MOJOK.CO – Usaha rumahan cuci sepatu langganan saya memulai usahanya dengan modal 2 juta. Setelah 5 bulan, sudah balik modal dan meraup untung.
Selama 2 tahun terakhir hidup di Surabaya, saya menjadi individu yang malas cuci sepatu. Rasa malas itu membuat saya memilih untuk menyerahkan sepatu saya ke tempat cuci sepatu.
Di Surabaya, khususnya di area kampus Unair, ada beberapa tempat cuci sepatu dengan tarif beragam. Mulai dari Rp30 sampai Rp55 ribu tergantung jenis dan durasinya. Makin mahal sepatunya dan makin cepat waktu pengambilannya, maka makin mahal biayanya.
Dari sekian banyak tempat cuci sepatu, saya punya satu langganan. Tempat cuci sepatu langganan saya ini usaha rumahan yang murah dengan waktu pengerjaan yang cepat. Maksimal 3 hari dari waktu penyerahan sepatu. Bahkan bisa lebih cepat.
Karena dulu sempat tertarik ingin punya usaha rumahan yang satu ini, saya kemudian bertanya-tanya soal bisnisnya. Mulai dari modal, omzet, dan strategi hingga hal-hal yang menjadi kesulitan dalam mengembangkan usahanya.
Satu pernyataan pembuka yang membuat saya agak sedikit kaget adalah, pengakuannya soal modal awal usaha rumahan cuci sepatu yang hanya sekitar Rp2 juta. Mendengar itu, saya agak ragu. Apakah modal segitu realistis?
Namanya usaha rumahan, ya mulai dari rumah
Namun semuanya tampak masuk akal karena usaha rumahan ya memang mulai dari rumah. Jadi, dia mengerjakan semuanya sendirian dan menggunakan metode pencucian manual. Sehingga, angka Rp2 juta jadi masuk akal.
Kalau membuat rincian, uang yang bahkan tidak cukup beli iPhone itu cukup untuk membeli beberapa jenis sikat, cairan pembersih, parfum sepatu, rak pengering sederhana, kain microfiber, sarung tangan, ember, kipas, plastik kemasan, serta perlengkapan kecil lainnya.
Jadi, dia tidak langsung membeli semua peralatan dan perlengkapan cuci sepatu dalam jumlah banyak. Terlebih, bahan-bahan seperti parfum dan cairan pembersih itu tahan lama. Menurut pemiliknya, yang penting sudah punya segala perangkat yang cukup untuk menunjang usaha rumahan ini selama beberapa minggu ke depan.
Teori bisnis untuk cuci sepatu level usaha rumahan
Kalau dalam dunia bisnis ini disebut dengan pendekatan lean startup. Maksudnya, merintis usaha dengan cakupan yang paling sesuai dengan kapasitas untuk melihat respons pasar, kemudian menambah peralatan dan kapasitas berdasarkan peningkatan permintaan.
Dalam proses awal usaha rumahan ini, dia menawarkan jasa cuci sepatu dari mulut ke mulut. Dia memanfaatkan relasinya di kawasan rumah, komunitas, dan dia sering membawa banner jasa cuci sepatu di beberapa titik keramain, misalnya di car free day area Tunjungan, dan lapangan olahraga seperti Koni.
Ada yang namanya modal sosial dan inilah yang dilakukan oleh pemilik cuci sepatu langganan saya. Selain itu, cara dia menempatkan banner jasanya di beberapa titik ramai juga masuk kategori guerrilla marketing, yaitu promosi dengan biaya rendah karena memanfaatkan tempat, momentum, dan keramaian.
Perhatikan tempat-tempat yang dia pilih. Dia memilih tempat-tempat yang isinya mayoritas orang-orang yang bersepatu dan memiliki potensi besar membutuhkan jasa cuci sepatu.
Selain itu, dia juga menawarkan jasa jemput dan antar untuk usaha rumahan ini. Di sini, dia mencoba memberikan diferensiasi layanan, karena dia tidak hanya menjual hasil jasa cuciannya, tapi juga kemudahan.
Jadi, dia biasanya akan membagi waktu jemput sepatu di jam tertentu. Misalnya setiap pukul 5 sore atau 7 malam. Ini akan membantu pelanggan, karena pelanggan tidak perlu datang dua kali untuk menyerahkan sepatunya.
Usaha rumahan seperti ini memang punya fondasi soal kepercayaan. Sebab, orang yang menyerahkan sepatunya yang harganya bisa sampai jutaan, tidak ingin sepatunya selesai dicuci tapi dalam keadaan rusak. Maka dari itu, kepuasaan pelanggan di awal-awal merintis adalah keharusan.
Mari menghitung angka untuk usaha rumahan cuci sepatu
Sekarang kita mulai masuk pada persoalan hitung-hitungan angkanya untuk usaha rumahan cuci sepatu ini.
Jadi, di awal usahanya, si pemilik cuci sepatu mematok harga untuk satu pasang adalah Rp30 ribu. Tarif itu sama untuk semua sepatu, baik itu sepatu harga Rp100 ribu dengan Rp1 juta. Namun, saat pelanggan membawa dua pasang, maka ada potongan Rp5 ribu. Jadi yang semula Rp60 ribu jadi Rp55 ribu.
Dari potongan itu, maka rata-rata tarif efektifnya menjadi Rp27.500 per pasang. Ini adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan volume sepatu dalam satu transaksi. Kalau pelanggan puas, efek dari ini juga terlihat dari perluasan penyebaran rekomendasi dari pelanggan cuci sepatu.
Bagaimana dengan tiga pasang sepatu, maka potongannya jadi Rp6 ribu, dan seterusnya. Setiap penambahan pasang sepatu, akan mendapat potongan seribu rupiah.
Prinsipnya, makin banyak sepatu yang dikerjakan, makin banyak juga orang yang melihat hasilnya. Efeknya, pelanggan bisa saja makin bertambah.
Perkembangan yang terjadi
Memasuki bulan ke-5 usaha rumahan ini berjalan, pemilik jasa cuci sepatu ini menerima sekitar 20 sampai 30 pasang sepatu selama seminggu. Kasarannya, kalau dia bekerja 6 hari dalam seminggu, maka setidaknya dia menangani sekitar 3 sampai 5 pasang sepatu per hari.
Jumlah itu tentu masih bisa dia kerjakan secara manual. Terlebih waktu penyelesain untuk setiap transaksi tidak harus satu hari.
Sepatu yang masuk hari ini, bisa dia cuci dan keringkan dulu. Untuk sentuhan akhir, bisa esok atau lusa. Dari sisi jumlah, dia agak membatasi mengingat masih mengerjakan semuanya seorang diri.
Apabila rata-rata pelanggannya membawa 2 pasang, maka terdapat 10 sampai 15 transaksi dalam seminggu. Dengan biaya efektif antara Rp27.500 hingga Rp30 ribu per pasang, maka perkiraan omset mingguan untuk 20 sepatu sekitar Rp550 ribu hingga Rp600 ribu.
Jika menerima 30 pasang, omzetnya sekitar Rp825 ribu hingga Rp900 ribu. Dalam sebulan, omzet kasarnya usaha rumahan cuci sepatu ini bisa berada di kisaran Rp2,2 juta hingga Rp3,6 juta, bahkan bisa jadi lebih tinggi kalau menghitungnya berdasarkan rata-rata 4,3 minggu per bulan.
Beban biaya yang wajib dipertimbangkan usaha rumahan cuci sepatu ini
Tapi, kamu harus paham bahwa omset bukanlah laba bersih. Pemilik usaha rumahan cuci sepatu ini masih punya beban biaya untuk membeli berbagai kebutuhan lainnya. Misalnya seperti cairan pembersih, parfum, sikat, kemasan, serta membayar air dan listrik.
Kalau biaya langsung untuk tiap sepatu di kisaran Rp5 ribu sampai Rp10 ribu, sisa pendapatan sebelum menghitung upah pemilik adalah sekitar Rp20 ribu sampai Rp25 ribu per pasang. Artinya, modal awal Rp2 juta dapat kembali setelah pemiliknya mengerjakan 80-100 pasang sepatu.
Rasanya, modal Rp2 juta sudah bisa kembali dalam proses 5 bulan awal usahanya. Bahkan sudah masuk masa untung karena 5 bulan setelahnya orderannya sudah menyentuh puluhan dalam seminggu.
Saat ini, usaha cuci sepatu langgan saya itu sudah memasuki tahun ketiga. Dan jumlah pesanan yang diterimanya sudah di atas 50 pasang dalam seminggu. Ini menandakan dalam sebulan dia setidaknya menerima 200-an pasang sepatu. Volume yang sudah mencapai ratusan sudah pasti membuat omsetnya sudah menyentuh angka jutaan rupiah.
Dalam kondisi yang begitu, usaha yang awalnya skala usaha rumahan dan dikelola dengan sederhana, harus bergeser ke pengelolaan yang lebih terencana, detail, dan sistematis. Terlebih menyangkut aspek operasional dan keuangan.
Sepatu harus dicatat agar tidak tertukar, kondisi saat penyerahan harus diperiksa, jenis bahan harus dibedakan dan dipisahkan, jadwal yang harus konsisten, dan waktu penyerahan kepada pelanggan mesti dijaga. Sebab semua itu punya pengaruh terhadap kepuasaan pelanggan.
Pada kondisi saat ini, tantangannya adalah mempertahan kualitas ketika volume transaksinya makin bertambah. Usaha rumahan sering menghadapi cobaan ketika mulai ramai.
Karena di situlah kemampuan manajemen operasional, keuangan, promosi, dan pelayanan pelanggan benar-benar mendapat ujian. Sedikit kekacauan dari salah satu aspek tersebut, misalnya soal pencatatan, maka kualitasnya dipertanyakan sehingga pelanggan berpotensi kabur.
Risiko usaha rumahan cuci sepatu
Meski kelihatan sederhana, usaha rumahan cuci sepatu juga tetap punya risiko. Jenis sepatu yang beragam mulai dari yang berbahan suede, kanvas, kulit, atau rajut, tentu punya penanganan yang berbeda. Kesalahan memilih sikat atau cairan bisa menyebabkan warna pudar, lem terbuka, dan permukaan sepatu jadi rusak.
Belum lagi ketika menghadapi pelanggan yang ngeyel ingin satu noda lama hilang sepenuhnya, tapi ketika dicoba, noda tersebut sulit hilang. Atau pelanggan yang mengira kerusakan muncul setelah dicuci.
Semua itu tak terhindarkan. Karena itu, mereka yang membuka usaha rumahan ini harus punya ketelitian, keterampilan, konsistensi, dan keberanian menghadapi komplain (yang kadang nyeleneh).
Tips untuk kamu yang mau memulai
Ada sedikit nasihat untuk mereka yang mau memulai usaha rumahan cuci sepatu. Pertama, mulai dari peralatan dasar. Tidak perlu membeli mesin yang langsung mahal. Kedua, belajar soal karakter atau jenis sepatu. Karena setiap sepatu beda cara mencucinya.
Ketiga, mulai menghitung biaya setiap pesanan. Misalnya untuk setiap pasang sepatu menghabiskan biaya berapa untuk cairan, parfum, air, listrik, kemasan, transportasi, penyusutan alat, dan tenaga kerja sebelum menentukan harga.
Keempat, belajar basa-basi dan sosialisasi. Karena ini efektif untuk proses melakukan promosi dari mulut ke mulut.
Kelima, jangan menerima pesanan melebihi kapasitas. Lebih baik menerima sedikit pesanan dengan hasil yang memuaskan pelanggan daripada buru-buru mengejar omzet di awal tapi usaha tidak bertahan lama.
Jadi pada intinya, usaha sepatu bisa kamu mulai dengan modal terbatas. Selanjutnya, jaga kualitas layanan, hasil, dan ketepatan waktu. Sebab itu yang membuat pelanggan percaya dan usaha rumahan cuci sepatu terus berkembang.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba? Dan tips finansial lainnya di rubrik CUAN.
