Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Bagaimana Cara Agar Suami Tidak Bisa Poligami?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
3 Agustus 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Siapa bilang perempuan salehah tidak bisa menolak poligami dengan cara-cara syar’i? Berikut sebuah cara yang nggak perlu pakai rumus kesetaraan gender dan khawatir dicap antek asing.

“Jadi begitu, Gus,” kata Fanshuri kepada Gus Mut.

Gus Mut cuma manggut-manggut saja sambil menyalakan rokok.

Baru saja Fanshuri bercerita soal saudara perempuannya yang akan dinikahi oleh saudagar kaya dari kampung sebelah. Malam itu, kehadiran ke rumah Gus Mut bukan mau bicara soal pesta pernikahan atau minta Gus Mut untuk memimpin ijab qobul nanti, melainkan karena muncul ketakutan dari Fanshuri soal calon suami sepupunya itu.

Soal kekayaan luar biasa si calon suami jelas tidak membuat Fanshuri jadi takut, akan tetapi Fanshuri baru saja tahu bahwa calon adik sepupu iparnya ini sering sekali aktif menghadiri pengajian-pengajian ustaz-ustaz yang gemar menyerukan untuk poligami. Apalagi dalam salah satu pengajian dengan tema poligami di kabupaten, si calon suami malah jadi salah satu penyandang dana.

Mengetahui informasi seperti itu, Fanshuri jelas tidak terima sepupunya dinikahi orang yang dalam dugaannya punya agenda poligami. Fanshuri cuma takut, jika nanti suatu saat, sepupu perempuannya ini akan dipoligami.

“Tapi kan, sepupumu itu—maaf tadi siapa namanya?”

“Munaroh,” jawab Fanshuri.

“Iya, si Munaroh tidak masalah kan menikah dengan si saudagar itu?” tanya Gus Mut.

“Ya jelas, Gus. Namanya sudah cinta. Tapi kan gimana? Aku sudah bilang ke Munaroh ini, juga sudah bilang ke si calon suaminya. ‘Awas lho ya kalo sampai berani-beraninya poligami sepupuku!’,” kata Fanshuri.

“Memangnya kenapa kalau nanti benar-benar poligami?” tanya Gus Mut.

“Ya itulah, sebelum semua terlanjur, ya Munaroh aku bilang pikirkan dulu sama si orang itu. Bener nggak orang itu benar-benar pas dengan pilihannya. Kalau masih bisa pindah ke lain hati, ya udah tinggalin aja,” jawab Fanshuri.

“Sebentar, Fan, aku tanya serius ini. Memangnya apa yang salah dengan poligami?” tanya Gus Mut lagi.

Ditanya begitu, Fanshuri agak terkejut. Pikirnya malam itu, Gus Mut akan sependapat dengannya.

Iklan

“Ya jelas dong, Gus. Nggak adil sekali dong. Seorang perempuan pasti merasa sakit hati kalau sampai diduakan sama suaminya. Apalagi si suami berlindung dari tafsir-tafsir Al-Quran begitu,” kata Fanshuri.

Gus Mut, masih mencoba mencerna kalimat demi kalimat Fanshuri.

“Gini, Fan. Aku nggak lihat satu pun alasanmu kenapa menolak poligami jadi sesuatu yang harus dilakukan. Kalau ini terkait sama sepupumu okelah, itu keluargamu, kamu khawatir—itu wajar. Tapi kok nada-nadanya kamu jadi benci pada poligami apapun bentuknya gitu?” tanya Gus Mut lagi.

“Soalnya sekarang ini makin gencar, Gus, seminar-seminar poligami. Seolah-olah kalau poligami itu bakal lebih saleh daripada yang tidak poligami. Malah jadi kebanggaan gitu. ‘Istriku dah 3 ini, kamu berapa?’. Seolah-olah mereka menganggap seorang perempuan begitu rendah saja. Dan aku nggak suka,” kata Fanshuri.

“Oalah, jadi ini cuma perkara suka dan nggak suka?” tanya Gus Mut.

“Iya, sih, tapi sekarang coba kalau Gus Mut yang jadi istri yang dipoligami. Bagaimana coba rasanya?” tanya Fanshuri.

“Ya jelas tidak tahu dong, Fan. Aku ini nggak pandai bernadai-andai jadi orang lain,” kata Gus Mut.

“Nah, sudah jelas sakit. Padahal ayat soal poligami kan tafsirnya bisa macam-macam kan, Gus?” kata Fanshuri yang kelihatan malam itu agak sedikit marah.

“Tapi kamu harus ingat, Fan, tidak ada satu pun tafsir dari ayat poligami yang menyatakan poligami itu diharamkan lho,” kata Gus Mut meminta Fanshuri hati-hati.

Fanshuri cuma terdiam.

“Hukum itu memang bukan perkara kita suka atau tidak suka, Fan. Apalagi soal agama. Tidak ada apapun yang disukai manusia di dalamnya. Coba soal salat saja, memang kamu suka salat? Coba sekarang aku tanya, lebih suka mana kamu? Mancing ikan di sungai apa salat?”

“Ya kalau waktunya salat ya harus salat dong, Gus, walau sedang mancing,” kata Fanshuri.

“Itu yang kau bilang ‘harus salat’. Tapi jika misalnya tidak ada kewajiban salat dari Allah, kira-kira kamu lebih suka mana?”

Fanshuri cuma terdiam. “Ya mancing sih, Gus,” kata Fanshuri pelan-pelan.

“Yang namanya kewajiban itu nggak ada yang enak, Fan. Kalau kewajiban dalam agama sampai pada tahap enak dikerjain, itu bisa jadi bukan kewajiban lagi, tapi sudah nafsu yang bermain. Jadi perlu dipertanyakan juga kalau misalnya ada ustaz, yang ceramah ke sana kemari. Lalu ketagihan, bilangnya kewajiban dakwah, tapi diam-diam dalam hatinya sudah menikmati dan bahkan terikat sampai pada tahap ketagihan. Ya harus hati-hati, bisa jadi yang tadinya niat berdakwah, berubah jadi ujub, takabur, dan malah nafsu yang dominan. Lalu jadi kenikmatan yang nggak bisa dilepas-lepas,” kata Gus Mut.

Fanshuri masih terdiam.

“Dalam ayat poligami pun kita juga harus hati-hati, Fan. Jangan sembarangan menuduh orang lain tidak layak melakukan poligami. Menuduh orang tidak bakal bisa berlaku adil. Itu urusan rumah tangga mereka, bukan hak kita mencampuri. Kalau memang tidak suka dengan itu, ya sudah cukup niatkan hati untuk tidak akan poligami saja. Jangan mencela mereka yang poligami,” kata Gus Mut.

“Ta, tapi, Gus, poligami kan bukti ada yang timpang,” kata Fanshuri. “Masa laki-laki seperti kita dibolehkan punya sampai 4 istri, sedang perempuan harus satu. Mereka pun kena berbagai macam aturan yang lebih memberatkan daripada laki-laki kayak kita,” lanjutnya.

“Nah, itu kalau orang yang lihatnya cuma dari sisi laki-laki saja, Fan. Dipikir Islam itu nggak adil apa ya sama perempuan. Sekarang begini, kamu pikir setiap laki-laki di bumi ini kena kewajiban dari Allah untuk tunduk, takluk, hormat, bahkan sendiko dawuh pada siapa?” tanya Gus Mut.

“Pada Allah?”

“Ya jelas kalau itu. Maksudnya tunduk pada sesama makhluk,” jelas Gus Mut.

“Siapa? Kiainya? Gurunya?” tebak Fanshuri.

“Bukan, tapi pada satu perempuan,” jawab Gus Mut.

“Istri?” tanya Fanshuri lagi.

“Bukan.”

“Lha terus siapa?”

“Ibu.”

Dijawab begitu, Fanshuri terdiam.

“Seorang anak laki-laki, punya kewajiban tunduk pada ibunya seumur hidupnya. Seumur hidup si anak lho ya, bukan sepanjang hidup si ibu. Bahkan ketika si ibu sudah meninggal pun, doa anak adalah salah satu yang bisa sampai langsung ke ibunya. Ini beda dengan anak perempuan, tunduknya pada ibu akan berakhir ketika dia nanti menikah. Ikut sama suami. Tapi suami yang diikuti oleh si anak perempuan ini pun tunduk pula pada ibunya, seorang perempuan. Artinya, setiap kepala laki-laki yang pernah hidup di dunia ini—kecuali Nabi Adam—punya utang bakti pada satu perempuan, yaitu ibu mereka masing-masing,” jelas Gus Mut.

Fanshuri terdiam. “Tapi, tapi, Gus…”

“Iya aku tahu. Rasanya memang adil kalau seperti itu cara pandangnya. Tapi memang ada banyak yang meningkatkan hukum poligami yang tadinya mubah, jadi seolah-olah sunah muakkad pada berbagai situasi dan kondisi. Dan, yah, itu memang bikin geregetan bagi kebanyakan orang,” kata Gus Mut.

“Tapi masa selemah itu kedudukan perempuan di dalam Islam jika di hadapan suami? Apalagi kalau misalnya menghadapi suami yang mau poligami?” tanya Fanshuri.

Gus Mut mendadak terkekeh.

“Fan, aku punya tips untuk sepupumu. Bagaimana caranya agar dia tidak akan bisa dipoligami nanti ketika sudah resmi jadi suami istri. Cuma aku pesan ini jangan sampai kamu ceritakan ke siapa-siapa kecuali ke sepupumu,” kata Gus Mut.

Fanshuri langsung bungah. “Nah, ini dia Gus, maksud kedatangan saya kemari.”

Gus Mut celingak-celinguk sebentar, lalu mendekatkan kepalanya ke kuping Fanshuri.

“Jadi jika sepupumu nanti—misalnya—benar-benar kejadian akan dipoligami. Coba tanya pada ibu mertuanya, alias ibu dari suaminya. Apakah rela jika anaknya melakukan poligami? Aku sih yakin, seorang perempuan lebih bisa berempati kepada sesamanya, ibu mertua ke menantu perempuan misal. Nah, kalau misalnya si ibu nggak kasih restu poligami. Gugur sudah hukum poligami yang sunah itu,” kata Gus Mut.

“Lha kok bisa, Gus?” tanya Fanshuri.

“Ya iya dong, mengikuti perintah ibu itu wajib. Jelas jauh di atas hukum poligami. Kalau sampai si suami nekat mau poligami padahal ibunya nggak merestui, wah Malin Kundang itu berarti,” kata Gus Mut yakin.

“Tapi, Gus. Kalau ibu si suami sudah meninggal gimana?”

Air muka Gus Mut berubah mendadak.

“Berarti pakai cara yang kedua.” Mendadak muncul suara dari Ning Fathonah, istri dari Gus Mut. Suara yang mengejutkan Fanshuri dan Gus Mut di teras depan rumah.

Ning Fathonah keluar sambil membawa dua buah kopi panas. “Ini ngomongin poligami sampai seru begini, aku di belakang sampai kedengeran lho, Mas,” kata Ning Fathonah.

“Ini diminum dulu, biar bahtsul masail-nya tambah asyik,” sindir Ning Fathonah sambil ikut duduk.

“Lha ini lho, si Fanshuri ini sepupunya…” kata Gus Mut mau menjelaskan.

“Iya aku tahu, aku dah denger, Mas Mut. Kalian cerita kayak lagi di hutan aja, kenceng banget,” kata Ning Fathonah.

“Lha tadi cara berikutnya apa Ning?” tanya Fanshuri. “Cara biar nggak bisa dipoligami.”

“Waduh.” Gus Mut mendadak seperti teringat sesuatu yang memalukan. Lalu ingin menghentikan Ning Fathonah bicara, tapi tak berdaya.

“Ini cara yang aku pakai waktu dilamar Mas Mut,” kata Ning Fathonah.

“Hah? Cara apa?” tanya Fanshuri penasaran.

“Jadi sebelum sepupumu dilamar, masukkan dulu prasyarat tidak boleh dipoligami dari keluarga si perempuan untuk dimasukkan pada akad ijab qobul nanti. Jadi, ijab qobul itu selain mensahkan hubungan suami-istri juga mensahkan larangan poligami di antara keduanya. Jadi poligami jadi sesuatu yang haram dari hubungan suami-istri tersebut, karena sudah ada akadnya,” kata Ning Fathonah.

Fanshuri seperti mendapat pencerahan luar biasa. Tapi, di saat hampir bersamaan juga muncul pertanyaan.

“Eh, berarti dulu Gus Mut waktu ijab qobul, ada syarat begitu juga dong, Ning?” tiba-tiba Fanshuri penasaran, “Emang Gus Mut ada potongan mau poligami dulunya?”

Ning Fathonah cuma cekikikan sambil beranjak berdiri, Gus Mut sudah kehabisan kata-kata.

“Ya nggak ada sih, cuma buat jaga-jaga aja,” kata Ning Fathonah langsung ngacir ke dalam rumah.

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2018 oleh

Tags: akadAllahantek asingFanshuriGus Mutibuijab qobulIslamkesetaraan genderpoligamisunahsyar'i
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co
Pojokan

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

6 Maret 2026
Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami para Caregiver MOJOK.CO
Esai

Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver

4 Maret 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.