Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Depresiasi Rupiah dan Asumsi Salah Kaum Jomblo

Kokok Dirgantoro oleh Kokok Dirgantoro
18 Desember 2014
A A
Depresiasi Rupiah dan Asumsi Salah Kaum Jomblo

Depresiasi Rupiah dan Asumsi Salah Kaum Jomblo

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook
Saya sering bingung dengan teman-teman saya yang masih menjomblo di usia yang sudah amat sangat terlalu matang. Berbagai alasan mereka kemukakan. Dari penjelasan sederhana hingga yang brutal karena tersinggung. Sering saya menyalahkan diri sendiri mengapa kepo. Tapi akhirnya saya mencoba meneliti mengapa seseorang terjerembab dalam jurang kejombloan begitu dalam.

Lantas saya coba mengurai penyebab-penyebabnya. Sungguh saya tercenggang, catatan saya mengenai jomblo ternyata memiliki kesamaan dengan kondisi rupiah yang nilai tukarnya merosot tajam beberapa waktu terakhir. Terutama terkait dengan asumsi diri para jomblo. Berikut saya coba mengulasnya, kesamaan Apologi Jomblo dan rupiah:

 Terlalu tinggi menilai diri

Jomblo selalu merasa paling unik, eksentrik. “Orang yang tidak mau dengan saya adalah orang-orang yang merugi” sering kita dengar. Percaya diri yang sungguh dahsyat. Bukankah ini sama dengan kondisi rupiah yang dibesar-besarkan secara berlebihan?

Coba lihat kalau pemerintah memberikan penjelasan: cadangan devisa Indonesia bagus, perdagangan internasional berlangsung lancar. Sungguh aneh kalau terdepresiasi. Lah kok terdepresiasi? Eh ternyata utang luar negeri yang dilakukan swasta melebihi utang pemerintah. Beberapa berutang melebihi asetnya dan rentan dipermainkan spekulan. Sementara yang ekspor tidak mengembalikan mayoritas dolarnya ke dalam negeri sehingga peningkatan cadangan devisa terbatas.

Over estimate diri sendiri adalah kesalahan rupiah dan jomblo yang sangat fatal.

Tak pernah merasa sendiri

Hari sabtu adalah hari membuli jomblo sedunia. Tapi mereka selalu berupaya menunjukkan: I am strong. Posting foto makan, baca buku, tiket bioskop. Sendiri, kadang dengan adik atau kakak, dan tentunya sesama kalangan jomblo. Dalam hatinya bagaimana? Strong juga… (((Stres tak tertolong)))

Adik-kakak sekali dua kali menemani kegiatan jomblo sih asik. Lama-kelamaan bosen juga. Demikian juga rekan sesama jomblo yang satu per satu sadar dan meninggalkan kejombloannya. Sama dengan rupiah yang terus dipersepsikan kuat dan bakal ditemani negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, China. Padahal Amerika Serikat akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Saat ini tengah digelar pertemuan Federal Open market Committee (FOMC) yang ujung-ujungnya bakal menyedot banyak dolar kembali ke negara asal, sehingga nilai tukar negara lain terdepresiasi. Rusia menaikkan suku bunga dalam negeri 650 basis poin menjadi 17%-an dan negaranya mengurangi impor untuk kesehatan ekonomi dalam negeri. China mempertahankan nilai tukarnya tetap rendah agar tetap bisa ekspor ke seluruh dunia dengan posisi tawar kuat. Seperti ini kok jadi teman rupiah?

Tidak ada teman sejati bagi rupiah, satu per satu ingin menyelamatkan hidupnya dan move on. Persis seperti kumpulan jomblo yang satu demi satu punya pacardan meninggalkan beberapa gelintir jones (jomblo ngenes) yang masih merasa memiliki jomblo fraternity.

Selalu ada jomblo yang lebih parah nasibnya

Ini adalah alasan jomblo yang paling jamak. Umur 30 ditanya kapan nikah? Jawabnya, ah santai saja, biar Arman Dhani duluan. Jomblo sombong yang defensif selalu menggunakan alasan tersebut, mirip dengan fenomena rupiah saat ini. Ketika rupiah terdepresiasi hingga Rp12.700 lebih, jawabannya: secara YoY (Year on Year), depresiasi Yen Jepang lebih parah yaitu 15%. Di ASEAN, Dollar Singapura dan Ringgit Malaysia sama, terjun 6%, sementara rupiah hanya terdepresiasi 2,5%. Keren kan?

Padahal, dengan impor pangan Rp100-150 triliun per bulan, dampaknya ke konsumsi masyarakat dirasakan langsung. Karena rupiah terdepresiasi, produk pangan impor akan semakin mahal. Itu sama sekali tidak keren.

Cinderella Complex

Ini juga penyakit jomblo. Cewek dengan tampang super premium sekalipun kerap terhinggapi sindrom ini. Kalau ada yang pedekate, selalu bergumam dalam hati: he’s not my ‘prince charming’. Saya yakin 14,5 dari 15 perempuan cantik yang jomblo akan berucap demikian ketika sosok seperti Agus Mulyadi melakukan pendekatan. Ini sama dengan rupiah. Selalu merasa akan ada sosok hebat nan sempurna yang akan mengulurkan tangan untuk memberi dukungan. Sering banget kasus begini muncul, sajake arep nulung padahal arep menthung. Misal, memperkokoh rupiah dengan mengurangi impor BBM melalui trader. Masuklah ide beli minyak dari Angola. Lah, Angola sendiri sedang susah produksi dengan harga minyak serendah sekarang. Boro-boro kasih diskon harga, bisa untung dari menjual dengan harga market saja sudah syukur.

Iklan

Inilah nasib rupiah, berharap ada pertolongan dan doa terkabul, eh yang datang malah dukun cabul.

Fenomenal kan kesamaan-kesamaan jomblo dan rupiah? Oleh sebab itu pemerintah harusnya lebih sungguh-sungguh memperbaiki nasib kaum jomblo secara nasional. Program-program pemerintah yang sungguh indah untuk memperkuat perekonomian republik ini tidak akan mampu berjalan selama pemerintah gagal mengubah mindset jomblo yang terlanjur berkarat, selamanya rupiah akan terus rapuh.

Berbagai kartu kesehatan, kesejahteraan, pendidikan, raskin, diberikan pemerintah sebagai bantalan kehidupan kaum marjinal. Mengapa orientasi pemerintah hanya program-program yang bersifat fisik? Mana program konseling untuk jomblo? Pesta rakyat untuk jomblo? Bukankah kebahagiaan batiniah kaum marjinal juga harus menjadi prioritas? Ingat! Sumber daya jomblo sangat penting untuk memperkuat ekonomi negeri dan stabilisasi rupiah. Pemerintah tidak boleh pilih kasih!

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: jombloRupiahRupiah Melemah
Kokok Dirgantoro

Kokok Dirgantoro

Artikel Terkait

Pejuang LDR Jogja-Jakarta makin nelangsa karena harga tiket kereta api mahal. MOJOK.CO
Ragam

Nelangsa Pejuang LDR Jogja-Jakarta, Tersiksa karena KAI dan “Hengkangnya” Sri Mulyani

11 September 2025
Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Krisis Ekonomi di Depan Mata? MOJOK.CO
Esai

Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu: Penyebab, Risiko, dan Strategi Menghadapi Potensi Krisis Ekonomi

8 April 2025
Ekonom UGM Bicara Soal Alasan Muhammadiyah Tarik Dana dari BSI Hingga Naiknya Nilai Tukar Dolar
Video

Ekonom UGM Bicara Soal Alasan Muhammadiyah Tarik Dana dari BSI Hingga Naiknya Nilai Tukar Dolar

9 Juli 2024
Salah Kalau Gue Jomblo?
Uneg-uneg

Salah Kalau Gue Jomblo?

22 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.