Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jangan Ajari Anak Bahaya HIV/AIDS, Ajari Mereka Selibat demi Agama

Arman Dhani oleh Arman Dhani
28 Oktober 2017
A A
Kandhani Sex Education Mojok

Kandhani Sex Education Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Kalau anak-anak yang diajari pemakaian kondom bisa seks bebas, anak-anak yang diajari pakai helm bisa balapan liar.”

Mencemaskan! Kasus HIV/AIDS di Indonesia meroket cepat. Perilaku dan gaya hidup bebas telah membuat kasus ini melaju kencang di Indonesia. Ini adalah salah satu berita pembuka yang saya baca di situs Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. Saya membacanya dua kali, tidak, tiga kali untuk kemudian bisa manggut-manggut, meresapi betapa bijaksananya kalimat itu.

Kasus HIV/AIDS di Indonesia meroket karena perilaku dan gaya hidup bebas.

Hanya orang-orang dengan makrifat tinggi yang bisa mencerna kalimat itu. Bahwa sesungguhnya, persebaran dan pertumbuhan kasus HIV/AIDS di Indonesia berkembang luas bukan karena minimnya pemahaman tentang penyakit ini dan upaya pencegahannya, tapi karena gaya hidup bebas. Cuma hidup bebas ini yang belum dijelaskan, hidup bebas seperti orang-orang Amerika sana atau hidup bebas seperti orang-orang tanpa utang di pedalaman Afrika?

Bukan apa-apa, orang-orang di Afrika sana yang sering dianggap primitif tapi sebenarnya mundur karena dijajah kolonial itu, juga merupakan masyarakat yang rentan terhadap penyebaran HIV/AIDS. Sudah banyak betul kampanye tentang pemakaian kondom, bahkan pendiri Microsoft Pak Bill Gates mendorong penemuan penggunaan kondom yang tepat guna, murah, dan enak dipakai untuk menekan angka penderita HIV/AIDS.

Apa ya ngefek? Tidak, kata Paus Benediktus XVI. Pada 2009 ia mengatakan bahwa penggunaan kondom akan membuat penyebaran penyakit itu semakin parah. Padahal Afrika memiliki 67% populasi global penderita HIV atau sekitar 32,9 juta orang. Pada 2007 tiga perempat kematian akibat AIDS terjadi di benua itu. Lha terus apa dong cara mengatasi HIV? Dengan hidup selibat dan menjaga diri sampai pernikahan, kata Paus. Ini … benar belaka.

Di Indonesia gimana? Diestimasikan pada 2014 akan terdapat 501.400 kasus HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS sudah tersebar di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Penderita terbanyak ditemukan pada usia produktif, yaitu 15 sampai 29 tahun. Ya Ampun, apa jadinya kalau generasi penerus bangsa seperti ini? Gimana mereka jadi muhajid ISIS kalau kena AIDS?

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Papua tidak lagi menjadi provinsi yang memiliki jumlah kasus HIV/AIDS paling banyak, meski untuk prevalansi per penduduk masih yang tertinggi. Justru di Jawa Barat jumlah kasus penderita HIV/AIDS menduduki peringkat pertama. Jabar mencapai 3.213 kasus, disusul DKI Jakarta 2.810 kasus, Jawa Timur 2.753 kasus, kemudian keempat Papua dengan 2.605 kasus.

Ini jelas penghinaan terhadap umat. Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur itu kan kantung-kantung umat. Berapa banyak pesantren, ulama, agamawan, sampai ustadz-ustadz yang tiap hari teriak bahaya seks bebas? Bayangkan, kita bisa mendatangkan tujuh juta orang untuk melawan penista agama, eladalah, malah halaman belakang sendiri diisi penderita HIV/AIDS. Kita harus mengganyang perilaku seks bebas, lawan komunis liberal yang mengajarkan paham seks sebelum nikah. Masak kalah sama provinsi yang diisi sama orang-orang kafir yang kasus HIV-nya bisa ditekan lewat kondom?

Jangan sampai ya nanti kasus HIV ditekan karena sosialisasi kondom, bukan karena iman dan takwa. Apa coba kata dunia nanti kalau misalnya di acara WHO perwakilan Indonesia ngomong, “Di negara kami HIV/AIDS bisa dilawan melalui pendidikan kesehatan reproduksi yang baik dan sosialisasi seks yang aman menggunakan kondom.” Apa kata dunia nanti, negara dengan umat terbesar di dunia, melawan penyakit dengan kondom, bukan dengan iman dan takwa? Malu sama Turki.

Gini nih kalau nggak nurut. Udah dibilangin penyebaran penyakit kaya gini obatnya iman dan takwa. Padahal dulu pada 2012, Ketua DPR Marzuki Alie menyarankan agar sosialisasi penggunaan kondom tidak dilakukan secara terbuka di depan publik. Menurutnya, yang juga penting dari sosialisasi kondom adalah pendidikan iman, akidah, dan hukum. “Jangan sampai tanggapan anak-anak kita: wah ini, kita bebas. Kan begitu tanggapannya nanti.”

Pada 2013 Majelis Ulama Indonesia menentang kampanye penggunaan kondom bagi kalangan umum maupun pelaku seks berisiko yang akan digalakkan oleh Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi saat itu. “MUI tidak setuju dengan adanya penyelenggaraan Pekan Kondom Nasional itu. Hal itu bisa disalahgunakan, dikhawatirkan terjadinya seks bebas pada remaja,” jelas dia.

Pada 2015, Pemerintah Surabaya melalui Dinas Perdagangan dan Industrinya mengeluarkan surat edaran pembatasan peredaran alat kontrasepsi. Langkah dilakukan, menyusul laporan penjualan paket Valentine’s Day berupa cokelat serta kondom. Dalam surat disebutkan, pembatasan merupakan “upaya untuk menjunjung tinggi nilai luhur kebudayaan Indonesia, serta menjaga calon penerus bangsa.” Lantas bagaimana sebenarnya persebaran kondom di Indonesia?

Bupati Luwu Andi Mudzakkar pada 2015 mengatakan, penjualan kondom secara bebas dapat disalahgunakan. “Ditakutkan bisa dibeli bebas oleh remaja-remaja kita sehingga kami putuskan untuk melarang kondom dijual bebas, khususnya di toko-toko ritel,” katanya. Ini bukan pertama kalinya kondom dianggap sebagai penyebab atau mendorong perilaku seks terbuka. Untuk itu saya percaya pelarangan sosialisasi kondom harus dihentikan untuk mencegah seks bebas, yang nantinya berujung pada berhentinya penyebaran HIV/AIDS.

Iklan

Gimana nggak, orang-orang kalau diajari pakai kondom, nanti malah pengin seks bebas. Sama dengan orang kalau diajari pakai helm, walah, bisa ngebet balapan liar. Ini kenapa saya kira kita perlu menghentikan pendidikan agama, khususnya bagian perilaku setan. Jangan sampai sosialisasi tentang akhlak yang baik malah berujung mendorong anak-anak untuk berperilaku seperti setan. Lha kan bisa runyam.

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2017 oleh

Tags: AgamaAIDSHIVkondompelecehan seksualpendidikan seksPesta Seksseks
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Toilet umum di Jakarta saksi bejat laki-laki otak mesum MOJOK.CO
Urban

Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

10 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO
Esai

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tes Kompetensi Akademik, TKA, Stres, orang tua.MOJOK.CO

3 Cara Sukses Hadapi TKA Tanpa Banyak Drama, Orang Tua Wajib Tahu Biar Anak Nggak Stres

25 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.