Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bagi Saya, NU Tak Selucu Itu

Mahfud Ikhwan oleh Mahfud Ikhwan
5 Maret 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

(Untuk Iqbal Aji Daryono)

Antara 2009-2012 saya tinggal serumah dengan dua orang NU yang blas tak ada lucu-lucunya. Jangankan lucu, omong saja jarang.

NU kamar belakang adalah seorang penerjemah dan editor buku-buku filsafat, kadang juga buku motivasi (yang dibencinya itu); penyendiri, nyinyir kalau sudah ngomong, dan mengabdikan kupingnya sepenuh hati kepada suara Dido dan Coldplay seperti orang NU kebanyakan mengabdikan kupingnya kepada Habib Syech.

Di kampung halamannya, di ujung timur Pulau Jawa, desas-desusnya ia adalah seorang gus dari sebuah pondok pesantren besar. Saya belum pernah mampir ke rumahnya, jadi itu masih katanya. Tapi, yang bisa saya pastikan, kalau disuruh mimpin doa ia gemetaran. Jangan dibayangkan kalau ia disuruh kasih pengajian.

NU kamar tengah tak kalah suramnya. Tak banyak cakap, dan kalau bercakap suaranya pelan, karena kalau disuruh kencang ia pasti terdengar seperti sedang ngajak cekcok. Ia editor buku sejarah dan akidah akhlak yang dipecat, sempat jadi tukang sablon, belakangan jadi pengusaha cetak yang sukses, dan tetap saja tidak banyak cakap. Dan, nyaris tak pernah terdengar musik dari kamarnya.

Nahdliyin yang ini dari daerah Bagelen, senang bola, jadi dia cocok sama saya. Masalahnya, menonton sepakbola bersamanya kadang terlalu tenang. Jangankan lempar-lempar, melontar pisuhan pun enggan.

Maka, selain suara qiraah Serj Tankian dari kamar saya yang ada di depan, kadang juga Rhoma Irama dan Nasidaria, atau suara ngaji saya sendiri, rumah empat kamar yang nyaris tanpa jendela itu biasa sepi. Sedikit agak ramai kalau sesudah bangun kesiangan, kami ngobrol di beranda, dengan cangkir kopi masing-masing, dan mengejek-ngejek diri sendiri yang tak bekerja tetap, tapi terutama mengejek mereka yang bekerja tetap. Untung, kadang-kadang ejek-mengejek diri sendiri dan terutama orang lain itu bisa sampai sore, atau bahkan sampai malam. Jadi, ramainya bisa lebih lama.

Akan sedikit lebih ramai lagi kalau seorang tetangga, kali ini Muhammadiyah, ikut gabung, membawa cangkir kopinya sendiri dari rumah. Tak seperti kami yang senang kopi hitam, dan jauh dari kesan tentang dirinya yang sekarang ini ia ditonjol-tonjolkan di publik, si Muhammadiyah ini sukanya Coffemix.

Ia ini editor yang banting setir jadi penerbit, dan belakangan merasa bisa menulis, meskipun sebenarnya ia menyetir. Kata orang ia lucu. Ya, lucu sih, tapi tidak lucu-lucu amat juga—setidaknya tidak selucu yang belakangan dianggap orang.

Ia dulu tidak menulis. “Aku menerbitkan!” itu tegasnya waktu itu, dengan angkuhnya. Jadi, jelas, ia tidak melucu dengan mengejek tokoh-tokoh lewat tulisan macam sekarang. Satu-satunya tulisannya waktu itu, yang bisa saya ingat, sebuah bantahan terhadap tulisan saya tentang selera filmnya, sama sekali tidak lucu. Mana bisa lucu, wong dia sedang marah.

Dengan mulutnya yang macam beo, ia dulu biasa mengejek diri sendiri, tapi terutama mengejek teman-temannya. Dan untuk yang disebut belakangan inilah ia mendapat reputasinya. Ia suka menirukan ekspresi wajah, tingkah, dan intonasi bicara teman-temannya, mengulang-ulang kalimat konyol yang pernah didengarnya dari mereka.

“Hello, ada yang luccu?” misalnya begitu, sembari memonyongkan bibir dan menjentikkan jari, menirukan temannya yang mahasiswi HI.

Atau, “Wis dikek-i mangan, iseh protes… ae!” kali ini ia mengubah nada bicaranya jadi Jawa Timuran, dengan wajah yang diserupakan seorang mahasiwa Filsafat lugu yang sering diusilinya. Tidak lucu, kan? Sudah saya bilang.

Tapi ia memang benar-benar lucu kalau sedang menirukan suara, mimik, dan gerak tubuh seorang teman NU kami yang lain, yang karakter dan bawaannya jauh dari lucu—jauh lebih tidak lucu dibanding duo NU di rumah saya.

Iklan

Rumah itu akan benar-benar sepi, sangat sepi, atau bahkan kalau perlu pura-pura sepi, apabila teman yang NU (yang sering ditirukan suaranya sama si Muhammadiyah) itu datang berkunjung. Sebab yang ini memang benar-benar tidak lucu.

Belakangan, ada satu lagi orang NU yang gabung dengan kami. Ia juga tidak lucu, meski kalau tertawa keras sekali, dan itu bikin rumah kami ramai. Ah, baiklah… ia kadang-kadang juga lucu, terutama kalau cerita yang saru-saru. Tapi memang bukan kelucuannya yang membuat saya mengingat ke-NU-annya. (Tapi ini mohon dirahasiakan, jangan sampai ia dengar.) Saat kami masih mahasiswa, ia meminjam sarung sama saya. Sampai sekarang, sarung itu tidak dikembalikannya.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: featuredlucuMuhammadiyahnu
Mahfud Ikhwan

Mahfud Ikhwan

Novelis. Pemenang pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Pemenang pertama Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Novel-novelnya yang sudah terbit adalah "Ulid", "Kambing dan Hujan", dan "Dawuk". Pencinta sepak bola dan film India.

Artikel Terkait

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja
Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Perantau Minang di kantin kereta api Indonesia (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran

Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”

13 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Nasib Suram Pekerja Jakarta Rumah di Bekasi, Dituntut Bekerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.