MOJOK.CO – Di studio saya dipaksa presisi, di hari Lebaran saya dituntut matang. Padahal lewat scoopable cookies, kue lembek yang nggak sempurna, saya belajar bahwa menjadi setengah matang pun tetap bisa dinikmati.
Sebagai mahasiswa desain interior, hidup saya adalah simulasi kesempurnaan yang melelahkan. Di depan AutoCAD, garis melesat satu milimeter adalah aib. Hasil render 3D dengan pencahayaan yang tidak matang adalah kegagalan.
Kami dididik menyajikan hasil akhir yang “selesai” tanpa cela. Sialnya, ekspektasi studio ini terbawa ke meja makan Lebaran. Di depan keluarga besar, pertanyaan “kapan lulus?” atau “kapan punya gandengan?” dilemparkan seolah hidup saya adalah proyek interior yang deadline-nya harus rampung sebelum toples nastar kosong.
Bagi keluarga, saya harus segera “matang”. Tapi bagi saya yang sudah muak dengan segala presisi di studio, kedamaian justru ditemukan pada sesuatu yang sengaja saya tidak selesaikan: underbaked scoopable cookies. Kue viral yang sengaja dibuat setengah matang ini adalah deklarasi kecil saya.
Saat dunia menuntut saya sekeras nastar yang matang sempurna, saya memilih menjadi cookies yang lembek dan berantakan. Ini cara saya memberi tahu tante dan asisten dosen sekaligus: ada kebahagiaan yang valid pada hal-hal yang belum selesai, belum mapan, dan tentu saja belum “matang”.
Melawan mentalitas generasi tua di Surabaya yang nggak suka kue lembek
Perlawanan ini adalah misi beresiko tinggi di Surabaya. Lidah orang sini nggak suka hal tanggung. Makan penyetan harus pedas ndower, bicara harus blak-blakan.
Pokoknya harus mantep – sebuah standar lokal yang mengharuskan segala sesuatu memiliki karakter kuat tanpa kompromi. Jadi, saat memperkenalkan cookies yang “plin-plan” mirip adonan gagal, saya sudah siap mental disemprot keluarga sendiri.
Bagi orang Surabaya asli, kue yang bener itu ya teksturnya jelas: garing sekalian atau empuk seperti spiku. Mereka besar dengan “rezim” kue kering tradisional yang merajai meja Lebaran.
Nastar, kastengel, atau biskuit mentega dalam kaleng legendaris punya tekstur “tegas”. Mereka didesain agar awet berbulan-bulan di dalam stoples. Konsekuensinya, kue Lebaran ini sering kali kering dan bikin tenggorokan seret kalau tidak segera didorong segelas sirup merah yang es batunya sudah separuh mencair.
Mungkin, ini representasi mentalitas generasi tua di Surabaya. Bagi mereka, awet adalah simbol kualitas. Hidup harus praktis dan tahan banting, tidak boleh terlihat “lembek” sedikitpun. Maka, konsep underbaked ini dianggap sebagai bentuk ketidakefisienan hidup.
“Iki kue opo to? Kok koyok adonan gagal mbenyek ngene? Dipangan kok nggawe sendok koyok bubur bayi!” (Ini kue apa sih? Kok seperti adonan gagal yang benyek begini? Dimakan kok pakai sendok seperti bubur bayi!). Celetuk tante saya, menatap heran cookies yang hanya bisa dinikmati dengan bantuan sendok itu.
Saya hanya bisa nyengir sambil meraih kembali gelas yang berisi sirup merah yang es batunya sudah separuh mencair tadi. Kali ini, saya menenggaknya bukan karena seret habis makan nastar, melainkan karena dada yang mendadak sesak mendengar vonis “gagal” pada mahakarya saya.
Namun, sebagai Gen Z yang lelah dengan doktrin tegak lurus, selera saya berontak. Saya tidak lagi mencari “stok logistik” Lebaran yang kaku, melainkan comfort food yang lumer di lidah.
Pesan bawah sadarnya: di tengah kota yang orang-orangnya bicara dengan urat leher tegang, saya berhak mendapatkan kelembutan, meski hanya dari sekeping kue setengah matang yang viral di Tik Tok.
Cuaca Surabaya yang membuat kue mleyot sebelum waktunya
Proses eksperimen membuat scoopable cookies ini makin dramatis karena cuaca Surabaya belakangan ini sedang “panas ngentang-ngentang”– istilah lokal untuk terik yang saking menyengatnya sampai bikin badan rasanya ikut terpanggang.
Di suhu yang sanggup mematangkan telur di luar ruangan ini, adonan mentega saya sering kali menyerah dan mleyot duluan bahkan sebelum menyentuh oven. Namun, di momen transisi saat panas berganti hujan deras yang bikin mager, dapur mendadak jadi tempat paling religius.
Di dapur, saya sebenarnya melakukan praktik arsitektur skala kecil. Bedanya, strukturnya disusun dari gluten dan mentega, bukan dari besi beton.
Tantangannya mirip merancang bangunan di lahan labil: bagaimana membuat “konstruksi” kue ini berdiri namun interiornya tetap chewy dan lumer?
Praktik ini ternyata jauh lebih menegangkan daripada asistensi konsep. Teknik underbaked, membutuhkan keberanian mental setara presentasi projek akhir.
Ada rasa was-was luar biasa saat melihat adonan masih tampak “basah” di oven – persis seperti horornya menunggu rendering belum kelar padahal deadline tinggal hitungan menit.
Tanpa meteran digital, keputusannya murni berdasarkan feeling, bau mentega yang mulai “pecah” dan pinggiran yang mulai golden brown. Mengangkat loyang di momen kritis adalah bentuk iman saya pada proses yang tidak tampak mata. Bagi orang lain ini mungkin “belum jadi”, tapi bagi saya ini adalah sebuah karya seni.
Aroma kue yang mengalahkan AutoCAD dengan telak
Aroma mentega yang memenuhi rumah adalah kemenangan kecil saya atas AutoCAD. Aplikasi satu itu biasanya selalu jadi musuh bebuyutan saya, mungkin selalu menang di studio, tapi di depan oven dialah yang kalah telak.
Saat dicicipi, tekstur underbaked itu hadir sempurna: luarnya garing tipis, namun dalamnya lumer dengan cokelat dan cream cheese. Di sini, tidak ada asisten dosen yang akan protes kalau bentuk kuenya sedikit “mleyot”. Selama rasanya enak, saya merasa lebih berdaya daripada aplikasi mana pun yang mendikte hidup saya.
Kemenangan ini ternyata punya landasan teori. Rahasia scoopable cookies sebenarnya terletak pada apa yang terjadi setelah ia keluar: carryover cooking.
Kue ini haram hukumnya langsung dimakan panas-panas. Ia harus didiamkan dulu selama beberapa menit agar mengalami proses pematangan mandiri menggunakan sisa panas yang masih tersimpan di dalam adonan. Dan disinilah titik temu paling religius dengan hidup saya sebagai mahasiswa desain.
Sering kali, kita merasa harus “matang” dan sempurna saat berada di bawah tekanan yang membakar – entah itu revisi studio tidak masuk akal atau ekspektasi sosial yang menuntut untuk selalu mantep.
Padahal, seperti cookies ini, proses menjadi versi terbaik justru terjadi saat kita ditarik keluar dari “oven” tekanan. Kita hanya butuh ruang bernapas dan waktu mendinginkan kepala, membiarkan diri “matang” tanpa perlu dipaksa suhu tinggi yang menyiksa.
Sesekali jadilah adonan cookies yang belum tuntas, berantakan di luar tapi hangat di dalam
Kini, saya kembali ke meja makan. Menyingkirkan sedikit ruang di samping laptop yang masih panas karena proses rendering yang belum kunjung usai. Saya menikmati satu suap scoopable cookies yang lumer, ditemani segelas susu dingin yang membasuh debu proyek di tenggorokan.
Dunia tidak akan runtuh hanya karena kita mengangkat loyang kehidupan sedikit lebih awal dari jadwal orang lain. Kita tidak selalu harus menjadi biskuit kaleng kering hanya agar tahan lama di rak pajangan masyarakat. Sesekali, jadilah seperti adonan kue yang belum tuntas ini, berantakan di luar, tapi hangat di dalam.
Sebab di tengah Surabaya yang panasnya makin nggak masuk akal dan hidup serba siku-siku, satu-satunya hal yang layak untuk tetap lembut adalah hati kita. Dan di dunia yang semakin keras ini, menjadi lembut dan sedikit “underbaked” adalah sebuah kemewahan yang hakiki.
Penulis: Fanny Simon
Editor: Agung Purwandono
Baca Juga: Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.













