Bahaya Dolar ke Rupiah Makin Gila dan Tembus 17 Ribu, Lalu Menjadi Gambaran Negara Sakit yang Semakin Kritis, Masyarakat Kecil dan Perintis Perlahan Mati

Bahaya Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Negara Makin Gila! MOJOK.CO

Ilustrasi Bahaya Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Negara Makin Gila! (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.CODolar ke rupiah sudah tembus ke level paling buruk sepanjang sejarah. Terasa “biasa saja”, padahal menyimpan bahaya besar bagi bangsa.

Belakangan, setiap melakukan perjalanan, entah menggunakan motor, bus, kereta api, atau pesawat, saya punya kebiasaan baru. Sebuah kebiasaan yang sebetulnya membuat saya sering overthinking. Jadi, saat ini, saya jadi lebih sering mengamati dan menerka nasib para pedagang atau pengusaha kecil.

Pedagang gerobakan di pinggir jalan, penjual kopi di dekat terminal, warung makan kecil yang menempel di sudut gang, hingga para penjual jajanan murah seperti cilok atau pentol. Saya amati mereka masih semangat berkeliling sambil membunyikan sinyal penanda keberadaan dengan wajah penat dan pasrah.

BACA JUGA: Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

Masyarakat kecil dan para perintis yang merasakan dampak dolar ke rupiah tembus 17 ribuan

Sekarang, setiap kali melihat mereka, saya jadi membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu saya ikut pikirkan. Misalnya, berapa modal mereka? Harus berapa banyak yang mereka jual supaya dapat untung? Seberapa sering mereka harus menahan kerugian? Pertanyaan itu muncul padahal saya bukanlah pejabat apalagi presiden.

Tapi, melihat kondisi ekonomi saat ini, yang mana nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah anjlok lebih dari Rp17 ribu dan menjadi yang terparah dalam sejarah, pertanyaan itu menjadi sangat relevan. Terlebih bagi saya sendiri yang belajar soal ekonomi.

Sebab, ketika nilai tukar dolar ke rupiah sudah mencetak rekor seperti itu, persoalannya bukan hanya perkara grafik nilai tukar. Bukan juga tentang arus modal asing yang keluar, apalagi IHSG yang merah merona. 

Lebih dari itu, ketika rupiah nggak punya tenaga, hingga tembus 17 ribu lebih, adalah masyarakat kecil yang merasakan dampaknya. Selain mereka, para pengusaha kecil yang baru merintis juga menjadi korban.

Yang bikin rupiah semakin terpuruk

Kita memang nggak bisa menyamakan kondisi Rp17 ribuan sekarang dengan krisis moneter 1998. Saat itu, nilai tukarnya di angka Rp16 ribuan. 

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab krisis saat itu. Misalnya, krisis perbankan, utang valas swasta yang meningkat tajam sehingga banyak yang kolaps, inflasi tinggi, dan kepanikan politik dalam negeri. Akibatnya, kepercayaan pasar runtuh dan berefek pada anjloknya nilai rupiah.

Kondisi sekarang jelas berbeda. Salah satu pemicunya adalah geopolitik global (perang) sehingga berefek pada nilai dolar ke rupiah yang semakin gila. Selain itu, arus modal asing juga banyak yang keluar (banyak investor kabur). Meski begitu, faktor domestik sebenarnya juga punya andil.

Sebut saja dari bantalan fiskal yang mengkhawatirkan. Saat ini, APBN kita sudah defisit hampir 3 persen dari PDB yang batas legalnya menurut undang-undang adalah 3 persen. Anggaran belanja super jumbo untuk proyek-proyek yang berisiko seperti MBG dan Kopdes Merah Putih. Sudah begitu, masih ada tekanan terhadap subsidi energi dan pembayaran utang.

Dolar ke rupiah makin gila, cermin negara sakit

Kondisi ini menghasilkan beberapa penilaian dari lembaga eksternal terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Misalnya, lembaga pemeringkat kredit seperti Fitch yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. 

Kemudian, ada lembaga serupa seperti Moody’s juga memberi sinyal serupa dengan menurunkan outlook karena prediktabilitas kebijakan dianggap lemah. Kemudian, MSCI yang memberikan reputasi yang negatif soal transparansi pasar modal di Indonesia. 

Semua seolah menjadi cerminan buruknya kondisi ekonomi domestik di Indonesia. Sehingga, ketika situasi ekonomi global kian memanas, negara kita yang semula memang sudah sakit jadi makin kritis. 

Jika nilai tukar mata uang ini seperti suhu tubuh, ketika badai krisis itu datang, tetangga lain memang ikut naik suhu tubuhnya, tapi tidak mengkhawatirkan. Berbeda dengan negara kita yang langsung kena hipertermia karena suhu tubuh langsung melonjak naik secara drastis karena sedari awal memang sudah sakit.

Para perintis yang menderita

Jadi, menyebut kondisi hari ini tidak separah krisis 1998 adalah naif. Sikap tersebut menepikan fakta bahwa negara ini memang sedang tidak baik-baik saja. 

Namun, perdebatan soal kondisi saat ini sama atau tidak dengan 1998 sebetulnya hanya relevan bagi kalangan akademik, ahli, atau pejabat. Bagi pelaku usaha kecil, apalagi bagi mereka yang baru merintis, yang terasa adalah segala hal jadi terasa makin sulit.

Di pikiran mereka saat ini adalah soal menghitung. Apakah esok modal masih ada atau tidak? Masih bisa belanja bahan atau tidak? Pegawai atau karyawan masih bisa gajian? Masih sanggup bayar utang atau cicilan di bank?

Pelaku usaha yang jelas terdampak tentu saja mereka yang berhubungan langsung dengan barang atau jasa impor. Mereka yang membeli kebutuhan usaha melalui impor, seperti bahan baku, mesin produksi, dan jasa akan langsung berefek ketika dolar ker rupiah makin gila. 

Sebab, yang mereka tanggung adalah meningkatnya biaya produksi. Mereka beli barang dengan dolar, kemudian jual dengan rupiah. Ketika rupiah melemah, maka selisihnya bisa jadi ditanggung oleh kas usaha yang mereka jalankan atau dilempar ke konsumen.

Para perintis jelas menderita. Misalnya seperti mereka yang bergerak di bidang konveksi rumahan yang kain tertentu, benang, resleting, kancing, pewarna tekstil, mesin jahit, atau sparepart produksi yang sebagian berasal dari impor. Atau, usaha roti atau kue rumahan yang bahan-bahan seperti tepung berbasis gandum, susu, mentega, cokelat, keju, cup plastik, dan kemasan punya kaitan erat dengan rantai pasok global.

Dolar ke rupiah makin gila efeknya ke mana-mana

Pelaku usaha yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan barang impor tetap kena dampaknya. Warung makan kecil-kecilan misalnya. Namun, ayam atau telur yang mereka beli misalnya, datang dari para peternak yang kena dampaknya dari kenaikan harga pakan ternak.

Bahkan, usaha yang benar-benar tampak sederhana seperti starling, es teh jumbo, atau pedagang cilok tetap kena dampak dari menggilanya dolar ke rupiah. Mereka merasakan dampaknya via harga susu, kemasan plastik, dan ongkos distribusi.

Dan yang paling terasa dari semua itu adalah perspektif psikologi pasar. Ada rasa takut di sisi konsumen. 

Orang jadi lebih berhemat, lebih takut untuk belanja sehari-hari. Semua itu, ditambahkan dengan kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi yang signifikan. Tentu hal itu memukul daya beli masyarakat.

Dilema para pelaku usaha kecil 

Saat biaya produksi naik, pembeli tidak selalu bisa menerima kenyataan. Maka, pelaku usaha akhirnya berada pada posisi serba salah. Mau menaikan harga, pelanggan berpotensi pergi. Mengurangi ukuran atau kualitas, pembeli kecewa. Tapi, kalau menahan harga? Mau nunggu Trump tobat?

Skenario terburuk adalah produk yang tidak laku. Terlebih kita semua tahu bahwa berdagang adalah pilihan banyak orang ketika susah mencari kerja atau mereka yang telah kena PHK. 

Ini bikin ekosistem dalam negeri sekarang jadi oversupply sehingga kompetisi antara sesama pedagang sangat tinggi. Tapi, di sisi lain, demand-nya terbatas karena orang takut belanja. Banyak yang jualan, tapi yang beli nggak banyak.

Sulitnya akses ke modal karena dolar ke rupiah makin gila

Kita harus memahami satu hal. Yang tampak ramai di mata, tidak selalu berarti daya belinya kuat. Memang, orang masih nongkrong, jajan, tapi cara dan volumenya berubah. 

Dalam ilmu ekonomi, keramaian tidak selalu menjadi tanda ekonomi sedang baik-baik saja. Sebab, bisa jadi itu justru tanda orang sedang mencari hiburan paling murah agar tidak benar-benar depresi. Orang tetap ke pasar tidak selalu bermakna uangnya banyak, tetapi karena ada banyak kebutuhan dasar yang tidak bisa untuk tidak dibeli.

Di sisi lain, masalah pelik dari menggilanya dolar ke rupiah adalah akses ke modal. Mereka biasanya tidak punya tabungan usaha yang tebal. Mereka hidup dari perputaran arus kas dari tiap transaksi harian. Dalam situasi normal saja, kondisi begitu sudah sangat sulit, apalagi ketika harga bahan naik sementara stok harus tetap terpenuhi. Tentu, ini membuat kebutuhan modal jadi meningkat.

Umumnya, solusinya adalah mengajukan kredit ke bank. Masalahnya, kita semua tahu bahwa pengajuan kredit ke bank tidak semulus aliran dana MBG

Bank akan melihat arus kas, performa usaha, dan aspek kelayakan lainnya. Pelaku usaha yang baru merintis tentu kesulitan memperoleh kredit ketika kelayakannya tidak terpenuhi. Ketika dolar ke rupiah makin gila dan negara krisis, bank akan makin selektif untuk ngasih kredit. Kondisi ekonomi yang nggak pasti jadi meningkatkan risiko gagal bayar oleh pelaku usaha,

Memang ada KUR. Tapi, program itu tetap disalurkan melalui bank yang punya SOP kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Perbankan tentu nggak mau nanggung risiko. Di sinilah ujian pelaku kecil dan perintis makin sulit. Mereka butuh modal murah tapi sulit dapat aksesnya.

Dolar ke rupiah menggila juga mencekik bank

Alternatifnya, mereka akan beralih ke lembaga seperti koperasi, BPR, pinjaman online, atau pinjaman informal demi akses modal. Tetapi, mereka harus membayar alternatif ini dengan biaya yang lebih mahal, yaitu bunga pinjaman tinggi. Di sini bisa dilihat bahwa menggilanya dolar ke rupiah juga berefek pada sempitnya akses modal yang murah dari perbankan.

Nggak berhenti di situ, masalah juga dihadapi oleh mereka yang sudah berhutang. Jadi dalam mekanisme makro ekonomi, situasi naiknya inflasi dan tekanan terhadap rupiah akan mendorong Bank Indonesia menaikan suku bunga perbankan. 

Mungkin sekarang masih dipertahankan di kisaran 4,75 persen. Tapi, ketika situasi krisis tidak kunjung berubah, kenaikan suku bunga adalah keniscayaan.

Saat suku bunga dinaikan, bunga pinjaman ikut naik. Sehingga, angsuran yang ditanggung tiap bulan jadi bertambah, terutama pelaku usaha kecil yang menanggung kredit berbunga mengambang atau kredit konsumtif untuk modal usaha. 

Ketika dolar ke rupiah makin gila, pelaku usaha jadi menanggung beban yang berlapis. Yaitu biaya produksi yang naik, pembeli yang berhemat, akses kredit yang semakin terbatas, dan cicilan yang makin memberatkan. Dalam kondisi yang tak menentu ini, pelaku usaha nggak bisa hanya menunggu rupiah menguat sambil berharap pejabat jadi pahlawan kesiangan.

Tips untuk pelaku usaha kecil dan perintis menghadapi gilanya dolar ke rupiah

Ada beberapa pegangan yang mungkin bermanfaat bagi para pelaku usaha kecil dan perintis ketika dolar ke rupiah makin gila. Pertama, datang dari nasihat Warren Buffet tentang pentingnya menjaga arus kas.

#1 Jaga arus kas

Pelaku usaha yang baru merintis sebaiknya tidak terlalu agresif memperbesar stok demi mengejar volume penjualan. Strategi itu berisiko membuat arus kas jadi terbebani ketika nggak laku. 

Ada baiknya tetap menjual dengan stok yang konsisten untuk menjaga kas tetap aman. Karena bertahan dengan kas yang sehat jauh lebih baik daripada harus menggebu-gebu mengejar tingginya omset. 

Hal penting lain soal kas adalah disiplin memisahkan uang usaha dan pribadi. Ini terdengar klise tapi memang jadi salah satu pondasi untuk menjaga arus kas usaha tetap sehat. 

Selain itu, dalam situasi harga yang selalu berubah, pencatatan harian soal pemasukan, pengeluaran, stok, utang, piutang, dan cicilan akan memberikan gambaran jelas bagaimana arus kas sebuah usaha.

#2 Fokus kepada pelanggan 

Pelajaran kedua datang dari Jeff Bezos. Jadi, ada gagasan darinya soal customer obsession dalam bisnis. Prinsip ini mendorong pengusaha untuk fokus pada pelanggan alih-alih sibuk mengamati pesaing. 

Karena, seperti yang saya bilang, berdagang di Indonesia adalah alternatif bagi banyak orang untuk mencari uang. Jadi, kalau fokusnya ke pesaing, itu membuat pelaku usaha jadi gila karena minder terus. 

Ada baiknya fokus untuk memahami kemampuan beli pelanggan di tengah krisis dolar ke rupiah. Berikan produk yang baik, ketahui profil pelanggan terlebih jika produk kalian adalah produk berulang yang dikonsumsi. Jangan asal ikut perang harga karena melihat pesaing menurunkan harga lebih murah. 

Cara paling sederhana bisa membuat pilihan harga bertingkat, misalnya tetap tersedia produk regular, tetapi juga membuat paket hemat yang menggabungkan beberapa produk. Atau bisa juga menawarkan varian yang lebih minimalis dengan harga terjangkau tanpa mengurangi kualitas.

#3 Ketika dolar ke rupiah makin gila, fokus kepada kualitas produk 

Pelajaran ketiga datang dari gagasan Eric Ries soal Lean Startup-nya. Gagasan ini fokus pada upaya pelaku usaha untuk melihat apa yang benar-benar dibutuhkan pelanggan, menganalisa respons mereka, lalu memperbaiki produknya. 

Jadi, alih-alih terburu-buru menambah variasi produk biar kelihatan lengkap, gagasan ini mendorong seseorang untuk fokus dalam membangun, mengukur, dan mempelajari produk yang dibutuhkan pelanggan. Ini membuat pelaku usaha jadi bisa mengatur stoknya lebih efisien. Karena stok yang disediakan benar-benar datang dari permintaan, bukan terkaan. 

#4 Sabar diri ketika menghadapi krisis dolar ke rupiah

Pelajaran keempat adalah tentang bertahan, memahami pasar, dan membangun bisnis yang punya bantalan modal internal kuat. Di kondisi seperti ini, semua itu bisa terwujud ketika pelaku usaha bisa sabar untuk tidak cepat mengambil porsi yang besar dalam tiap laba bersih. 

Ambil untuk diri sendiri hanya 15-25 persen dari keuntungan bulanan. Sisanya untuk biaya modal, operasional (karyawan, perawatan alat produksi) dan simpanan untuk usaha.

BACA JUGA: Di Kudus, Sampah Tak Berharga Bisa Diubah Menjadi Uang dan Emas

Dukungan dari pemerintah 

Ingat, beberapa pelajaran di atas tidak akan berjalan lancar ketika pelaku usaha tidak mendapat dukungan. Mereka tetap butuh ekosistem yang lebih adil, mulai dari akses modal yang murah, pendampingan bisnis yang praktis, perlindungan dari pinjaman yang gagal bayar, stabilitas harga bahan pokok yang dijaga, dan kebijakan yang nggak hanya indah dan gagah dalam pidato acara kenegaraan. 

Terlepas dari semua itu, ternyata overthinking saya setiap melihat pedagang memang beralasan. Mereka nggak butuh omong kosong soal APBN kuat, ekonomi terkendali, delusi bangsa besar, atau MBG adalah solusi. Sebab, pada akhirnya, gilanya dolar ke rupiah terlalu eksklusif kalau hanya dibicarakan hanya sebatas soal stabilitas makro. 

Yang lebih membumi adalah dampaknya dari sudut warung kecil, dapur produksi rumahan, toko online yang baru punya beberapa pelanggan, penjual makanan yang masih menghitung untung dari selisih ratusan rupiah, atau perintis usaha yang setiap malam membuka kalkulator untuk menghitung sampai kapan dia bisa bertahan.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu: Penyebab, Risiko, dan Strategi Menghadapi Potensi Krisis Ekonomi dan artikel mencerahkan lainnya di rubrik CUAN

Exit mobile version