Dear Warganet, UMR Karawang Tak Seindah Kenanganmu dengan Mantan

Kalau di Karawang, kerja di pabrik kayak Toyota atau Yamaha itu ya sama membanggakan di hadapan calon mertua layaknya profesi polisi atau tentara.

gaji umr

MOJOK.COBagi sebagian orang lokal, gaji UMR Karawang adalah sumber malapetaka. Ia menyumbang tren “apa-apa mahal” di kota lumbung padi ini.

Kamu pernah dong baca cuitan di Twitter yang kira-kira isinya begini, “Enak kali ya, gaji UMR Karawang, suasana Bali, biaya hidup Jogja.”

Dari premis “gaji UMR Karawang” ini warganet lalu memodifikasi nama-nama kota yang menurut mereka ideal. Misalkan, “suasana Kuningan, biaya hidup Planet Namex, gaji UMR Karawang,” atau, “suasana Konoha, biaya hidup Krypton, gaji UMR Karawang.” 

Sebagai orang yang tinggal, belum kawin, belum beranak, dan belum berbahagia di Karawang, saya tidak setuju.

Betul bahwa di tahun 2021, UMR Kabupaten Karawang masih ranking satu se-Indonesia. Per bulan, upah paling rendah yang diterima karyawan di Kabupaten Karawang (mengacu pada ketetapan Menteri Tenaga Kerja) adalah sebesar Rp4,7 juta. Sebagai perbandingan, Jakarta, kota impian banyak orang, hanya mencatat angka gaji terendah sebesar Rp4,4 juta.

Seorang kawan saya, menangis sepanjang malam selama satu tahun setelah putus dari hubungan yang dijalaninya selama tujuh tahun.

Awalnya ia merasa hidup tidak adil, negara tidak hadir. Sampai kemudian ia sampai pada pemahaman baru: mantan begitu indah dan hanya itu yang kita punya. Kamu boleh mengganti kata “mantan” dengan apa saja yang penting di hidup ini.

Dari kawan saya itu, dan barangkali hadirin pembaca sekalian yang sedang patah hati, kita perlu belajar bahwa kenyataan tidak seindah harapan. Termasuk UMR Karawang.

UMR di Karawang hanya ditaati betul-betul oleh industri besar. Bagi sebagian orang, UMR Karawang adalah sumber malapetaka. UMR Karawang menyumbang tren “apa-apa mahal” di kota yang dijuluki lumbung padi ini.

Seporsi makanan manusiawi harus ditebus minimal dengan uang Rp15 ribu di warteg dekat kampus. Di luar kampus tentu saja lebih mahal. Rata-rata harga nasi uduk Rp10 ribu per bungkus, kalau mau tambah bala-bala tambah uang Rp1.000. Parkir di minimarket bayar Rp2 ribu, parkir di gerai fast food tambah seribu jadi Rp3 ribu.

Perkara “apa-apa mahal” ini seperti snowball effect. Bagaikan Hanabi atau Lapu Lapu-nya Mobile Legend yang dibiarkan berkelana sampai late game.

Awal Oktober lalu, Wapres Ma’ruf Amin tiba-tiba muncul ke publik dan membuat pernyataan mengagetkan. Pak Wapres ini memang seperti jungle assassin. Jarang muncul, seringnya nge-jungle, sekalinya tampil di tivi auto savage.

Pak Wapres bilang ada lima kabupaten/kota di Jawa Barat yang penduduknya masuk dalam kriteria kemiskinan ekstrem. Salah satunya Kabupaten Karawang. Mendagri Tito Karnavian ikut memanasi. Pak Mendagri bilang ada 106.780 penduduk Karawang yang masuk kategori kemiskinan ekstrem atau sekitar 4,51 persen.

Soal beda kemiskinan ekstrem dengan “hidup di bawah garis kemiskinan”, Kepala BPS Karawang Budi Cahyono memberi keterangan jelas. Kemiskinan ekstrem adalah kondisi di mana pendapatan per kapita di bawah Rp11.941 per hari atau Rp358.230 per bulan.

Sekarang, coba bandingkan dengan UMR Karawang yang nilainya Rp4,7 juta. Itu berarti penghasilan 13 orang penduduk berpredikat miskin ekstrem setara dengan upah seorang buruh pabrik di level penghasilan paling rendah.

Belum selesai, Saudara-saudara. Di Kabupaten Karawang per tahun 2020, ada juga penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, atau berpendapatan Rp466.152 per bulan. Jumlahnya adalah 195 ribu jiwa.

Tentu fakta ini bikin kami warga Karawang jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin kota yang pernah dijuluki lumbung padi nasional mendapat predikat seperti ini? Padahal segalanya ada di sini. Sebut apa, kami ada.

Buka dompet kamu, keluarkan satu dua lembar uang kertas dari dalam. Duit di dompetmu itu diproduksi di Kabupaten Karawang. Di Karawang berdiri pabrik Peruri yang kerjanya mencetak duit untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia.

Itu baru urusan duniawi. Urusan kematian, kabupaten kami masih juaranya. Di sini berdiri Sandiego Hills, kawasan pemakaman elite se-Asia Tenggara. Satu liang lahat paling murah dibanderol Rp60 juta. Paling mahal berada di kisaran Rp1 miliar lebih sedikit.

Kami juga menyumbangkan minyak dan gas bumi untuk stok BBM negeri ini. Kilang dan pipa milik Pertamina tertancap di laut dan tanah Karawang. Ponsel atau laptop yang kamu pakai untuk membaca tulisan ini kemungkinan sumber listriknya bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di Cilamaya Karawang.

PLTGU Cilamaya ini punya slogan “Jawa Satu Power”. Artinya kurang lebih bila PLTGU ini tiba-tiba mogok kerja, listrik satu Pulau Jawa bisa padam. 

Urusan masa lalu, kami selangkah lebih maju dari Yogyakarta.

Di masa lampau, pernah berdiri kompleks percandian tertua di Pulau Jawa. Jumlahnya tidak hanya satu, tapi ada 24 candi. Membentang di dua kecamatan. Batujaya dan Pakisjaya. Luasnya mencapai ratusan hektare.

Mau ngomongin soal keberagaman? Karawang masih juaranya.

Di kompleks percandian Batujaya-Pakisjaya ditemukan arca Wisnu yang jadi corak agama Hindu. Di sana juga ditemukan fragmen prasasti terakota berisi mantram agama Buddha dengan huruf Pallawa berbahasa Sansekerta. Dan para peneliti juga menemukan menhir yang jadi ciri kepercayaan animisme-dinamisme.

Belum cukup sampai di situ. Penduduk Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya Karawang terkenal dengan kerukunan tiga agamanya. Islam, Kristen, dan Buddha.

Saat peringatan Maulid Nabi misalnya, umat Buddha dan Kristen ikut merayakan dan membantu umat muslim. Begitu pula sebaliknya. Di sini, menikah beda agama tidak jadi masalah. Masjid, gereja, dan vihara dibangun berdekatan.

Kami pernah dijuluki lumbung padi nasional. Alam kami sangat kaya. Kami punya Pegunungan Sanggabuana, beberapa pantai Utara. Segalanya ada, tapi apa-apa tetap mahal. Pilihan satu-satunya buat hidup layak dan masih bisa nyicil KPR hanya bekerja di pabrik.

Etapi tunggu dulu, Lur, karena…

…Kabupaten Karawang memiliki 13 kawasan industri. 

Ada ribuan pabrik yang berdiri di sini. Belum dihitung jumlah pabrik lain yang berdiri di luar kawasan industri. Data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Karawang per tahun 2018 terdapat 1.762 pabrik yang beroperasi di Karawang dan menyerap banyak tenaga kerja dari mana-mana.

Tolong garis bawahi kata “dari mana-mana” ya, sebab itu berarti warga lokal mesti bersaing dengan tenaga kerja luar daerah agar dapat bekerja di pabrik. Bagi putra-putri daerah, kerja di pabrik adalah pilihan satu-satunya atau terakhir. Jangan mentang-mentang kami pernah dijuluki lumbung padi, lantas kami jadi petani. Tidak sesederhana itu.

Anak-anak muda Karawang nyaris tidak mewarisi kemampuan bertani dari nenek moyang, lebih dari itu, lahan pertanian makin sedikit sebab berebut dengan perumahan dan fasilitas lainnya untuk menopang status baru sebagai kota industri.

Kira-kira kalau di Karawang, kerja di pabrik Toyota atau Yamaha sama membanggakan di hadapan calon mertua layaknya profesi polisi atau tentara. Sayangnya mencari kerja sesulit mencari pasangan hidup yang klop dengan kriteria orangtua.

DPRD Karawang bahkan harus membuat Perda “problematik” nomor 1 tahun 2011 tentang penyelenggaraan ketenagakerjaan.

Isinya, perusahaan yang beroperasi di Karawang dalam melaksanakan rekrutmen calon tenaga kerja harus mengutamakan kuota 60 persen untuk warga Karawang. Lalu 40 persen sisanya boleh warga luar Karawang.

Pemerintah daerah belum lama ini meluncurkan sistem informasi berbasis web untuk memastikan rekrutmen tenaga kerja dilakukan satu pintu demi membuka kesempatan bagi warga lokal.

Agak sulit membayangkan bagaimana bisa anak muda Karawang kesulitan mendapat kerja di kampung halamannya sendiri. Kenyataannya, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Karawang per tahun 2020, terdapat 134 ribu angkatan kerja yang menganggur dari total 1,16 juta angkatan kerja.

Tingkat partisipasi angkatan kerja di kabupaten yang punya pantai dan gunung ini mencapai 64,90 persen. Itu berarti dari 100 penduduk yang berumur 15 tahun ke atas, 65 di antaranya terserap lapangan kerja.

SMK yang jumlahnya bejibun di Karawang, yang menjanjikan “setelah lulus langsung kerja” sama tidak berdayanya. Per tahun 2020, 23 dari 100 lulusan SMK belum dapat terserap lapangan kerja. 

Pasangan muda Jakarta terutama Jakarta Selatan yang galau cicil rumah, tenang… kalian tidak sendiri. Di Karawang, 83,53 persen rumah tangga punya rumah sendiri. Sisanya mengontrak.

Jadi, tidak seperti kenangan bersama mantan yang kadang-kadang indah meski nyakitin, gaji UMR Karawang yang tertinggi se-Indonesia ternyata tidak seindah kenyataannya meski tetep aja nyakitin.

BACA JUGA Hal Menarik Lainnya yang Bisa Kamu Temukan di Karawang Selain Goyang Karawang dan tulisan Faizol Yuhri lainnya.

 

Exit mobile version