Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengapa Jogja Seharusnya Bersyukur Para Alay Merusak Taman Bunga?

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
1 Desember 2015
A A
Mengapa Jogja Seharusnya Bersyukur Para Alay Merusak Taman Bunga?

Mengapa Jogja Seharusnya Bersyukur Para Alay Merusak Taman Bunga?

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jogja seharusnya bersyukur karena masih punya alay. Tanpanya, saya tidak yakin orang Jogja akan menyadari kalau di daerah mereka, di Gunung Selatan, sedang dikembangkan tanaman yang untuk menyebut namanya pun harus gugling dulu (sudah gugling, ngabisin kuota, masih salah pula).

Jika anak alay tak muncul, Jogja akan dipenuhi oleh orang-orang seperti Elanto Wijoyono, laki-laki serius yang bulan Agustus lalu menghadang konvoi moge dan merekam praktik pungli di salah satu pos punglisi. Yang belum dilakukan oleh Kota Jogja terhadap anak alay adalah mengoordinir mereka dengan baik dan benar.

Untuk soal yang satu ini, Jogja masih harus belajar banyak dari Jakarta, ibukotanya para alay.

Di Jakarta, kota yang dipimpin oleh gubernur paling galak sedunia, anak-anak alay diberdayakan sedemikian rupa dan sebagai penggerak roda perekonomian. Tapi tidak perlu juga studi banding sampai ke Jakarta. Ini zaman teknologi, televisi sudah memberi informasi yang cukup memadai. Lihat saja bagaimana mereka ada di acara musik pagi di televisi sampai acara talk show tengah malam. Dua puluh empat jam sehari. Anak alay tidak pernah tidur. Mereka ada dan berlipat ganda!

Anak alay juga sebenarnya mampu mengubah wajah industri pertelevisian, seandainya para pekerja televisi kita tahu kalau potensi mereka itu lebih dari sekadar menjadi penonton bayaran dan bersorak eaa-eaa. Televisi bisa mengubah kebiasaan mereka menertawakan ulah menggelikan orang desa yang kagok ketika berada di kota.

Mereka bisa berhenti memutar film Mas Slamet–anak juragan tembakau yang dimainkan Wahyu Sardono–di film Gengsi Dong, atau mencegah Kabayan versi Didi Petet saba ke Kota Jakarta. Atau berhenti menertawakan Mandra yang kagum pada pintu garasi otomatisnya Sarah. Atau berhenti menggambarkan pemuda-pemuda Jogja dan Bali yang berlogat medhok di FTV, yang selalu inferior di hadapan cewek-cewek ibukota.

Anak alay sudah membuktikan: kalau orang kota main ke desa, mereka tidak kalah noraknya.

Pokoknya, tanpa anak alay, Elly Sugigi tidak akan bisa kawin sampai empat kali, eh, maksud saya, tanpa anak alay, industri pertelevisian akan sepi. 

Negeri ini bukannya tidak pernah mengalami krisis anak alay nasional. Tahun-tahun ketika Bapak yang “itu” berkuasa di masa yang disebut Orde Baru, semua orang alay dimusuhi secara massif dan terstruktur. Tidak ada buruh yang berdemo minta kenaikan gaji. Mereka adalah alay. Nuntut gaji kok lebih tinggi dari karyawan kantoran kelas menengah. Lebay! Anak-anak muda yang baru membaca manifesto komunis juga alay, berani-beraninya bermimpi untuk demokrasi. 

Sekarang saja mereka diberi label yang mentereng: Kuminis Gaya Baru. Hasilnya? Yeah, mereka ada dan berlipat ganda!

Tanpa anak alay, acara televisi waktu itu ya gitu-gitu aja. Nggak pernah ada hiburan absurd joget kocok-jemur. Pagi ada siaran Bapak itu lagi jogging; siang, Bapak itu lagi menerima kunjungan duta besar negara tetangga; sore, Bapak itu lagi panen padi; dan malamnya, Harmoko melaporkan semua hal yang sudah kita tonton dari pagi sampai sore tadi (anak alay ada yang kenal Harmoko?).

Masih berpikir kalau zaman Bapak itu lebih enak dari zaman sekarang? Pikirkan lagi.

Nah, tapi kalau Jogja terlanjur membenci anak alay yang merusak taman bunga di Gunung Selatan tadi, tapi enggan meniru cara Bapak yang itu, mungkin mereka bisa belajar dari kota saya, Malang.

Di Malang, populasi anak alay masih sedikit–kalau bukan tidak ada. Bertahun-tahun tinggal di tempat yang berjuluk Kota Bunga, saya masih belum tahu harus ke mana kalau mau berfoto selfie sambil rebahan di atas bunga seperti Princess Syahrini atau anak alay Jogja.

Iklan

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari jasa orang-orang serius yang membangun Kota Malang. Orang-orang serius ini mengalih-fungsikan taman-taman di Kota Malang. Taman Indrakila sudah jadi perumahan mewah, Taman Kunir sudah jadi Kantor Kelurahan, ruang terbuka hijau di sebelah Stadion Gajayana sudah jadi mal dan hotel, dan sekarang mereka sedang merevitalisasi–apa pun artinya itu–hutan kota Malabar.

Anak alay di Malang, kalau ada, mau selfie di mana? Mau selfie di mal sudah terlalu mainstream, mau selfie di rumah mewah takut dimarahi satpamnya. Masak selfie di kantor Kelurahan?

Kalau pun ada alay di Malang, mereka sekarang terlalu sibuk bekerja di Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Merekalah yang punya ide untuk mengecat pohon beringin berumur ratusan tahun di Alun-alun Kota Malang dengan cat warna-warni. Mengetahui hal tersebut, Abah Anton, walikota Malang, jelas geram dengan ulah para anak alay anak buahnya itu.

“Saya sedang berada di Jakarta. Lihat di facebook, sudah ramai soal beringin dicat itu. Masyarakat mengira saya yang menginstruksikan. Saya langsung perintahkan untuk kembalikan beringin seperti semula,” katanya.

Pantas saja Pak Wali gak tahu, lha sibuk fesbukan. Sampeyan walikota apa alay?

Jadi, buat para alay, saya ingin berkata: “Tetap alay, tetap lebay. Saya bersamamu.” Dan buat orang-orang yang sudah terlanjur marah-marah–dan karenanya terlihat semakin tua–perkara kelakuan anak alay di taman bunga di Jogja, saya cuma bisa bilang: “Salah siapa? Salah gue? Salah keluarga gue? Salah temen-temen gue?”

“Suka-suka gue dong!”

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: AlayAmaryllisbungaGunung KidulJogjaSelfietaman bungaYogyakarta
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Nasib Suram Pekerja Jakarta Rumah di Bekasi, Dituntut Bekerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

17 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.