Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

Lola Nadiya Putri oleh Lola Nadiya Putri
23 Juli 2026
A A
Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Ilustrasi Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Penulis yang lahir dan besar di desa harus menghadapi cara berpikir sebagian tetangganya yang punya crab mentality. Ketika ia ingin kuliah, justru ia dan keluarganya dijauhi karena dinilai melanggar batas sosial.

Suatu malam, saya duduk sendirian di kamar, mencoba merancang masa depan yang belum jelas bentuknya. Di luar, desa saya tertidur dalam keheningan yang terasa seperti kesepakatan diam-diam: mimpi yang terlalu tinggi bukanlah tanda keberanian, melainkan pertanda bahwa seseorang mulai lupa diri.

Iklan

Lalu datang kalimat itu dari seseorang yang tumbuh di tanah yang sama dengan saya.

“Tidak usah kuliah, tidak usah sekolah yang bagus. Sadar diri. Kamu perempuan, cepat bekerja, lalu menikah.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan niat jahat. Justru itulah yang membuatnya sulit dilawan. Ia disampaikan dengan nada sayang oleh orang yang benar-benar percaya sedang melindungi saya dari kekecewaan.

Namun, kasih sayang yang terus-menerus meminta seseorang merendahkan mimpinya tetaplah sebuah pembatasan. Ia seperti tangan yang menarik kembali kepiting yang hampir keluar dari ember: mungkin tidak selalu digerakkan oleh kebencian, tetapi membuat orang yang sedang berusaha naik kembali jatuh ke dasar.

Ada istilah populer untuk kecenderungan tersebut: crab mentality. Ketika seseorang hampir berhasil keluar dari keadaan yang membatasi kelompoknya, orang lain justru berusaha menariknya turun agar tetap berada dalam keadaan yang sama.

Gendhuk yang paling disayang, tapi dibatasi crab mentality

Gendhuk adalah panggilan sayang dalam keluarga Jawa untuk anak perempuan. Namun, di desa saya, panggilan itu menyimpan ironi: yang paling disayang justru sering menjadi yang paling dibatasi.

Saya lahir dan besar di desa kecil yang membutuhkan perjalanan selama 45 menit hanya untuk membeli es krim. Dari keterbatasan itulah saya semakin ingin melihat dunia yang lebih luas.

Saya belajar keras, meraih nilai tertinggi ketika lulus, kemudian diterima di Program Studi Teknik Perminyakan. Akan tetapi, setiap langkah yang membawa saya mendekati cita-cita justru disambut dengan reaksi yang tidak pernah saya bayangkan.

Keluarga saya tidak lagi disapa. Mereka pernah tidak dilayani ketika berbelanja dan tidak dikunjungi saat Lebaran. Keinginan seorang anak perempuan untuk bersekolah tinggi ternyata tidak hanya dianggap sebagai urusan pribadi. 

Pilihan itu dibaca sebagai pelanggaran terhadap batas sosial yang telah lama diterima bersama.

Saya tidak melanggar aturan tertulis karena memang tidak pernah ada peraturan yang melarang perempuan desa berkuliah atau memilih bidang yang dianggap tidak lazim. Namun, saya melanggar sesuatu yang sering kali lebih kuat daripada peraturan: ekspektasi yang tidak pernah dinyatakan secara terbuka, tetapi dijaga oleh banyak orang.

Di lingkungan dengan hubungan sosial yang rapat, pilihan pribadi jarang benar-benar menjadi urusan pribadi. Keberanian seseorang untuk mengambil jalan berbeda dapat dianggap sebagai penolakan terhadap cara hidup seluruh kelompok.

Iklan

Bukan semata-mata rasa iri, tapi takut pada sesuatu

Crab mentality kerap dipahami sebagai kecenderungan menarik turun orang yang hampir berhasil keluar dari kelompoknya. Penelitian Billote dan koleganya pada 2021 menunjukkan bahwa kecenderungan tersebut dapat berkaitan dengan rendahnya penghargaan terhadap kelompok sendiri. Akibatnya, keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman, bukan kebanggaan.

Survei di Cebu Doctors’ University pada 2024 juga menemukan bahwa 81,6 persen responden menganggap crab mentality lumrah terjadi di lingkungan mereka. Sebanyak 84,2 persen mengaku pernah menjadi korbannya.

Akan tetapi, tidak semua orang yang membatasi mimpi orang lain digerakkan oleh rasa iri. Sebagian melakukannya karena takut, sebagian karena ingin menjaga kebiasaan, dan sebagian lagi karena benar-benar percaya bahwa hidup di luar jalur yang sudah dikenal akan mendatangkan kesulitan.

Dalam kasus perempuan desa, tekanan itu juga bertemu dengan norma gender. Perempuan tidak hanya dituntut agar tidak melampaui batas kelompoknya, tetapi juga diingatkan tentang peran yang telah ditentukan untuknya: bekerja seperlunya, segera menikah, kemudian mengurus keluarga.

Karena itu, persoalan yang saya alami tidak dapat dijelaskan sebagai rasa iri semata. Crab mentality, ketakutan terhadap perubahan, pengawasan sosial, dan pandangan patriarkal saling bertaut. Semuanya dapat berujung pada tindakan yang sama: menarik kembali perempuan yang mencoba melangkah lebih jauh.

Ketika semua orang merasa berhak menentukan

Mudah untuk menyimpulkan bahwa keadaan semacam ini terjadi karena masyarakat desa tertinggal. Kesimpulan tersebut dangkal, bahkan keliru. 

Desa bukan tempat yang dipenuhi orang jahat. Di dalamnya terdapat solidaritas, rasa saling menjaga, dan hubungan antarmanusia yang sulit ditemukan di perkotaan.

Namun, kedekatan sosial juga dapat menjadi pedang bermata dua.

Robert Putnam dalam Bowling Alone (2000) menjelaskan bahwa ikatan sosial yang kuat dapat menghasilkan solidaritas di dalam suatu kelompok. Akan tetapi, ikatan yang terlalu tertutup juga dapat menekan anggota yang mengambil jalan berbeda. 

Semakin dekat hubungan antaranggotanya, semakin mahal harga sosial yang harus dibayar seseorang ketika keluar dari jalur yang dianggap wajar.

Kecenderungan kolektif sebenarnya dapat menjadi kekuatan. Masyarakat bisa bekerja sama, saling membantu, dan menopang anggota yang mengalami kesulitan. 

Masalah muncul ketika harmoni hanya dimaknai sebagai keseragaman. Seseorang dianggap baik selama tidak terlalu berbeda, tidak terlalu menonjol, dan tidak berjalan terlalu jauh.

Dalam keadaan seperti itu, keberhasilan seorang anggota kelompok dapat menimbulkan dua kemungkinan. Ia dapat dirayakan sebagai keberhasilan bersama atau justru dianggap sebagai ancaman terhadap keseimbangan yang selama ini dipertahankan.

Perempuan menanggung dua beban

Data BPS menunjukkan bahwa pernikahan dini di desa mencapai 13,5%, hampir dua kali lipat dibanding kota yang hanya 7,8%. Indonesia bahkan menempati posisi kedua di ASEAN untuk angka pernikahan usia dini.

Perempuan desa tidak hanya dituntut untuk tidak melampaui batas kelompoknya. Mereka juga dikejar tenggat waktu yang tidak dialami laki-laki: segera menikah, segera berkeluarga, dan sebelum itu semua, tidak boleh terlihat ingin pergi terlalu jauh.

Psikolog menyebut ini internalized oppression, kondisi ketika orang yang tertindas justru ikut menyebarkan aturan yang menindas mereka sendiri. 

Karena itu, tekanan pada perempuan desa sering datang bukan hanya dari laki-laki, tetapi juga dari sesama perempuan: ibu, bibi, dan tetangga yang dulu juga dipaksa menerima batas yang sama.

Penelitian Kabeer (2005) menemukan bahwa perempuan yang tidak pernah melihat contoh peran lain cenderung ikut menegakkan norma yang membatasi mereka sendiri. 

Ibu yang berkata “cepat menikah” bukan bermaksud membunuh mimpi anaknya, ia hanya meneruskan satu-satunya cara bertahan yang pernah diajarkan kepadanya.

Peony, gendhuk lain yang jadi korban crab mentality

Pengalaman saya bukanlah kasus tunggal. Ada perempuan lain yang saya panggil Peony.

Peony mulai berjualan kue sejak usia sepuluh tahun. Pada usia lima belas, ia sudah menghasilkan sekitar satu juta rupiah per bulan dari buket bunga buatan tangan yang dijual lewat status WhatsApp.

Ia bermimpi masuk jurusan bisnis, tetapi mimpi itu tidak pernah tercapai. Ayahnya memutuskan, ibunya tidak membantah, tetangganya tidak bertanya.

World Bank (2022) mencatat pola serupa: perempuan desa di negara berkembang menghadapi hambatan berlapis, mulai dari norma sosial hingga tidak adanya contoh peran. 

Yang membedakan satu perempuan dengan perempuan lain bukan sekadar kemampuan, melainkan ada atau tidaknya lingkungan yang mengizinkan mereka bermimpi.

Luka karena crab mentality bukan syarat untuk menjadi kuat

Survei Cebu Doctors’ University menemukan bahwa 17,1 persen responden justru terdorong bekerja lebih keras setelah mengalami crab mentality. Saya pun dapat menganggap cibiran, pengucilan, dan keraguan orang lain sebagai bahan bakar untuk terus melangkah.

Namun, hal itu tidak berarti crab mentality berguna atau pantas dipelihara.

Yang patut dihargai adalah daya tahan korbannya, bukan tindakan orang yang menjatuhkannya. Tidak semua perempuan memiliki dukungan, kesempatan, dan tenaga yang sama untuk mengubah luka menjadi motivasi. 

Kita tidak boleh menunggu mereka menjadi kuat setelah dilukai.

Lingkunganlah yang seharusnya berhenti melukai.

Tidak ada solusi sederhana, tapi ember bisa dibalikan dengan banyak tangan

Jika ada yang bertanya apa solusinya, saya tidak memiliki jawaban sederhana. Campur tangan yang hanya menyasar individu tidak akan cukup selama lingkungan sosialnya tidak ikut berubah.

Perempuan muda membutuhkan ruang aman untuk membicarakan cita-citanya. Para ibu juga membutuhkan ruang untuk membicarakan ketakutannya. 

Ayah, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa perlu dilibatkan, bukan dilewatkan. 

Perubahan tidak akan bertahan jika hanya dibebankan kepada anak perempuan untuk terus melawan keluarganya seorang diri.

Masyarakat desa yang memiliki ikatan sosial kuat sebenarnya mempunyai modal besar untuk menciptakan perubahan. Kekuatan kolektif yang sebelumnya dipakai untuk menjaga keseragaman dapat diubah menjadi dukungan bersama. 

Saya masih gendhuk dari desa kecil yang membutuhkan perjalanan 45 menit untuk membeli es krim. Saya juga masih menyimpan kalimat yang meminta saya untuk sadar diri, bekerja, lalu menikah.

Namun, saya masih berada di sini, terus melangkah dan menolak berhenti.

Di luar sana, ada gendhuk lain yang memilih diam. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak pernah ada yang mengatakan bahwa mereka berhak bermimpi lebih tinggi daripada batas yang ditentukan lingkungannya.

Ember itu bukan takdir. Ia hanya belum digulingkan oleh cukup banyak tangan.

*) Tulisan ini merupakan finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.

Penulis: Lola Nadiya Putri
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan dan tulisan menarik lainnya di rubrik Esai.

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2026 oleh

Tags: beswan djarumcrab mentalitykuliahperempuanpilihan redaksi
Lola Nadiya Putri

Lola Nadiya Putri

Mahasiswa Teknik Perminyakan yang masih belajar bahwa hidup ternyata tidak sesederhana soal rumus dan angka. Menulis tentang pendidikan, perempuan, kehidupan kampus, dan keresahan yang sering muncul dari obrolan sehari-hari. Kalau sedang tidak mengerjakan laporan atau rapat organisasi, biasanya sedang mencatat ide yang tiba-tiba muncul di kepala.

Artikel Terkait

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO
Esai

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO
Esai

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO
Esai

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.