Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar oleh Zainal Arifin Mochtar
26 Februari 2025
A A
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO

Ilustrasi 3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Merasa tidak berhak “memakan” subsidi

Ada kawan yang tak mau makan subsidi, yang dia anggap sebagai bukan haknya. Meski mobilnya cuma masuk dalam kelas bawah, dia tetap yakin harus beli yang non-subsidi. 

Baginya, subsidi hanya untuk orang yang berhak, yang kebanyakan dalam keadaan papa. Dia nggak papa-papa amat, makanya merasa tak berhak.

Kurang kisah nasionalisme dan kepahlawanan apa yang ada di situ? Bahkan ada teman PNS yang memaksa dirinya untuk selalu beli Pertamax. Katanya, dia malu. Sudah digaji oleh negara lewat pajak rakyat, masak masih mau makan subsidi rakyat pula? 

Makanya, meski hanya bermotor, tetap saja dalam hati dan kesadaran terdalamnya dia membeli Pertamax.

Bukan hanya sebagai ajang kecintaan dan heroisme 

Di sana, ada semacam pembagian kelas yang jelas antara pembeli Pertamax dan Pertalite. Lihat saja wajah penuh curiga beberapa petugas SPBU yang dengan lantang menanyakan barcode ketika orang mau beli Pertalite. Mukanya sering kayak menindas, seakan berkata kalau mau yang subsidi taatlah pada mekanisme yang ada, barcode!

Atas semua itu, eh ternyata kasus korupsi di atas menjelaskan secara mudah. Pertamax yang Anda dan kawan-kawan saya beli, ternyata kualitasnya subsidian. Kualitas kacrut, oplosan! 

Bayangkan wajah nasionalisme teman saya yang PNS itu. Ketika tahu bahwa nasionalismenya nggak berguna. Bayangkan betapa hancur hati kawan saya lainnya, yang dari dalam dirinya terpancar “kepahlawan lugu” yang dia berikan selama ini untuk negara. Ternyata, rasa kepahlawanan di dalam dirinya jadi korban keculasan.

Soal kepahlawanan yang kena keculasan, saya sekarang malah membayangkan sebaliknya. Yakni keculasan yang sok pahlawan.

Nasionalisme posisi

Ada yang pernah dengar lagu “Sontoloyo” yang dirilis di tahun 2020? Silakan berselancar di Google atau YouTube. Sambil mendengarkan lagunya, bayangkan Anda berada dalam konteks tahun 2020, ya.

Saat itu, Jokowi masih dianggap musuh oleh orang-orang tertentu dan dipuja oleh orang-orang tertentu lainnya. Lagu itu ditulis dengan rasa nasionalisme kritis pada negara, alias Jokowi, yang berlaku sontoloyo. 

Namun sekarang, orang-orang tersebut sudah bertukar kursi dan pujaan. Makanya lagu “Bayar Bayar Bayar” dianggap oleh si bapak itu sebagai potensi pelanggaran atas konsep kritik konstitusional. 

Jiwa nasionalisme si bapak menjelaskan bahwa di balik lagu itu menyimpan potensi bahaya merusak kepercayaan pada institusi negara. Dia mungkin lupa dengan lagu “Sontoloyo”-nya. 

Jawabannya mungkin sebenarnya sederhana. Bukan isi dan kritiknya yang jadi persoalan, tetapi Anda sedang berdiri di mana. Keculasan itulah yang akan membedakan konstitusionalitas suatu kritik. 

Posisi yang akan menentukan jiwa nasionalisme akan diarahkan ke mana. Nasionalisme posisional mungkin bisa jadi istilah buat yang jenis ini.

Iklan

Menjelaskan nasionalisme rasional

Tetapi, nasionalisme bukan hanya soal keluguan dan posisi. Ada banyak jenis nasionalisme lainnya. Salah satunya nasionalisme rasional. 

Adalah rasional bagi seseorang merasa ada masalah di Indonesia. Dia lantas merasakan juga kesempatan di dalam negeri tak lagi sama. Apalagi ada kondisi yang menekan. Makanya, dia memilih lari ke luar negeri. 

Kejadian itu sama sekali tidak serta merta menghilangkan rasa nasionalisme. Jadi, kalau ada pejabat yang buru-buru mengatakan “kabur aja dulu” sebagai tindakan tidak nasionalis dan sekalian saja tak usah pulang, saya berharap dia mau mengucapkan itu di hadapan Pak Presiden kita. 

Kita semua ingat, beliau beserta ayahnya mendapatkan problem di dalam negeri. Kasus tersebut membuat sang ayah mengorbankan nasionalismenya dengan masuk ke hutan hingga ke daerah Jambi, dan akhirnya mampu menyeberang dari Bungo ke Singapura di tahun 60-an. 

Peristiwa yang sama menimpa Pak Prabowo juga. Kala itu, dia dihimpit oleh kasus yang melibatkan rezim Soeharto, dugaan penculikan aktivis, hingga akhirnya memilih ke Yordania. Di sana, dia mendapatkan status warga kehormatan dari Raja Yordania di Desember 1998. 

Apalah karena kejadian itu kita lantas bisa menyimpulkan bahwa Pak Prabowo tak punya semangat nasionalisme? Atau mungkin si pejabat itu mengatakan dan menjelaskan ke Pak Prabowo bahwa jangan pulang sekalian?

Menghayati perasaan masing-masing

Memang, nasionalisme itu bentukan yang terbayang. Komunitas terbayang, dalam istilah Ben Anderson. Bisa jadi, setiap orang tentu saja dapat mengkontekskan masing-masing nasionalisme-nya. 

Makanya, ketika lagu “Tanah Air” itu Anda dengarkan, silakan membayangkannya masing-masing, lantas menghayatinya lewat versi Anda. Jika ingin menangis, tak perlu ditahan. Kalian juga tidak perlu menjelaskan itu tangisan haru, muak, benci, rindu, lelah, marah, atau bangga. Toh bahtera negeri ini milik kita bersama. 

Bedanya cuma satu. Ada yang rajin membocorkan kapal dan ada yang rajin menambal kapal. Ya begitulah.

Penulis: Zainal Arifin Mochtar

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Haruskah Menjadi Nasionalis agar Humanis? Dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 26 Februari 2025 oleh

Tags: jokowikabur aja duluNasionalismenasionalisme posisinasionalisme rasionalnasionalisme rupapertalitepertamaxPertaminaprabowo
Zainal Arifin Mochtar

Zainal Arifin Mochtar

Dosen hukum tata negara Universitas Gadjah Mada. Pegiat antikorupsi di Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM

Artikel Terkait

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO
Kilas

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Pertamina siagakan LPG untuk penuhi kebutuhan masyarakat selama libur Nataru MOJOK.CO
Ekonomi

Natal dan Tahun Baru, Pertamina Banjiri 3 Juta Lebih LPG Melon untuk Jateng-DIY

23 Desember 2025
Pertamina MOJOK.CO
Ekonomi

Sambut Libur Nataru di DIY, Pertamina Siagakan Motorist

20 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
kelemahan honda beat, jupiter z.mojok.co

Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros

27 Februari 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026

Video Terbaru

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.