Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lagu Sendu dari Tanah Minang: Hancurnya Jalan Lembah Anai dan Jembatan Kembar Menjadi Kehilangan Besar bagi Masyarakat Sumatera Barat

Lailatul Fadhilah Jamil oleh Lailatul Fadhilah Jamil
6 Desember 2025
A A
Lagu Sendu yang Mengiringi Banjir Bandang Sumatera Barat MOJOK.CO

Ilustrasi Lagu Sendu yang Mengiringi Banjir Bandang Sumatera Barat. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kenangan ibu akan jembatan kembar dan Jalan Lembah Anai

“Jalan Lembah Anai itu sudah ada sejak zaman Belanda. Sejak ibu lahir sampai hari ini, baru kali ini ia hancur lebur seperti itu. Bahkan sepertinya sebelum nenekmu lahir tak pernah ada kisah jalan itu jadi sedemikiannya.” Begitulah tutur ibu saat saya bertanya perihal usia Jalan Lembah Anai dan jembatan kembar.

Tahun ini, ibu saya berusia 52 tahun. Ibu bilang, jalan berkelok di Lembah Anai itu tak pernah putus seumur hidupnya. Ia selalu bisa bertahan.

Pertama, saat bencana galodo selepas meletusnya Gunung Marapi. Kedua kalinya saat bencana banjir bandang menghantam beberapa daerah Sumatera Barat. Dua tahun lalu, galodo juga menghantam Jalan Lembah Anai dan meratakan segala yang ada di tepiannya. 

Debit air sungai yang mengalir beriringan dengan jalan itu meningkat drastis dan membawa batu-batu besar dari gunung. Kolam renang yang menjadi ikon jalan itu pun turut raib sejak peristiwa itu. Termasuk rumah makan Famili yang menjadi salah satu ampera terenak menurut selera saya. Kini, lidah saya sudah tak pernah lagi disinggahi belut lado hijau yang mantap itu.

Kolam renang yang berbaris di sepanjang Lembah Anai, yang menjadi warna khas jalan itu kini juga sudah tiada. Saya yakin betul, hampir semua generasi di Minang dan Sumatera Barat hari ini, minimal satu kali, pernah berenang di sana. 

Hari ini, kolam itu hanya tersisa puing-puingnya. Itu saja sepertinya sudah habis dibawa arus sungai. Yang benar-benar tersisa saat ini hanyalah kenangan kami yang tumbuh besar dengan menyelam di air dinginnya. 

Entah sudah berapa anak Minang yang jadi bisa berenang berkat keberadaan kolam murah-meriah pinggir jalan itu. Sayang sekali, anak-cucu kami nanti sudah tak bisa lagi merasakan betapa serunya main air dingin betul airnya itu sambil ditonton oleh kendaraan yang lewat.

Lagu sendu dari tanah Minang

Melihat usia Jalan Lembah Anai yang panjang umur dan baru sakit-sakitan sekarang, tentu saja kita layak untuk menduga-duga penyebab kerusakannya. Sungai yang menjadi pendamping jalan itu bersumber dari dua gunung terdekat yang belakangan juga suka mengamuk: Marapi dan Singgalang. 

Dua gunung ini, bila di Pulau Jawa, sudah layaknya Sumbing dan Sindoro. Gunung kembar yang gagah berhadap-hadapan. 

Yang membedakannya, Singgalang adalah gunung yang sudah tidak aktif lagi. Berbeda dengan pasangannya sendiri, Marapi. Meski begitu, dua tahun lalu, Singgalang tetap berkontribusi menyumbang galodo. 

Curah hujan yang tinggi dan tak terbendung membuat volume air yang turun dari gunungnya teramat deras dan membawa batu-batu besar. Nah, yang disebut galodo oleh masyarakat Minang dan Sumatera Barat adalah bencana serupa ini.

Ibu juga pernah berkisah. Saat masih kecil, ketika melihat ke arah dua gunung itu, warna yang tampak adalah hijau tua kebiruan. Ini menandakan populasi pohon di sana masih berbentuk hutan. 

Namun, bila sekali-kali main ke daerah ini dan memandang dua gunung itu, kalian akan melihat bahwa hampir ke area perut gunung, sudah tak lagi tebal dan rimbun. Tower dan petakan lahan menggantikan hutan. Membuatnya terlihat gundul jika melihatnya dari bawah. Belum lagi soal isu pengerukan pasir di Gunung Marapi. 

Malah belakangan ada kabar kalau proyek geothermal sudah ikut merasuki dua gunung yang kerap dikutip dalam lagu-lagu sendu ranah Minang ini. Haduh. Tak heran bila si bunian berang dan mengirim petaka. Ke depannya, bisa jadi Manusia Harimau di kampung ini juga ikutan ngamuk!

Iklan

Mitos yang tak lagi hidup di Sumatera Barat

Dulu, ada banyak mitos yang hidup di tanah Minang dan Sumatera Barat. Misalnya, jangan main ke hutan, nanti diculik bunian, makhluk mitologi penghuni Gunung Marapi. Atau, jangan tebang pohon di sana, itu ada penunggunya. Bisa juga, jangan keruk pasir di gunung itu, nanti diterkam inyiak, sebutan untuk harimau, binatang yang “disegani” oleh masyarakat pegunungan Minang. 

Orang zaman dulu melestarikan mitos seperti ini dengan tujuan yang baik, yaitu menjaga alam. Namun sayang, mitos dengan muatan luhur seperti ini tak lagi hidup di Minang dan Sumatera Barat pada umumnya. Gelimang harta dan mandi uang dengan merusak alam lebih menggairahkan ketimbang usaha belajar menjaga alam.

Oleh sebab itu, terkadang, saya berharap mitos ini sungguhan terjadi atau memberi dampak seperti yang diinginkan. Semata-mata supaya orang punya “rasa takut” dan tidak serakah.

Misalnya, jika ada yang merusak hutan atau menambang secara biadab, ada “hantu” yang akan menyunat “barang” mereka sampai ke akarnya. Lalu, mitos itu terjadi betulan. Saya yakin, pejabat brengsek dan rakus di pusat itu lebih takut “barang”-nya hilang ketimbang masuk bui. 

Eh, masih “punya barang”, ya? Atau sudah hilang dahulu kala di hutan yang berbeda? 

Penulis: Lailatul Fadhilah Jamil

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bencana Alam Disebabkan Negara, Rakyat yang Diminta Menanam Kemunafikan dan cerita menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 6 Desember 2025 oleh

Tags: banjir bandangbencana banjirgunung marapijalan lembah anaijembatan kembarminangsumatera barat
Lailatul Fadhilah Jamil

Lailatul Fadhilah Jamil

Content Creator Penerbit Buku Mojok Grup. Menyukai seni, sastra, warna pink, dan juga musik punk. Terkadang ngonten di akun sendiri walaupun belum jadi influencer kondang.

Artikel Terkait

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO
Esai

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

11 Februari 2026
Penyebab banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Kilas

Alasan di Balik Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan karena Aktivitas Tambang, tapi Murni Faktor Alam

29 Januari 2026
Hari ibu adalah perayaan untuk seluruh perempuan. MOJOK.CO
Aktual

Ironi Perayaan Hari Ibu di Tengah Bencana Aceh dan Sumatra, Perempuan Makin Terabaikan dan Tak Berdaya

24 Desember 2025
Derita Warga Bener Meriah di Aceh: Terisolir, Krisis Pangan, Ditipu. MOJOK.CO
Ragam

Sepekan Lebih Warga di Bener Meriah Aceh Berjuang dengan Beras 1 Kilogram dan Harga BBM yang Selangit

9 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang desa ogah bayar pajak motor (perpanjang STNK) di Samsat MOJOK.CO

Orang Desa Ogah Bayar Pajak Motor (Perpanjang STNK), Lebih Rela Motor Disita daripada Uang Hasil Kerja Tak “Disetor” ke Keluarga

19 Februari 2026
Barongsai di bandara saat imlek. MOJOK.CO

Semangat Tahun Kuda Api bikin Trafik Penumpang Milik InJourney Melambung 10 Persen Saat Imlek 2026

19 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.