Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

Tsaqiva Kinasih Gusti oleh Tsaqiva Kinasih Gusti
30 Maret 2026
A A
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Ilustrasi Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Semarang terlalu sibuk mengatur pergerakan, tapi lupa menyediakan tempat untuk berhenti

Dalam 10–15 tahun terakhir, saya melihat banyak urusan seni, budaya, dan kemanusiaan lahir di ruang-ruang kopi. Ini fenomena yang perlu diperhitungkan, tentunya. Komunitas musik mengadakan pertunjukan, kelompok sastra mengadakan workshop literasi dan ruang baca, atau diskusi film dan seni visual, rutin dilakukan di sana. 

Kedai kopi disulap menjadi markas berkumpulnya komunitas kreatif, ruang belajar, dan laboratorium ide untuk proyek seni, literasi, dan budaya. Justru para pengusaha kopi dan kolektif lah inilah yang menjadi pahlawan di tengah keterbatasan ruang kreatif di kota ini.

Iklan

Sayangnya, kebutuhan warga akan ruang publik tidak pernah benar-benar dikabulkan oleh pemerintah. Ruang-ruang kota kita lebih banyak dirancang sebagai jalur lalu lintas, bukan ruang bersama. 

Lihat saja Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) atau gedung-gedung cagar budaya yang terbengkalai. Karena minimnya pengelolaan ruang publik yang inklusif, kedai kopi hadir mengisi kekosongan itu.

Ironisnya, ruang-ruang ini sering muncul bukan karena kota merencanakannya, tapi karena kota gagal menyediakannya. Semarang terlalu sibuk mengatur pergerakan, tapi lupa menyediakan tempat untuk berhenti.

Menjadi tempat orang bisa berhenti, bernapas, dan kembali menjadi manusia yang saling terhubung. Bukan sekadar individu yang sibuk bergerak dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Kota besar seperti Semarang seakan-akan didesain hanya untuk mendorong warganya terus bergerak, bekerja, dan mengejar efisiensi. Ritme ini perlahan membentuk masyarakat yang kaku, individual, dan semakin jarang berinteraksi secara spontan.

Dalam perspektif arsitektur dan psikologi lingkungan, desain kota bukan sekadar urusan estetika atau fungsi teknis, melainkan juga alat yang membentuk perilaku dan cara manusia berinteraksi.  

Kita bisa melihatnya dari bagaimana trotoar dibangun: sempit, terputus-putus, dan tidak ramah pejalan kaki. Sangat minim kita punya ruang singgah yang benar-benar inklusif tanpa harus membeli sesuatu terlebih dahulu.

Bukan soal gaya-gayaan, tapi penanda zaman

Saya setuju bahwa parkir sembarangan dan trotoar yang terpakai adalah masalah nyata. Tapi menyederhanakan ini sebagai dosa “anak skena” adalah cara berpikir yang dangkal dan malas.

Masalah ini lahir dari desain kota yang tidak menyediakan ruang singgah. Kalau pemerintah menyediakan ruang publik yang layak, nyaman, dan manusiawi, orang tidak perlu berdesakan duduk di tepi jalan.

Saya juga tidak sepenuhnya menutup mata: ada aspek performatif dalam budaya nongkrong hari ini. Ada yang datang bukan untuk ngobrol, tapi untuk terlihat sedang ngobrol. 

Ada yang lebih sibuk mengatur sudut kamera ketimbang mendengar lawan bicara. Tapi bukankah itu juga cerminan zaman? 

Kita hidup di era identitas dibangun di ruang publik digital. Maka, ruang fisik pun ikut berubah menjadi panggung. Sehingga, kita jadi memahami bahwa masalahnya bukan pada “skena”-nya semata, tapi pada cara kita melihatnya. 

Menyederhanakan mereka sebagai sekadar “gaya-gayaan” justru menutup kemungkinan untuk membaca fenomena ini secara mendalam, yakni sebagai bentuk pencarian identitas, ruang, dan komunitas.

Macet di Jalan Gajahmada Semarang itu gejala, bukan akar masalah

Di penghujung tulisan ini, saya tetap ingin menegaskan bahwa peminum kopi harus punya kesadaran ruang. Tidak semua hal bisa dibenarkan atas nama kebutuhan sosial atau kreatif. 

Namun, di saat yang sama, kita juga perlu jujur melihat bahwa kemacetan di Gajahmada bukan semata kesalahan mereka. Itu hanyalah the tip of an iceberg: masalah yang lebih besar ada pada cara kota ini dirancang dan untuk siapa ia sebenarnya dibuat.

Jadi, kemarahan itu seharusnya tidak berhenti pada peminum kopi. Arahkan kemarahan itu pada sistem yang gagal menyediakan ruang hidup layak bagi warganya. 

Iklan

Karena, kota yang baik bukan kota yang sepi dari manusia, melainkan kota yang tahu ke mana masyarakatnya harus pergi untuk menjadi manusia.

Maka, solusi yang tepat untuk diambil bukanlah menyingkirkan mereka. Melainkan merancang kota yang lebih manusiawi: ramah pejalan kaki, menyediakan ruang publik yang inklusif, dan menyeimbangkan fungsi jalan tidak hanya sebagai jalur mobilitas, tetapi juga sebagai ruang sosial. 

Dengan begitu, bukan hanya kegiatan kreatif yang tetap berjalan, tetapi juga kebutuhan dasar manusia untuk beristirahat dan saling terhubung, tidak lagi terpinggirkan.

Penulis: Tsaqiva Kinasih Gusti
Editor: Agung Purwandono

Baca juga Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang dan ulasan menarik lainnya di rubrik ESAI.

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 30 Maret 2026 oleh

Tags: Jalan Gajah MadakopiSemarangskena
Tsaqiva Kinasih Gusti

Tsaqiva Kinasih Gusti

Perempuan kelahiran Kudus berdarah Dayak-Sunda yang menjadikan karya tulisnya sebagai upaya merekam dan menghadirkan ulang ingatan melalui tema rumah, memori, kematian, spiritualitas, lingkungan, dan dunia anak-anak.

Artikel Terkait

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
MLSC, Yogyakarta.MOJOK.CO

Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal

26 Juni 2026
Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026
Wisata air Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah akan dikembangkan. Ada investasi dari Cilacap hingga Jepang MOJOK.CO

Rawa Pening Kabupaten Semarang bakal Jadi Wisata Unggulan Jateng, Tawarkan Rumah Makan Apung-Keramba

25 Juni 2026
Warung Kopi Aceh: Tempat Orang Terlihat Sibuk, Padahal Cuma Ngopi MOJOK.CO

Warung Kopi Aceh: Tempat Orang Terlihat Sibuk, Padahal Cuma Ngopi

19 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.