Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Mop

Siasat Menaklukkan Profesor Ahli Agama, Sampai Indonesia yang Nyaris Ikut Piala Dunia

Saleh Abdullah oleh Saleh Abdullah
16 Oktober 2018
A A
Ahli-agama-dan-piala-dunia-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada sebuah siasat untuk menaklukkan seorang profesor ahli agama dan di Papua, Indonesia hampir saja ikut Piala Dunia. Seperti apa MOP yang terucap. Mari sudah.

Pagi di muka kantor Kampung Purwahab Tonggoh, Fakfak Barat, saya sedang ngobrol dengan Kepala Kampung Abdurrahman Patiran, ketika Sekretaris Distrik (Sekdis) melintas dan berujar: “Selamat pagi Pak Mualaf.” Saya terkejut mendengar sapaan itu.

Pak Sekdis dan Pak Kepala Kampung tertawa. “Nanti minta dong kasih cerita asal-usul dorang dipanggil Pak Mualaf,” kata pak Sekdis. Mualaf berarti orang yang akan atau baru pindah ke Islam dari agama lain. Makanya saya terkejut. Setahu saya, pak Kepala Kampung adalah seorang muslim.

“Jadi begini, Pak. Dulu saya kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi. Semester empat, saya berhenti kuliah. Nah, karena mau nyalon jadi anggota DPRD, yang salah satu syaratnya adalah pendidikan tamat kuliah, minimal S1, maka saya kuliah lagi di STAIN Fakfak. Nah, ketika mau selesai, saat ujian akhir, saya diuji oleh seorang profesor ahli agama. Saya ditanya: “Ko bisa baca Alquran?” Saya bilang tidak bisa! Profesor ahli agama bingung dan tanya lagi: “Sudah mau selesai dari STAIN, kok tidak bisa baca Alquran?” Saya bilang saja: Saya seorang mualaf, Pak. Baru masuk Islam. Pak profesor tersenyum dan kelihatan senang. “Wah, bagus kalau begitu. Saya kasih kau nilai A.”

“Tapi apa Bapak memang tidak bisa baca Alquran, kah?”

“Ah, saya bisa, Pak. Itu cuma siasat tipu-tipu saja, Pak. Karena kalau saya bilang bisa, saya akan diminta baca Alquran. Dan, ini yang berat, setelah baca Alquran saya pasti ditanya-tanya pengetahuan lain terkait Alquran seperti ilmu tafsir, sejarah turun ayat-ayat, dan lain-lain. Jadi panjang urusan, to? Kasihan saya. Profesor ahli ilmu agama yang saya hadapi ini, Pak. Jadi saya pakai siasat kasih tunduk Profesor.”

“Sejak itu saya dipanggil Mualaf. Jadi, nama lengkap saya Abdurrahman Mualaf Patiran SAg,”

“Bukan main. Mestinya kasih satu gelar lagi, AsN. Ahli Siasat Ngeles. Su berapa lama jadi Kepala Kampung Purwahab?”

“Tiga tahun, Pak. Su tiga kali ulang tahun Kampung.”

“Tanggal berapa ulang tahun Kampung?”

“Sama persis dengan ulang tahun sa pu maitua.”

“Wah, kebetulan kapa?”

“Tidak. Itu memang saya yang atur. Saya pernah dipanggil Pak Kepala Distrik. Dorang ada tanya-tanya alasan saya buat HUT itu sama. Saya bilang ke Pak Distrik: setuju tidak setuju, barang itu su jadi. Su tiga kali ulang tahun Kampung dibuat pada hari sama dengan sa pu maitua tercinta. Jadi, salahkah saya menunjukkan cinta pada Kampung yang saya pimpin, seperti saya mencintai istri saya?”

“Subhanallah. Semangat pengabdian kepada kampung dengan aroma kegenitan yang mulus.”

Iklan

“Mari hisap Mahituninya, Pak,” pak Abdurrahman menyodorkan tembakau Fakfak dan Pandoki (daun Nipah).

Indonesia ikut Piala Dunia jugakah?

Putaran Piala Dunia 2018 di Rusia kemarin baru berjalan. Beberapa pertandingan sudah digelar, dengan beberapa kejutan. Dan orang Papua bisa membuat perebutan piala Jules Rimet itu, paling berbeda karena kemeriahannya.

Di sebuah beranda di Kota Sorong, bersama beberapa teman dari Nabire, Manokwari Selatan, Fakfak, Lani Jaya, Distrik Makbon Sorong, dan lainnya kami terlibat perbincangan “panas.” Ada pendukung Jerman, Brasil, Prancis, dan Belanda yang serba salah karena tidak lolos kualifikasi. Tidak mungkin perbincangan model begini di Papua tanpa gelak tawa.

Pendukung Jerman: “Brasil curang! Dorang pu pemain itu pakai nama gabungan Malaikat dan Tuhan: Gabriel Jesus. Siapa berani berhadapan tekel laki-laki dorang? Wasit berani hukum pace kase kartu? Mo kualat kapa? FIFA seng benar buat aturan, ini. Mustinya pemain dengan nama begitu tidak bole main. Atau pace diminta ganti nama dolo.”

Pendukung Brasil: “Masuk neraka paling bawah, mo ko? Ko pikir tim-tim dari Arab dan Afrika tra ada nama-nama seperti Mohammad?”

Pendukung Belanda: “Sa sebenarnya dukung mati Holland. Tapi Holland tra masuk Piala Dunia kali ini. Sa dukung Prancis sudah!”

Pendukung Argentina: “Kenapa ko pindah Prancis?”

Pendukung Belanda: “Dorang pu warna bendera sama, to? Tiga warna: merah, biru, putih.”

Urusan bendera timnas yang didukung ini, mungkin hanya di beberapa tempat di Papua, yang betul-betul fenomenal.

Sepertinya memang orang Papua yang paling siap dan paling bergairah dalam menyambut Piala Dunia. Masyarakat lain malu-malu atau, kalau istilah politisnya berada di wilayah abu-abu, untuk tak menyebutnya oportunis. Apalagi para penjudi yang mikirnya hanya menang taruhan.

Para pendukung sebuah timnas Piala Dunia mengibarkan bendera timnas di muka rumah, atau bahkan di atas pohon tertinggi di halaman rumah. Sebuah kawasan jadi betul-betul seperti kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan bendera negara-negara anggotanya. Yang ketiban untung adalah para penjahit karena mendapat banyak order membuat bendera. Tapi di sini jugalah masalah itu terjadi.

Seorang anggota polisi yang diminta komandannya untuk membuat bendera Merah Putih yang baru, pergi ke seorang tukang jahit memesan dibuatkan bendera Merah Putih.

Tukang jahit: “Jadi Indonesia ikut Piala Dunia juga, kaka?”

Polisi: “Ko menghina, ya?” Plak. Plok, tukang jahit kena tampiling.

Piala Dunia 2018 berjalan dengan sejumlah kejutan. Beberapa timnas non unggulan ternyata menunjukkan permainan solid dan rapih dengan serangan-serangan balik berbahaya, katimbang timnas-timnas unggulan.

Argentina yang bertabur bintang tapi mempunyai pelatih selevel KW 5, ditahan imbang timnas pasukan Thor dan Odin, Islandia, dan lalu dikalahkan Kroasia 3-0! Meksiko menjungkalkan sang juara dunia Der Panzer, 1-0. Brasil susah payah dan penuh drama untuk bisa mengungguli Kosta Rika.

Ketika Jerman melawan Swedia dan gawang Der Panzer dibobol Swedia di babak pertama, seorang teman (jelas bukan pendukung Jerman) di grup medsos Papua berkomentar: “Panser Jerman rante talapas. Kurang oli, kapa?”

Ketika gawang Jerman dibobol Swedia, seorang teman Papua langsung mengaplod foto seorang perempuan suporter Jerman yang sedang berurai air mata dengan gambar bendera Jerman di pipinya. Keterangan foto yang penting: “Adik, jan ko manangis sayang. Nanti sabantar kaka akan menang. Kaka akan mangamuk, adik! Ko duduk bae-bae sudah!”

Tiba-tiba pak Domy, penyuluh kesehatan dan HIV/AIDS yang baru selesai memfasilitasi diskusi kelas, ikut nimbrung di obrolan beranda itu. Dia langsung mensleding fokes perbincangan lintas negara itu.

“Mace orang Manokwari dorang punya istilah bagus. Dorang bilang celana pendek, jadi celana dekat. Celana panjang dong bilang celana jauh. Jantung dorang bilang pusat kehidupan. Lalu dorang ada tanya apa itu free sex. Sa bilang itu disingkat BNS, Baku Naik Sambarang.”

Pesan moral buat para linguistik, bijaksanalah.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2018 oleh

Tags: ahli agamamopmualafPapuaPiala dunia
Saleh Abdullah

Saleh Abdullah

Artikel Terkait

literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO
Ragam

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Lupakan Garuda Indonesia, Pesawat Terbaik Adalah Susi Air MOJOK.CO
Otomojok

Lupakan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air: Naik Pesawat Paling Menyenangkan Justru Bersama Susi Air

10 Desember 2025
Rugi Buka SPBU di Papua? DPR Bisanya Cuma Omong Kosong MOJOK.CO
Esai

Rugi Buka SPBU di Papua? Kalau DPR Menantang, Korporasi Bisa Menantang Balik karena DPR Cuma Bisa Melempar Retorika

3 Oktober 2025
Sejarah Indonesia Berisi Kekerasan dan Negara Paksa Kita Lupa MOJOK.CO
Esai

Sejarah Indonesia Berisi Luka yang Diwariskan dan Negara Memaksa Kita untuk Melupakan Jejak kekerasan itu

30 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.