Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tips Belajar IELTS dari Tukang Sayur Bergelar Master dari UIN Sunan Kalijaga yang Sudah Menjalani 6 Kali Ujian dan Tetap Gagal

Aziz oleh Aziz
30 Juli 2025
A A
IELTS Gagal 6 Kali Nggak Bikin Gentar Tukang Sayur Bergelar Master MOJOK.CO

ILUSTRASI IELTS Gagal 6 Kali Nggak Bikin Gentar Tukang Sayur Bergelar Master. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Memulai belajar IELTS

Singkat cerita, saya diterima sebagai Calon Penerima Beasiswa LPDP pada percobaan pertama. Tidak berselang lama, saya diterima sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga. 

Ini sebuah anugerah yang semakin membuat saya berani untuk menapaki fase kehidupan baru berikutnya: menikah. Sebagai penerima beasiswa jalur afirmasi, saya mendapat kesempatan belajar IELTS selama 6 bulan di UGM.

Saya masih ingat betul hari pertama pelatihan IELTS. Saat itu, saya menjalani pelatihan menggunakan Zoom Meeting. Masih baru menikah dan masih di rumah mertua, saya menghadapi pretest IELTS. Seorang tutor perempuan melontarkan pertanyaan kepada saya dalam Bahasa Inggris, “Please, introduce yourself!” 

Saya benar-benar kelabakan, bahkan untuk memperkenalkan diri. Meskipun sudah menerjemahkan 2 buku dari Inggris ke Indonesia, ternyata hal itu tidak cukup membantu. Hasilnya, saya mendapatkan skor 4, dari nilai tertinggi 9. 

Sebagaimana speaking, listening saya juga sama buruknya. Terlebih lagi mengerjakan soal akademik writing! Jangankan nilai 4, menulis dalam Bahasa Inggris saja saya tidak pernah. Apa yang akan dinilai jika dari 4 paragraf yang harus ditulis, saya hanya bisa menuliskan 2 kalimat? Saya mendapatkan skor 2 dari 9.

Sementara untuk reading, saya akui tidak buruk-buruk amat. Ketika pretest IELTS, saya terbantu pekerjaan saya sebagai penerjemah amatir. 

Walau begitu, ketika berhadapan dengan teks tentang hewan laut atau eksplorasi angkasa luar, misalnya, saya ternyata tidak memiliki perbendaharaan kata yang memadai. Semata karena background studi saya adalah topik-topik seputar studi Islam.

Official test IELTS pertama

Saya mengambil ujian resmi IELTS di Bandung. Kota ini saya pilih karena, berdasarkan rumor, tempat ujian IELTS di kota ini lebih mudah. Khususnya speaking ketimbang di lokasi tes di kota lainnya. Target saya adalah mendapatkan nilai overall 7.

Saya mengajak istri saya yang sedang hamil ke kota Bandung. Membaca selawat dan menunaikan salat Dzuha sebelum ke tempat ujian. Hasilnya, saya mendapatkan nilai 6. Sebuah pencapaian yang luar biasa sebenarnya mengingat saya memulainya dari overall 4. Tapi ya tetap saja itu berarti saya tidak memenuhi persyaratan administrasi kampus tujuan saya. 

Test kedua

Saya kembali mengambil perpanjangan kursus IELTS selama 3 bulan di UGM dengan pembiayaan dari LPDP. Pagi hari saya jogging sambil mendengarkan podcast berbahasa Inggris. Pukul 8 sampai 4 sore di UGM, dan malam harinya belajar soal-soal latihan secara mandiri. 

Saya berlangganan platform writing9 (writing9.com). Ini adalah sebuah aplikasi yang bisa menilai writing saya seharga Rp180-an ribu per bulan. Saya juga memiliki teman-teman yang mau latihan speaking setelah kelas di UGM selesai. 

Hasilnya, saya mengalami peningkatan yang signifikan. Tidak ada nilai yang di bawah 6, tetapi tidak ada yang mencapai skor 7. Artinya, saya tidak berhasil mencapai target skor minimal yang dibutuhkan perguruan tinggi tujuan saya.

Tes ketiga IELTS dan seterusnya

Saya terus belajar IELTS. Saat yang sama, saya dikarunia momongan. Di tengah kesibukan ngrumati bayi, saya terus meluangkan waktu belajar IELTS. 

Semua soal latihan dari Cambridge IELTS, dari buku seri 9 sampai 17 saya kerjakan semua. Jika dihitung, setidaknya saya telah melakukan setidaknya 36 latihan IELTS. Sembilan buku, dan setiap buku terdiri dari 4 latihan soal, saya kerjakan. Itu masih saya ulangi 2 sampai 3 kali.   

Iklan

Saya juga meminta kepada kaprodi di tempat saya bekerja sebagai dosen untuk mengajar Bahasa Inggris. Di sana, saya membagikan semua pengetahuan yang saya dapat tentang Bahasa Inggris. Sekaligus, saya juga praktik di dalam kelas bersama mahasiswa. Sebuah totalitas tak tertandingi. 

Karena sudah tidak bisa lagi meminta pelatihan IELTS ke LPDP, saya mengambil kursus yang ada di sekitar Jogja. Selain itu, saya juga ikut course berbayar dari tutor di Youtube yang berdomisili di London.

Dari mana uang untuk kursus itu? Ya tentu dari gaji saya yang senilai biaya tes IELTS. Saya bisa mengatakan bahwa gaji saya selama 1 tahun hanya digunakan untuk membiayai kursus dan test IELTS saja. 

Untuk sehari-hari, saya meminta istri untuk mencukupinya. Ya, kamu tak salah baca. Konstruksi sosial patriarkal agaknya tak berlaku di keluarga kecil saya.  

Walaupun demikian, saya benar-benar merasa lelah dan malu terutama kepada istri. Kenapa saya begitu bebal? Pingin putus asa, tetapi tidak bisa. Saya sudah terlalu jauh melangkah. Hidup saya benar-benar hanya untuk IELTS. Saya tidak sempat menulis esai ke media, bahkan projek terjemah saya terbengkalai lebih dari 1 tahun. 

Perkembangan yang terjadi kepada saya

Namun, di tengah tekanan seperti itu, saya menyadari satu hal. Saat itu, saya sudah bisa menulis, ngomong, dan mendengarkan percakapan para native speaker. Saya sudah tidak peduli lagi dengan materi bacaan, tentang black hole, ikan-ikan di laut dalam, atau struktur bangunan piramida di Mesir.

Perubahan ini terasa terutama ketika interview atau mengobrolkan proposal dengan calon supervisor dari kampus di Australia atau negara-negara Eropa. Saya bisa memahami dan menjelaskan topik riset saya. 

Satu-satunya hal yang menghentikan saya tidak lagi mengambil ujian IELTS adalah waktu pencarian LoA yang mulai mendekati hari H. Jika tak kunjung mendapatkan LoA, secara otomatis, saya dinyatakan gugur sebagai calon awardee. Akhirnya, dengan overall 6.5, saya realistis memilih kampus. 

Menjadi orang yang lebih berani

Terlepas dari nilai yang tidak tercapai, setidaknya 2 tahun belajar IELTS telah membawa saya menjadi orang yang berani berbicara. Misalnya menjadi moderator atau presenter dalam forum-forum akademik. Saya juga bisa menulis dan mendengarkan podcast tanpa perlu melihat subtitle. 

IELTS yang awalnya saya kira sebagai tangan kanan kolonialisme mungkin ada benarnya. Namun, harus saya akui bahwa tes kompetensi ini sangat mencerminkan di mana level Bahasa Inggris saya berada

Kini, anak saya sudah berusia 2,5 tahun dan artikel ini adalah tulisan pertama saya setelah bertapa mengarungi dunia IELTS. Jika Tuhan mengizinkan, saya sebentar lagi akan belajar di salah satu negara di Eropa bagian barat dengan nilai IELTS yang tidak pernah mencapai rata-rata 7.

Semoga bermanfaat!

Penulis: Azis

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Tips Belajar Bahasa Inggris dari yang Awalnya Bego Banget Sampai Bisa Kuliah ke Eropa dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2025 oleh

Tags: cara lolos IELTSIELTSLPDPpretest IELTSskor IELTStes IELTStips belajar IELTS
Aziz

Aziz

Dosen UIN Sunan Kalijaga, penerima beasiswa LPDP pada program PhD Kajian Divinity, University of St. Andrews, UK.

Artikel Terkait

Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO
Kampus

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO
Esai

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
Dari driver ojol dari supervisor. Perjalanan Ardi Alam Jabir kejar mimpi kuliah di Teknik Pertambangan UNHAS hingga bisa ke Jepang dan Tiongkok berkat Beasiswa LPDP MOJOK.CO
Kampus

Kuliah Teknik Pertambangan UNHAS hingga Dapat Beasiswa LPDP ke Tiongkok, Ubah Nasib Driver Ojol Jadi Supervisor

1 Januari 2026
4 alasan gagal lolos beasiswa kuliah LPDP. MOJOK.CO
Kampus

Mimpi Kuliah ke Luar Negeri sempat Terkubur karena Gagal Berkali-kali dapat Beasiswa, Akhirnya Lolos berkat Pelajaran Berharga

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

OTT Wali Kota Madiun

Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat

20 Januari 2026
Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
senar raket. mojok.co

Indonesia Masters 2026 Jadi Tempat Merawat Kenangan Keluarga, Rela Cuti Kerja demi “Napak Tilas” Mendiang Ayah di Istora

21 Januari 2026
cerita fresh graduate magang di kemkomdigi dapat gaji magang layak. MOJOK.CO

Pengalaman Fresh Graduate Magang di Instansi Pemerintah Kemkomdigi, Dapat Gaji Setara UMP tapi Harus Benar-benar Siap Kerja

23 Januari 2026
Penangkaran merak di Jogja City Mall. MOJOK.CO

Merak Bukan Lagi Sekadar Simbol Keagungan, tapi Teman yang Merakyat di Pojokan Mal Jogja

23 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.