MOJOK.CO – Aldi’s Burger milik Aldi Taher itu bukti marketing yang paling efektif cuan padahal kelihatan absurd, bodoh, dan paling nggak masuk akal.
Aldi Taher kembali menggebrak media sosial beberapa pekan ke belakang. Tapi kali ini yang dia buat geleng-geleng bukan hanya warganet biasa. Para pakar marketing, copywriter, atau orang-orang agensi yang setiap hari bergelut dengan algoritma pun pusing saat melihat kelakuan Lord kita semua, Aldi Taher.
Saat brand-brand gede menghabiskan duit miliaran untuk riset pasar, A/B testing Meta Ads, dan ilmu-ilmu marketing yang paling anyar, Aldi Taher datang dengan gaya jualan yang paling “mentah”. Tanpa fafifu dan ilmu ndakik-ndakik, dia meluluhlantakkan tatanan ilmu marketing itu semua hanya bermodal urat malu yang sepertinya memang sudah lama putus tapi ujungnya cuan.
Ditampol bolak-balik oleh teknik marketing Aldi’s Burger yang cuan mampus
Sebagai orang yang berkecimpung di dunia media sosial dan marketing, ilmu saya yang tidak seberapa ini merasa dilucuti. Saya sibuk menulis kalimat promosi, bongkar pasang Call to Action, riset pola komunikasi dan target audiens agar terkesan sangat menarik.
Eh, lha dalah, Aldi Taher jualan Aldi’s Burger, modal promosinya cuma tebar spam komentar di lapak orang secara membabi buta tapi cuan. Berkeliling dari kolom komentar Instagram selebgram, mampir ke Threads artis papan atas, menyusup ke tweet viral di X, sampai nekat berkomentar di akun resmi brand multinasional sekelas Pizza Hut. Kemudian dengan entengnya hardsell vulgar:
“Aldi’s Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian bisa pesen online.”
Ya, Tuhaaaan ini pelajaran marketing mana yang sudah saya lewatkan?
Kelakuan Aldi ini adalah hard sell parah dan brutal. Saya rasa, bootcamp marketing jutaan rupiah juga tidak mengajarkan cara seperti ini.
Format kalimatnya sama sekali tidak mengindahkan subjek, predikat, objek, maupun tanda baca dasar. Apa itu AIDA, PAS, 4P atau format copywriting lainnya? Aldi nggak butuh itu semua.
Kelihatannya sungguh norak, sangat random, dan luar biasa nggak niat. Dan seharusnya langsung kena report as spam dong. Tapi inilah magisnya marketing ala Aldi Taher.
Aldi’s Burger adalah bukti kita lelah dengan marketing yang clean dan generik
Deretan kalimat promosi hard sell ekstrem Aldi Taher sama sekali nggak bikin ilfil. Saat netizen mulai peka, sekaligus uring-uringan, sama konten jualan yang muncul di linimasa mereka, konten absurd milik Aldi’s Burger justru bikin orang ikhlas menertawakan itu semua.
Tak cuma menertawakan, mereka juga dengan sukarela membagikan serta mengubah kalimat promosi itu menjadi meme gratisan berskala nasional. Hasilnya, promosi gratis.
Entah sengaja atau tidak, Lord Aldi Taher membuktikan dirinya sebagai Engineer User Generated Content yang paling works dan cuan se-Indonesia di tahun ini! Tanpa modal besar untuk bikin promo atau bayar KOL, ribuan netizen dan deretan selebritas rela “membuang waktu” demi ikut-ikutan menulis jargon aneh tersebut hanya untuk bisa membaur dalam euforia kelucuan massal.
Dari Nex Carlos hingga Sal Priadi, ikut-ikutan membuat unggahan modifikasinya sendiri. Mennnn, ini adalah organik level dewa. Lord Aldi bukan cuma S3 Marketing; dia adalah ilmu marketing itu sendiri.
Aldi Taher menelanjangi algoritma digital dengan sangat brutal
Fenomena Aldi Taher ini sesungguhnya sedang menelanjangi algoritma digital yang sangat brutal. Saat jari manusia hanya butuh waktu tiga detik untuk melewati sebuah postingan, konten sebagus, semahal, seindah, dan se-njelimet apapun, kalau tidak ada yang melirik di detik pertama, ya tidak bakal digubris, ngenes, dan tak nggak cuan.
Sebaliknya, konten ngawur dan receh tapi berhasil mencekik perhatian audiens secara instan, itulah yang bakal meledak dan viral.
Aldi Taher nampaknya sangat khatam dengan aturan main banal ini. Baginya, yang penting orang berhenti scroll dulu. Entah mereka berhenti untuk ikutan ngakak, misuh-misuh dalam hati, atau sekadar mbatin, “Ini orang waras apa ndak sih, jualan burger kok bawa-bawa nama istri orang?”
Ketimbang harus capek-capek berdarah-darah, keluar keringat dingin membangun kolam audiens dari angka nol, strategi Aldi’s Burger yang paling bajingan (dalam artian yang sangat positif dan cerdik) adalah membajak lalu lintas massa milik orang lain, atau bahasa kerennya traffic hijack.
Ngapain repot menggali kolam sendiri kalau kita bisa langsung mancing ikan pakai jaring besar di kolam orang lain yang sudah tumpah ruah? Dia sama sekali tidak lelah membangun traffic, dia nyelonong masuk kerumunan orang-orang terkenal.
Aldi Taher memanfaatkan konten yang sedang ramai, membonceng postingan artis papan atas, dan menyelusup ke dalam kolom komentar yang sedang panas untuk berpromosi.
Tak cuma ramai dan viral di konten, burger Aldi Taher memang layak dinikmati
Sehebat-hebatnya orang tertawa sampai terkencing-kencing melihat tingkah polah marketing out of the box dan keabsurdan organik, pada akhirnya sebuah bisnis kuliner tidak akan pernah bisa bertahan hidup kalau mesin kasirnya anyep. Viralitas yang luar biasa tinggi jika tidak disertai dengan strategi penentuan harga yang masuk akal, dapur nggak akan ngebul.
Di sinilah letak puncak kejeniusan dari seorang Aldi Taher yang bisa dijelaskan dengan ilmu marketing. Dia sangat sadar diri akan target pasarnya. Harga menu burgernya dibanderol amat sangat merakyat. Menu “Brother Burger” cuma Rp24 ribu, lalu ada “Big Brother” seharga Rp29 ribu, dan varian paling besar “Gallagher Burger” harganya Rp64 ribu.
Kombinasi maut antara popularitas yang sangat viral dan harga produk yang tergolong murah, otomatis menciptakan sebuah rumus psikologis yang tak terbantahkan, terutama untuk kelas menengah: “Yaudah lah, mumpung murah harganya masuk akal, coba aja sekalian membuktikan.”
Pelajaran marketing level dewa untuk mencari cuan dari Lord Aldi Taher
Mari petakan rentetan alur strategi funneling marketing yang sesungguhnya sangat high-level tapi dilakukan dengan cara paling absurd.
Mendapatkan perhatian lewat spam komentar absurd berubah menjadi rasa penasaran audiens karena melihat nama burgernya di mana-mana. Rasa penasaran ini kemudian mengkristal menjadi keputusan untuk iseng mencoba membeli karena harganya murah dan terjangkau, dan akhirnya semua itu bermuara pada transaksi dan cuan.
Semua tahapan customer journey marketing level dewa ini terjadi secara sangat natural dan organik. Ini tanpa Aldi Taher perlu menggunakan teori ndakik-ndakik atau rapat direksi setiap malam. Gerainya di Cempaka Putih antre panjang mengular, pembeli berjubel, dan ludes tiap hari!
Kadang, strategi marketing yang paling efektif, yang paling sanggup menembus barikade kebosanan konsumen, justru adalah metode yang kelihatannya paling nggak masuk akal sama sekali. Fenomena ini sekaligus menjadi potret sosial yang sangat valid tentang masyarakat kita.
Lha wong kita itu sudah lelah dengan struggle sehari-hari. Pusing cicilan pinjol dan harga barang pokok melonjak. Maka, masyarakat jauh lebih suka dan mudah terpikat ketika mendapat hiburan receh, omong kosong, dan komedi. Ngapain ikut mikir berat meresapi iklan yang fafifu wasweswps.
BACA JUGA: Aldi Taher Layak Menjadi Bapak Britpop Indonesia
Tinggalkan gengsi intelektual barang sejenak
Pada akhirnya, format hard sell vulgar dan tebar Unique Selling Point dalam kalimat “Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian” nyatanya terbukti sangat ampuh merobohkan benteng pertahanan konsumen di Indonesia dan akhirnya cuan.
Jadi, buat kita yang sampai hari ini masih suka mumet tujuh keliling mencari inspirasi, overthinking, dan rapat berjilid-jilid hanya untuk merangkai kata promosi ndakik-ndakik demi berjualan, saya sarankan mending tutup dulu laptopnya. Coba amati sosok Aldi Taher lekat-lekat.
Atau, keluarlah sebentar, rebahan dulu di kursi teras depan rumah, seduh kopi sasetan, sambil merenungi dalam-dalam. Betapa asyik, lucu, dan mengalir hidup ini kalau kita nggak usah terlalu memikirkan gengsi intelektual dalam mencari cuan.
Penulis: Deby Hermawan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Aldi Taher Itu Nggak Salah, Mindset Kita lah yang Perlu Dibenahi dan analisis menarik terkait marketing lainnya di rubrik CUAN.
