga.

Setelah itu saya sering “sowan” beliau di Salatiga, dan sudah tak terhitung lagi berapa kali saya bertemu beliau, mengingat saya sendiri sempat mukim pula di Salatiga (1988-1989).

Baca juga:  Pro dan Kontra Galang Dana Prabowo, KPU Tidak Masalah Asal Tidak atas Nama Hamba Allah

Tentu banyak aspek yang bisa saya ceritakan soal beliau, namuan salah satu yang unik, adalah latar belakang pendidikan (S-1) di Fakultas Psikologi UI. Saya baru sadar saat menulis obituari ini, ternyata mentor (pergerakan mahasiswa) saya saat itu, ada beberapa yang berasal dari Psikologi UI. Selain Pak Arief Budiman ada (Mas) Jodi Wuryantoro dan (Mas) Didi Sutomo (tidak sempat selesai).

Sejak lama Fakultas Psikologi UI memiliki citra sebagai kampus yang kosmopolitan, khususnya pada kelompok mahasiswinya, selain cantik-cantik, juga pintar, dan umumnya berlatar belakang keluarga terpandang di Jakarta. Namun citra tiga orang mentor saya ini jauh dari kesan itu, penampilan (terutama pakaian) mereka sangat sederhana, dan yang lebih unik lagi, mereka tinggal jauh dari Jakarta.

Mas Didi misalnya, membuka kantor LSM (skala menengah) di Delanggu, Klaten. Mas Didi sengaja menjauh dari Jakarta, dan mendirikan lembaga agak ke pelosok, terkait latar belakangnya sebagai aktivis Malari 1974, jadi memang sengaja menghindar dari pantauan aparat.

Ketika saya mampir ke kantor Mas Didi, jejaknya sebagai eksponen Fakultas Psikologi UI, sama sekali tak terlihat. Dia lebih sering memakai baju hitam-hitam, seperti pesilat, dan bila ngobrol lebih banyak bahasa daerah (jawa), padahal setahu saya dia aslinya anak Jakarta. Rupanya sudah terjadi metamorfosis pada dirinya, dia secara sengaja menghilangkan jejaknya sebagai bagian dari kultur mahasiswa UI.

Demikian juga dengan Mas Jodi. Sama dengan Mas Didi, Mas Jodi juga seorang tokoh Malari. Rekam jejak Mas Jodi lebih meyakinkan lagi, dia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi UI pada awal 1970-an.

Saat Malari, dia menjadi Wakil Sekjen DMUI, di masa kepemimpinan Hariman Siregar (FKUI). Kemudian saat DMUI dijabat Dipo Alam (1977), Mas Jodi menjadi Sekjen. Namun ketika saya jumpa di Solo sekitar tahun 1987, karisma atau citra Mas Jodi sebagai tokoh gerakan mahasiswa (khususnya Fakultas Psikologi UI), sudah tidak terlihat.

Sama dengan Mas Didi, dia seperti telah melakukan “bunuh diri kelas”, atau istilah zaman sekarang disebut telah meninggalkan zona nyamannya.

Tentu saja tiga orang eks-Psikologi UI ini sering komunikasi, selain karena secara geografis saling berdekatan, juga sama-sama bersikap kritis terhadap rezim Orde Baru. Mas Jodi terlebih dahulu meninggal, yakni pada Juni 1995 di Jakarta, dan kemudian dimakamkan di Klaten.

Bila jejak mahasiswa kedokteran dalam pergerakan mahasiswa, mungkin kita tidak asing lagi, sejak masa Budi Utomo (1908), hingga Malari. Namun untuk eksponen psikologi, diam-diam mulai berperan juga, setidaknya bagi saya pribadi.

Ada tiga mahasiwa FKUI yang menjadi tokoh Malari, yakni Hariman Siregar (Ketua Umum DMUI). Judilheri (Sekjen DMUI), dan Gurmilang Kartasasmita (Ketua SM FKUI). Hariman dan Gurmilang masih menjadi mentor bagi aktivis mahasiswa generasi berikutnya, sama seperti yang dilakukan Pak Arief, Mas Didi, dan Mas Jodi.

Pertemuan terakhir

Karakter Pak Arief Budiman yang begitu idealis rupanya tidak cocok dengan birokrasi di kampus tempatnya mengajar, yang cenderung pragmatis, khususnya dalam hal penggalangan dana bagi pengembangan dan operasional kampus. Dalam pandangan Pak Arief itu sama saja dengan komersialisasi kampus. Akhirnya terjadi konflik berlarut, yang menjadikan (dengan terpaksa) Pak Arief meninggalkan UKSW, untuk kemudian mengajar di Australia.

Baca juga:  Selamat Jalan, Benny!

Seingat saya, saat gelombang reformasi terjadi pada Mei 1998, Pak Arief tidak melihat langsung momen bersejarah tersebut, sebab sedang tinggal di Australia. Sebenarnya sayang, bila Pak Arief tidak menyaksikan langsung, mengingat ada pula kontribusinya pada jatuhnya rezim Orde Baru, setidaknya dalam hal pemikiran dan inspirasi.

Sejak awal reformasi sampai tahun 2000-an, saya bergabung di Komunitas Utan Kayu (KUK), yang berkantor di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur. Motor utama sekaligus pendiri (utama) KUK adalah wartawan senior Gunawan Muhamamad (Mas Gun), yang kebetulah sempat kuliah bersama Pak Arief di Fakultas Psikologi UI juga di tahun 1960-an.

Saya bisa bergabung di KUK karena diajak sahabat saya sejak lama, yakni Stanley Adi Prasetyo (terakhir Ketua Dewan Pers), yang sudah menjadi salah satu pimpinan di KUK. Stanley adalah mantan aktivis mahasiswa di Salatiga, sehingga hubungannya sangat dekat dengan Pak Arief. Stanley salah satu pendiri KUK juga, sehingga untuk pengisian formasi awal KUK, Stanley mengajak beberapa teman eks Salatiga, termasuk saya.

Meski Pak Arief sudah jauh di Australia, komunikasi masih terus berlangsung, biasanya lewat Stanley. Kami (murid eks Salatiga) masih bisa ngobrol langsung dengan Pak Arif di Utan Kayu, saat beliau mampir ke kantor. Itu biasanya Pak Arief lakukan saat transit di Jakarta (dari Australia), sebelum pulang ke Salatiga. Bahkan teman-teman sempat memperoleh hibah  dari Pal Arief untuk sebuah proyek penelitian “Warisan Rezim Soeharto”.

Pada akhirnya Pak Arief pensiun mengajar dari Australia, dan kembali menetap di Salatiga. Selepas pensiun ini, saya sudah mendengar, kondisi kesehatan Pak Arief mulai tidak stabil. Kami, para murid-muridnya tentu sangat prihatin, sehingga ada gagasan untuk menjenguk beliau, sembari memberi semangat dan penghiburan.

Kami berkumpul di rumah beliau di Salatiga, pada 13 Januari 2018, yang kebetulan dekat-dekat dengan HUT beliau ke-77. Ketika saya melihatnya secara langsung, hati saya tentu sedih, yang ada di depan saya bukan lagi Pak Arief yang dulu berbicara dengan analisis tajam, enerjik, dan dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Pak Arief yang saya lihat hari itu, sudah duduk di kursi roda, komunikasi sulit, serta lupa dengan nama-nama kami semua.

Tapi dengan kehadiran mantan muridnya-muridnya, hitungan kasar saya sekitar 70 orang, Pak Arief terlihat gembira, meski sudah sulit berkata-kata. Itu adalah hari yang akan saya ingat seumur hidup, karena pada hari itulah saya bertemu (langsung) Pak Arief untuk terakhir kalinya, yang kebetulan juga bertepatan dengan HUT saya (13 Januari).

Kini Pak Arief telah pergi untuk selamanya, semoga beliau menemukan kedamaian abadi di tempatnya yang baru.

BACA JUGA Arief Budiman: Intelektual Publik atau tulisan Aris Santoso lainnya.