Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Ilustrasi Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COPenulis yang lahir dan besar di desa harus menghadapi cara berpikir sebagian tetangganya yang punya crab mentality. Ketika ia ingin kuliah, justru ia dan keluarganya dijauhi karena dinilai melanggar batas sosial.

Suatu malam, saya duduk sendirian di kamar, mencoba merancang masa depan yang belum jelas bentuknya. Di luar, desa saya tertidur dalam keheningan yang terasa seperti kesepakatan diam-diam: mimpi yang terlalu tinggi bukanlah tanda keberanian, melainkan pertanda bahwa seseorang mulai lupa diri.

Lalu datang kalimat itu dari seseorang yang tumbuh di tanah yang sama dengan saya.

“Tidak usah kuliah, tidak usah sekolah yang bagus. Sadar diri. Kamu perempuan, cepat bekerja, lalu menikah.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan niat jahat. Justru itulah yang membuatnya sulit dilawan. Ia disampaikan dengan nada sayang oleh orang yang benar-benar percaya sedang melindungi saya dari kekecewaan.

Namun, kasih sayang yang terus-menerus meminta seseorang merendahkan mimpinya tetaplah sebuah pembatasan. Ia seperti tangan yang menarik kembali kepiting yang hampir keluar dari ember: mungkin tidak selalu digerakkan oleh kebencian, tetapi membuat orang yang sedang berusaha naik kembali jatuh ke dasar.

Ada istilah populer untuk kecenderungan tersebut: crab mentality. Ketika seseorang hampir berhasil keluar dari keadaan yang membatasi kelompoknya, orang lain justru berusaha menariknya turun agar tetap berada dalam keadaan yang sama.

Gendhuk yang paling disayang, tapi dibatasi crab mentality

Gendhuk adalah panggilan sayang dalam keluarga Jawa untuk anak perempuan. Namun, di desa saya, panggilan itu menyimpan ironi: yang paling disayang justru sering menjadi yang paling dibatasi.

Saya lahir dan besar di desa kecil yang membutuhkan perjalanan selama 45 menit hanya untuk membeli es krim. Dari keterbatasan itulah saya semakin ingin melihat dunia yang lebih luas.

Saya belajar keras, meraih nilai tertinggi ketika lulus, kemudian diterima di Program Studi Teknik Perminyakan. Akan tetapi, setiap langkah yang membawa saya mendekati cita-cita justru disambut dengan reaksi yang tidak pernah saya bayangkan.

Keluarga saya tidak lagi disapa. Mereka pernah tidak dilayani ketika berbelanja dan tidak dikunjungi saat Lebaran. Keinginan seorang anak perempuan untuk bersekolah tinggi ternyata tidak hanya dianggap sebagai urusan pribadi. 

Pilihan itu dibaca sebagai pelanggaran terhadap batas sosial yang telah lama diterima bersama.

Saya tidak melanggar aturan tertulis karena memang tidak pernah ada peraturan yang melarang perempuan desa berkuliah atau memilih bidang yang dianggap tidak lazim. Namun, saya melanggar sesuatu yang sering kali lebih kuat daripada peraturan: ekspektasi yang tidak pernah dinyatakan secara terbuka, tetapi dijaga oleh banyak orang.

Di lingkungan dengan hubungan sosial yang rapat, pilihan pribadi jarang benar-benar menjadi urusan pribadi. Keberanian seseorang untuk mengambil jalan berbeda dapat dianggap sebagai penolakan terhadap cara hidup seluruh kelompok.

Bukan semata-mata rasa iri, tapi takut pada sesuatu

Crab mentality kerap dipahami sebagai kecenderungan menarik turun orang yang hampir berhasil keluar dari kelompoknya. Penelitian Billote dan koleganya pada 2021 menunjukkan bahwa kecenderungan tersebut dapat berkaitan dengan rendahnya penghargaan terhadap kelompok sendiri. Akibatnya, keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman, bukan kebanggaan.

Survei di Cebu Doctors’ University pada 2024 juga menemukan bahwa 81,6 persen responden menganggap crab mentality lumrah terjadi di lingkungan mereka. Sebanyak 84,2 persen mengaku pernah menjadi korbannya.

Akan tetapi, tidak semua orang yang membatasi mimpi orang lain digerakkan oleh rasa iri. Sebagian melakukannya karena takut, sebagian karena ingin menjaga kebiasaan, dan sebagian lagi karena benar-benar percaya bahwa hidup di luar jalur yang sudah dikenal akan mendatangkan kesulitan.

Dalam kasus perempuan desa, tekanan itu juga bertemu dengan norma gender. Perempuan tidak hanya dituntut agar tidak melampaui batas kelompoknya, tetapi juga diingatkan tentang peran yang telah ditentukan untuknya: bekerja seperlunya, segera menikah, kemudian mengurus keluarga.

Karena itu, persoalan yang saya alami tidak dapat dijelaskan sebagai rasa iri semata. Crab mentality, ketakutan terhadap perubahan, pengawasan sosial, dan pandangan patriarkal saling bertaut. Semuanya dapat berujung pada tindakan yang sama: menarik kembali perempuan yang mencoba melangkah lebih jauh.

Ketika semua orang merasa berhak menentukan

Mudah untuk menyimpulkan bahwa keadaan semacam ini terjadi karena masyarakat desa tertinggal. Kesimpulan tersebut dangkal, bahkan keliru. 

Desa bukan tempat yang dipenuhi orang jahat. Di dalamnya terdapat solidaritas, rasa saling menjaga, dan hubungan antarmanusia yang sulit ditemukan di perkotaan.

Namun, kedekatan sosial juga dapat menjadi pedang bermata dua.

Robert Putnam dalam Bowling Alone (2000) menjelaskan bahwa ikatan sosial yang kuat dapat menghasilkan solidaritas di dalam suatu kelompok. Akan tetapi, ikatan yang terlalu tertutup juga dapat menekan anggota yang mengambil jalan berbeda. 

Semakin dekat hubungan antaranggotanya, semakin mahal harga sosial yang harus dibayar seseorang ketika keluar dari jalur yang dianggap wajar.

Kecenderungan kolektif sebenarnya dapat menjadi kekuatan. Masyarakat bisa bekerja sama, saling membantu, dan menopang anggota yang mengalami kesulitan. 

Masalah muncul ketika harmoni hanya dimaknai sebagai keseragaman. Seseorang dianggap baik selama tidak terlalu berbeda, tidak terlalu menonjol, dan tidak berjalan terlalu jauh.

Dalam keadaan seperti itu, keberhasilan seorang anggota kelompok dapat menimbulkan dua kemungkinan. Ia dapat dirayakan sebagai keberhasilan bersama atau justru dianggap sebagai ancaman terhadap keseimbangan yang selama ini dipertahankan.

Perempuan menanggung dua beban

Data BPS menunjukkan bahwa pernikahan dini di desa mencapai 13,5%, hampir dua kali lipat dibanding kota yang hanya 7,8%. Indonesia bahkan menempati posisi kedua di ASEAN untuk angka pernikahan usia dini.

Perempuan desa tidak hanya dituntut untuk tidak melampaui batas kelompoknya. Mereka juga dikejar tenggat waktu yang tidak dialami laki-laki: segera menikah, segera berkeluarga, dan sebelum itu semua, tidak boleh terlihat ingin pergi terlalu jauh.

Psikolog menyebut ini internalized oppression, kondisi ketika orang yang tertindas justru ikut menyebarkan aturan yang menindas mereka sendiri. 

Karena itu, tekanan pada perempuan desa sering datang bukan hanya dari laki-laki, tetapi juga dari sesama perempuan: ibu, bibi, dan tetangga yang dulu juga dipaksa menerima batas yang sama.

Penelitian Kabeer (2005) menemukan bahwa perempuan yang tidak pernah melihat contoh peran lain cenderung ikut menegakkan norma yang membatasi mereka sendiri. 

Ibu yang berkata “cepat menikah” bukan bermaksud membunuh mimpi anaknya, ia hanya meneruskan satu-satunya cara bertahan yang pernah diajarkan kepadanya.

Peony, gendhuk lain yang jadi korban crab mentality

Pengalaman saya bukanlah kasus tunggal. Ada perempuan lain yang saya panggil Peony.

Peony mulai berjualan kue sejak usia sepuluh tahun. Pada usia lima belas, ia sudah menghasilkan sekitar satu juta rupiah per bulan dari buket bunga buatan tangan yang dijual lewat status WhatsApp.

Ia bermimpi masuk jurusan bisnis, tetapi mimpi itu tidak pernah tercapai. Ayahnya memutuskan, ibunya tidak membantah, tetangganya tidak bertanya.

World Bank (2022) mencatat pola serupa: perempuan desa di negara berkembang menghadapi hambatan berlapis, mulai dari norma sosial hingga tidak adanya contoh peran. 

Yang membedakan satu perempuan dengan perempuan lain bukan sekadar kemampuan, melainkan ada atau tidaknya lingkungan yang mengizinkan mereka bermimpi.

Luka karena crab mentality bukan syarat untuk menjadi kuat

Survei Cebu Doctors’ University menemukan bahwa 17,1 persen responden justru terdorong bekerja lebih keras setelah mengalami crab mentality. Saya pun dapat menganggap cibiran, pengucilan, dan keraguan orang lain sebagai bahan bakar untuk terus melangkah.

Namun, hal itu tidak berarti crab mentality berguna atau pantas dipelihara.

Yang patut dihargai adalah daya tahan korbannya, bukan tindakan orang yang menjatuhkannya. Tidak semua perempuan memiliki dukungan, kesempatan, dan tenaga yang sama untuk mengubah luka menjadi motivasi. 

Kita tidak boleh menunggu mereka menjadi kuat setelah dilukai.

Lingkunganlah yang seharusnya berhenti melukai.

Tidak ada solusi sederhana, tapi ember bisa dibalikan dengan banyak tangan

Jika ada yang bertanya apa solusinya, saya tidak memiliki jawaban sederhana. Campur tangan yang hanya menyasar individu tidak akan cukup selama lingkungan sosialnya tidak ikut berubah.

Perempuan muda membutuhkan ruang aman untuk membicarakan cita-citanya. Para ibu juga membutuhkan ruang untuk membicarakan ketakutannya. 

Ayah, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa perlu dilibatkan, bukan dilewatkan. 

Perubahan tidak akan bertahan jika hanya dibebankan kepada anak perempuan untuk terus melawan keluarganya seorang diri.

Masyarakat desa yang memiliki ikatan sosial kuat sebenarnya mempunyai modal besar untuk menciptakan perubahan. Kekuatan kolektif yang sebelumnya dipakai untuk menjaga keseragaman dapat diubah menjadi dukungan bersama. 

Saya masih gendhuk dari desa kecil yang membutuhkan perjalanan 45 menit untuk membeli es krim. Saya juga masih menyimpan kalimat yang meminta saya untuk sadar diri, bekerja, lalu menikah.

Namun, saya masih berada di sini, terus melangkah dan menolak berhenti.

Di luar sana, ada gendhuk lain yang memilih diam. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak pernah ada yang mengatakan bahwa mereka berhak bermimpi lebih tinggi daripada batas yang ditentukan lingkungannya.

Ember itu bukan takdir. Ia hanya belum digulingkan oleh cukup banyak tangan.

*) Tulisan ini merupakan finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.

Penulis: Lola Nadiya Putri
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan dan tulisan menarik lainnya di rubrik Esai.

Exit mobile version