Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Emang Kenapa Kalau Saya Norak Instastory di Bioskop?

Mahendra Wirasakti oleh Mahendra Wirasakti
29 November 2017
A A
Norak_di_Bioskop

Norak_di_Bioskop

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Jadi norak dan kampungan di bioskop adalah hak segala bangsa.”

Sebagai mahasiswa berdompet pas-pasan yang tngah magang jadi netizen, jujur saya agak panas baca tulisan Mbak Nia tentang kelakuan menyebalkan netizen di bioskop, terutama ketika aksi merekam film di bioskop disindir.

Menurut saya, ada beberapa alasan mengapa orang suka merekam di bioskop lalu  membagikannya di media sosial. Lewat tulisan ini, saya mencoba menyusun pleidoi atas nama kaum-kaum kebelet eksis yang merasa tersinggung dengan tulisan Mbak Nia tersebut.

Jadi begini, Mbak, saya nggak habis pikir, kok ada ya orang yang punya pemikiran kayak kamu? Di Indonesia ini kan ada hukum tidak tertulis bahwa “aturan ada untuk dilanggar”, lha kok Mbak ini malah sok-sokan mau taat aturan? Jangankan kita netizen ecek-ecek, itu wakil gubernur kebanggaan Ibu Kota saja, jelas udah dibuatin aturan kalau harus pakai pantofel warna hitam, dia pakainya sepatu kets. See?

Begitu dikritik, apa jawabannya? Tepat, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, jawabannya mengesankan ia tidak tahu bahwa ada aturan yang mengatur soal sepatu. Itu jawaban wakil gubernur pilihan umat lho. Jelas nggak akan salah meski melanggar aturan.

Selain itu, saya ini masih kuliah. Tahu sendirilah, Mbak, mahasiswa itu uangnya pas-pasan. Buat makan aja, kalau bisa nyusup ke nikahan orang. Mana sempat saya mikir buat nonton di bioskop?

Tapi, ada sih golongan mahasiswa yang sesungguhnya mereka ini anak kos, tapi justru lebih hedon dari pada golongan mahasiswa yang anak rumahan. Dan dari golongan mahasiswa yang seperti itulah saya bisa nonton bioskop gratisan dengan bermodal wi-fi kampus. Bayangkan kalau semua orang taat aturan, mahasiswa macam saya mau dikemanain? Toh niat mereka juga baik, selain pamer kalo mereka lagi nonton di bioskop, juga beramal via media sosial untuk orang-orang susah macam saya.

Untuk perkara menaikkan kaki di atas kursi dan mainan hape di dalam bioskop, saya bingung, masalahnya di mana ya, Mbak? Masalah sopan santun? Kesusilaan? Emangnya di zaman yang udah serba-individualis ini, hal itu masih berlaku? Yang penting kenyamanan pribadi, Mbak.

Kita nggak tahu lho, yang suka naikin kaki di atas kursi itu sehabis nonton mau ngapain. Bisa aja setelah dari bioskop mereka mau main futsal atau main egrang. Jadi selama di dalam bioskop, kaki mereka kudu rileks, Mbak. Kan lumayan juga ada kepala, bisa buat latihan nendang bola. Yang punya kepala tersinggung? Bodo amat, toh masuk ke dalam juga sama-sama beli tiket. Beres.

Kita tahu sama tahulah bahwa mereka yang suka mainan hape di dalam bioskop itu pengin dikit-dikit update kegiatan mereka biar eksis. Sekarang ini, kalau nggak eksis di media sosial, bisa disangka alien, Mbak. Mending kalau disangka alien, kalau disangka orang pintar? Bisa repot. Sudah jadi anggapan umum kalau orang pintar di negara ini selain mudah dimusuhi, juga susah dapat tempat, Mbak.

Banyak yang tahu, mereka yang sering dapat tempat ya orang yang keluarganya punya banyak koneksi di sektor pemerintahan atau sektor swasta, kayak Ibas. Mau bukti kalau orang pintar itu suka dimusuhin? Bisa Mbak googling sendiri kasusnya Alif dan Ibu Siami deh. Kasus itu bukti kalau di negara ini, jadi pintar itu sudah merupakan masalah, apalagi kalau ditambah punya sifat jujur, jadi kutukan namanya.

Terus mbaknya kok sewot kalau ada orang tua yang bawa anaknya nonton film di bioskop? Mana mau para orang tua itu sekadar membaca ulasan film sekilas. Bagi mereka, mereka itu datang, bayar, lalu nonton. Kalau ada konten yang tidak sesuai untuk anak di bawah umur, tinggal komplain, habis perkara. Dampak terhadap anak ke depannya? Ora urus, kan yang penting udah komplain ke pihak bioskop selaku pemutar film.

Yang penting nonton film yang ngehits di media sosial dan nggak dicap ketinggalan tren sama yang lainnya. 

Lagian, Mbak ini bawa-bawa kasus perusahaan film anime di Jepang sono yang katanya terpaksa menghentikan pemutaran film karena maraknya penyebaran film yang dibagikan di media sosial segala. Harusnya Mbak berterima kasih sama kami semua. Di Jepang orangnya rata-rata nggak seiman sama alumni. Yah, you know who, takut dipersekusi saya kalau nyebutin secara gamblang. Produk orang yang nggak seiman itu jelas harus diboikot. Dan karena produknya berupa film, cara boikotnya dengan direkam dan disebar di media sosial.

Semua ini demi kepentingan umat, dan ini langkah konkret biar nggak dicap boikot musiman yang cuma dikampanyekan waktu Palestina diserang Israel. Peduli setan kalau telepon genggam, kendaraan, bahkan makanan yang dikonsumsi itu kebanyakan justru diimpor dari negara-negara yang nggak seiman. Boikot adalah kunci.

Iklan

Jadi begitu ya, Mbak. Semoga nggak ada lagi orang yang sok-sokan mau taat aturan kayak mbaknya. Mau jadi apa negara ini kalau orang yang taat aturan kayak Mbak Nia ini semakin banyak? Jadi makin maju?

Terakhir diperbarui pada 30 November 2017 oleh

Tags: bioskopFilmfilm indonesiafilm superheronontonnonton bioskopnonton film
Mahendra Wirasakti

Mahendra Wirasakti

Artikel Terkait

Sinefil.MOJOK.co
Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO
Catatan

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
Bioskop NSC Rembang, bangunan kecil di tanah tandus yang jadi hiburan banyak orang MOJOK.CO
Catatan

Bioskop NSC Rembang Jadi Olok-olokan Orang Sok Kota, Tapi Beri Kebahagiaan Sederhana

1 Desember 2025
Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara dalam Mobil! Mojok.co
Pojokan

Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara!

8 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Real Jual Tanah untuk Membeli Innova Reborn Menjadi Pilihan Terbaik bagi Orang Bodoh karena yang Penting Bisa Investasi

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.