Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Tak Usah Marah Lihat Sandiaga Uno Langkahi Makam Kiai karena Nggak Tahu

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
10 November 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Video Sandiaga Uno melompati makam kiai nggak usah ditanggapi berlebihan. Nggak usah marah-marah gitu, namanya juga orang nggak tahu sopan santun. Eh.

Baru-baru ini beredar video Sandiaga Uno melompati sebuah makam yang diduga merupakan makam Kiai Bisri Syansuri. Kalau kamu nggak kenal siapa beliau, beliau merupakan pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang yang legendaris banget itu. Ya kalau Sandiaga Uno kan kamu nggak perlu dikasih tahu dia siapa.

Nah, Kiai Bisri ini merupakan salah satu dari sekian banyak kiai yang ikut serta mendirikan Nahdlatul Ulama. Bersama sahabat sekaligus saudara iparnyanya: KH. Wahab Chasbullah, kisah kehidupan Kiai Bisri Syansuri hampir selalu dikenali karena unik dan jenaka di kalangan santri.

Di video yang tersebar tersebut sebenarnya juga ada sosok Prabowo Subianto yang—tidak seperti Sandiaga —memilih melipir atau lewat memutar sedikit agar tidak melangkahi makam. Dalam hal ini Prabowo terlihat secara sekilas tahu mengenai sopan-santun atau adab seseorang berziarah. Sedangkan hal itu tidak tampak dari Sandiaga.

Perilaku ini tentu mengundang reaksi dari netizen yang terhormat, terutama mereka yang mengaku pernah mondok atau menjadi santri. Reaksi jengkel muncul secara spontan tentu bisa saya pahami. Bahkan tanpa seseorang pernah mondok sekali pun, melangkahi makam adalah tindakan yang tidak sopan.

Lha gimana? Kamu dengan sengaja melangkahi orang yang sedang tiduran di lantai saja bisa bikin keributan kecil. Sekarang coba bayangkan jika yang dilangkahi adalah tokoh pendiri Nahdlatul Ulama? Tentu kita bisa berdebat, lah itu kan orang tiduran, yang dilangkahi Sandiaga kan cuma makam?

Coba sekarang bayangkan ini, ada jenazah di dalam keranda, lalu ada orang yang dengan seenaknya melangkahi jenazah tersebut? Apa yang akan terasa di hati? Ngereges bukan? Perasaan itu pun muncul—bahkan—ketika jenazah itu bukan orang yang kita kenal.

Sekarang kalau jenazah itu keluarga kita? Atau orang-orang yang kita hormati? Apa nggak bikin jengkel itu namanya?

https://www.instagram.com/p/Bp9fP-lBLvf/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1mrq322zkewpa

Kecerobohan Sandiaga semacam ini sudah saya duga sejak beberapa waktu silam. Ketika muncul foto yang memperlihatkan Sandiaga bermain-main jurus “keseimbangan tubuh” di sebuah pemakaman umum.

Bermain-main di makam sebenarnya bukan sesuatu yang jelas dilarang dalam agama. Terutama jika yang bermain-main itu anak kecil. Tidak sopan iya, tapi apakah melakukannya jadi keluar dari aqidah? Ya nggak lah. Ini cuma persoalan sopan atau tidak.

Hanya saja, kesopanan itu jadi representasi paling dekat dengan akhlak. Kalau orang kok sopan santunnya nggak ada—masyarakat akan menilai orang ini bermasalah soal tingkah laku. Dan ketika yang melakukan sosok seperti Sandiaga, efeknya pun jadi berlipat ganda sampai ke mana-mana.

Satu hal yang jelas dari pemandangan itu: Sandiaga memang nggak biasa ziarah ke makam. Dan karena nggak biasa, ya dia nggak tahu.

Yang saya herankan adalah, jika memang Sandiaga nggak biasa ke makam, kenapa dia nggak bertanya dulu ke tim suksesnya; apa saja sih adab dan sopan-santun kalau kita sedang ziarah? Ketidaktahuan yang malah benar-benar jadi bumerang.

Iklan

Berniat ke Pesantren Denanyar untuk safari politik menggandeng suara para santri, eh malah melakukan tindakan su’ul adab dengan harfiah tanpa tedeng aling-aling. Tindakan yang malah jadi berbalik bikin santri geleng-geleng kepala ketika menyaksikan pemandangan itu.

“Ealah, makam kiaiku dilompati Bang Sandiaga.”

Ya ini bisa kita pahami, Sandiaga kan memang sering tinggal di luar negeri. Dulu pernah tinggal di Singapura beberapa tahun sampai bisa bedain harga makanan di Singapura dengan di Jakarta, bahkan sampai kuliah di Amerika Serikat cukup lama. Mungkin karena kebiasaan tinggal di luar negeri, jadi ya wajar kalau dia nggak paham sama tradisi di negeri sendiri.

Toh, kita kan juga tahu, kalau dalam agama ada golongan-golongan yang tidak bisa dikenai hukum apa pun, yakni; orang tidak sadar, orang tidak tahu, atau orang gila. Bisa jadi Sandiaga memang salah satu di antara tiga golongan itu.

Sebuah pertunjukkan paling banal tanpa sekat apa pun bahwa siapa Sandiaga sebenarnya bisa dilihat di adegan melangkahi makam tersebut. Ya dia orang biasa saja. Orang Indonesia yang tajir melilit, nggak tahu budaya rakyatnya sendiri di akar rumput karena terlalu paham sama budaya luar negeri.

Meski begitu, walau ada perasaan jengkel melihat tindakan Sandiaga itu, saya pikir kita nggak perlu untuk marah-marah sampai ngotot minta dia minta maaf. Nggak perlu saya kira caci-maki dialamatkan kepadanya yang ternyata buta betul sama adab masyarakat Indonesia. Yang perlu kita lakukan ya sellooow aeee~

Soalnya sosok yang dilangkahi Sandiaga itu sudah mengajari bagaimana menjalani kehidupan ini dengan selo. Ada banyak kisah-kisah Kiai Bisri Syansuri yang selalu diceritakan dari mulut ke mulut di banyak pesantren. Dan salah satu kisah paling menarik buat saya adalah ketika Kiai Bisri menggebrak meja saat mendebat Kiai Wahab Chasbullah dalam salah satu forum bahtsul masail.

Kedua kiai ini memang dikenal sering berbeda pendapat. Dan khusus pada saat itu situasinya agak memanas. Dua kiai ini sedang berdebat mengenai hukum bermain drumben di pondok pesantren.

Melihat Kiai Bisri menggebrak meja—entah karena berniat melucu atau bagaimana—Kiai Wahab Chasbullah yang digebrak mejanya membalas dengan menggebrak meja juga. Cuma yang bikin kocak, Kiai Wahab melakukannya pakai kaki.

Wah, jelas santri yang ikut forum itu girap-girap panik semua. Seorang kiai besar menggebrak meja pakai kaki ini tanda-tanda apa ini? Perdebatan keras itu sampai bikin muka kedua kiai legendaris itu memerah. Hal yang bisa dibaca dari kesaksian KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Kalau debat masalah hukum agama, muka mereka sampai merah. Gebrak-gebrakan meja, lagi. Tapi kalau sudah mendengar azan, mereka akan berhenti dan menuju masjid bersama-sama. Sudah tidak ada masalah,” kata Gus Dur.

Bahkan usai momen gebrak-gebrakan meja itu, kedua kiai ini malah saling berebut melayani makan siang ketika waktu istirahat tiba. Bercengkrama haha-hihi seolah tadi tidak ada kejadian apa-apa. Perdebatan dan segala perbedaan pendapat di forum tadi hilang tak membekas.

Hal yang sebenarnya juga bisa kita tiru. Oke lah kita jengkel, tapi tidak perlu deh diungkapkan dengan kemarahan sampai mencak-mencak—apalagi sambil bawa pentungan dan teriak takbir segala.

Soalnya, santri yang saya tahu bukan yang galak-galak begitu. Santri yang saya tahu nggak pernah berani melangkahi makam—apalagi kalau itu makam kiai besar. Santri yang saya tahu bakal hati-hati kalau sedang lewat di dekat kiainya—baik kiai itu dalam posisi hidup atau sudah wafat. Kecuali kalau santri itu: Santri Post Islamisme. Eh.

Terakhir diperbarui pada 10 November 2018 oleh

Tags: adabDenanyarmakamNahdlatul UlamaPondok PesantrenPrabowo SubiantoSandiaga Unosantrisantri post-islamismeziarah
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Tarawih di masjid Jogja
Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Wali Kota Agustina Wilujeng berharap pondok pesantren di Kota Semarang makin tertata usai Raperda disahkan MOJOK.CO
Kilas

Pengembangan 300+ Pondok Pesantren di Semarang agar Tak Tertinggal, Bukan Cuma Jadi Pusat Dakwah tapi Juga Pemberdayaan Sosial

31 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.