Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cerbung Berbalas Fiksi

Tak Ada Bintang di Langit Betlehem, tapi Ada Sepiring Kematian di Depan Kita

Sabda Armandio oleh Sabda Armandio
6 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Baca cerita sebelumnya di sini.

Saya bilang kepada Bambang bahwa album metal progresif terbaik di atas tahun 2000 adalah Kezia dari Protest the Hero dan ia harus mendengarkannya sebelum menceritakan sahabat SMA-nya, Kamu. Waktu itu tahun 2010, ia berusia 27 dan bekerja sebagai pegawai biasa di sebuah kantor di Jakarta Barat. Ia berangkat dari rumah di Bojonggede pukul setengah tujuh pagi, naik kereta ke Stasiun Tanah Abang, lalu melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum ke pusat bisnis di Meruya. Ia melakukan rutinitas itu selama tiga bulan, sampai gajinya cukup untuk membayar indekos di dekat kantornya.

Iklan

Ia menyerahkan draft tulisannya, yang ia tulis sejak lulus SMA, untuk meminta masukan dari saya. Dari paragraf pertama saya sudah menduga antusiasmenya terhadap pesimisme dan dunia musik. Saya bertanya buku apa yang sudah ia baca enam bulan terakhir dan album musik apa yang sedang ia dengarkan. Ia menyebutkan satu nama, Arthur Schopenhauer, lalu menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan album All’s Well That Ends Well dari Chiodos, kemudian menambahkan bahwa ini adalah album di atas tahun 2000 terbaik. Dua indikator itu menjelaskan segalanya, dari gerak-gerik yang serbacemas hingga mengapa tulisannya terlalu emo.

“Tuhan sudah mati,” katanya, “Kita ditinggal sendirian.”

“Ya, kalau sudah mati, lantas kenapa?” tanyaku, menjawab pernyataan yang sudah kedaluwarsa. “Lagi pula syarat mutlak untuk bisa mati itu pernah hidup, pernah ada.”

Dalam hal musik dan cara berpikir, Bambang perlu perbaikan.

Saya menyalakan stereo dan memutar No Stars Over Bethlehem, lagu pembuka di album Kezia. Ia terpesona pada dua puluh detik pertama, kemudian berubah sama sekali saat lagu memasuki menit satu dan ia meminta saya menghentikan lagu sebelum berakhir. Ia ingin mendengarkan musik, katanya mengomentari tempo ganjil di lagu itu, “Bukan mau belajar matematika.”

“Ini album konseptual,” ujar saya, “Album ini menceritakan Kezia, perempuan yang sedang menjalani eksekusi mati karena dituduh pendosa.”

Bambang rupanya tertarik dengan cerita itu, ia meminta saya menceritakan lebih banyak. Saya membuka laptop dan mencetak semua lirik dalam album itu. Setelah itu kami duduk berhadapan, membaca lirik baris demi baris dan saya berupaya menceritakannya dengan baik. Maksud saya, saya memang seorang penulis cerita fiksi, tetapi saya pencerita oral yang buruk. Kadang saya menceritakan bagian akhir lebih awal sehingga tak ada kejutan dalam cerita saya, kadang saya tertawa saat memikirkan hal lucu dalam cerita itu sehingga saya gagal menyajikannya dalam bentuk komedi kepada pendengar, dan kadang saya memikirkan sebuah cerita sedih terlalu jauh sehingga saya hanya sanggup berkata, ya, begitulah, tanpa menceritakan bagian sedihnya sehingga tak ada satu pun pendengar yang bersimpati. Saya berusaha menceritakan kisah Kezia sebaik-baiknya, artinya saya harus pula menceritakan bagian paling personal sehingga Bambang mengerti mengapa saya beranggapan bahwa Kezia layak dicintai dan kondisi di sekitar Kezia layak dibakar sampai jadi abu. Sampai jadi abu artinya kau cuma perlu mesin penyedot debu untuk melenyapkan mereka semua sebagai sentuhan akhir.

Setelah cerita selesai, enam jam kemudian, saya bertanya apakah Bambang sudah berubah pikiran. Ia menjawabnya dengan tafsir Kezia versinya sendiri, yang ternyata jauh lebih dalam dan gelap dari cerita saya, sehingga saya lebih percaya tafsir Kezia versi Bambang ketimbang orang-orang di internet. Orang ini, sekali pun lebih tua, ternyata memiliki sifat yang seperti seekor mongrel: gampang terluka. Saya tak tahu apa saja yang telah ia lewati, tak berani menduga-duga juga, karena terlanjur kasihan. Ia pulang dan berjanji akan memperbaiki ceritanya. Saya cuma mengingatkan bahwa apa yang selama ini ia yakini sebagai pandangan pesimisme agak melenceng dan rentan terperosok jurang fatalisme.

Empat tahun kemudian, pada 2014, Bambang datang dengan referensi bacaan lebih banyak dan musik yang lebih baik (masih melulu merujuk blues, tetapi kali itu ia tak datang sebagai anak emo kapiran). Ia membawakan saya novel Bagian Terbaiknya adalah Tak Ada Bagian Terbaik karya Arthur Harahap dan masih terobsesi dengan gim Shin Megami Tensei dan tema-tema runtuhnya peradaban manusia, tapi kali itu ia datang dengan wajah yang lebih hidup. Ia bilang ia baru menemukan humor. Saya bertanya humor yang seperti apa, dan ia menjawab, “Seperti film-film Jackie Chan, dan seperti ini:

Suatu malam di jalan raya dekat pantai seseorang mengantar temannya ke muka rumah. Ia menawari pinjaman helm, tetapi temannya, orang yang bersorban, menolak. Ia menganggap sorban dan Allah saja cukup buat melindunginya. Lagi pula jaraknya dekat, tak akan ada razia polisi.

Si orang bersorban melewati sebuah pelabuhan yang sepi. Jarak pandang yang terbatas membuatnya tak melihat seekor kraken sedang istirahat di laut dekat pelabuhan, tentakelnya yang superbesar melewati pagar pelabuhan dan ujungnya mendarat di tepi jalan. Si orang bersorban melindas ujung tentakel itu, ban depan motornya tergelincir, persis adegan seseorang terpeleset pisang. Orang bersorban melompat dan mendaratkan kepalanya lebih dulu. Aspal bukanlah lawan sepadan sorban, tetapi ia belum mati dan tak akan mati andai kraken tidak kesakitan dan mengayunkan tentakelnya ke sembarang arah. Tentakel itu menyapu si orang bersorban, ia terpental hingga ke atap rumah temannya. Temannya berlari mengambil helm dan mengganti sorbannya dengan helm, sambil berceramah tentang pentingnya helm. Namun, temannya sudah mati sehingga tak bisa mendengar nasihatnya. Orang bersorban itu kakekku.”

Saya ketawa kering, tetapi Bambang terbahak-bahak, jadi saya ikut tertawa keras. Saya tipe tuan rumah yang menghargai tamu. Empat tahun lewat dan Bambang sudah kena islamofobia, kata saya. Ia bilang ia tidak fobia, fobia mengesankan ketakutan berlebihan. Ia tidak merasa takut sedikit pun, ia hanya benci.

Bambang menceritakan bagaimana ia menghimpun kebencian terhadap apa saja selama beberapa tahun terakhir. Ia benar-benar menjadi fatalistis, tetapi dengan gaya seperti Idrus atau Vonnegut. Kesimpulan itu saya dapat setelah membaca seluruh naskahnya. Ada banyak perubahan, terutama bagaimana cara ia memandang sekitar. Ia bukan lagi seorang berusia tanggung yang merasa terjerat dalam jejaring nasib buruk dan gemar menyalahkan situasi, ia berubah menjadi seorang pemuda tanggung yang berteman dengan nasib buruk dan terputus dengan situasi. Tak terlibat, seperti seonggok karang di tepi laut.

“Seperti Kezia,” katanya.

“Kau tidak seperti Kezia,” ujarku, tertawa, “tapi bukan orang-orang di sekitar Kezia juga. Kau lebih mirip senapan yang dipakai untuk menembak Kezia.”

Baca cerita berikutnya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Desember 2018 oleh

Tags: All's Well That Ends Wellberbalas fiksicerpenKeziaProtest the Herosabda armandio
Sabda Armandio

Sabda Armandio

Artikel Terkait

Dirimu Berharga, Mereka Hanya Tak Mau Bilang Saja

29 Juli 2019

Meninggalkan Rumah, Menemukan Diri Sendiri

25 Juli 2019

Cinta yang Membelenggu dan Perhiasan Delapan Juta Rupiah

22 Juli 2019

Perhiasan Terakhir dan Pintu-Pintu yang Telah Tertutup

18 Juli 2019

Kepercayaan yang Hilang Perlahan-lahan Laksana Asap

15 Juli 2019

Putaran Kesedihan Tak Berujung dan Nasihat dari Dukun

11 Juli 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
Semesta Buku Yogyakarta 2026 MOJOK.CO

Semesta Buku Yogyakarta Hadir Bersama Pasetaky #4 dan Jakal Bookshop Festival 2026: Rayakan Buku, Komunitas, dan Ruang Literasi 

27 Agustus 2026
Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

27 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Gus Yahya dalam sambutan pembukaan Muktamar ke-35 NU: Nahdlatul Ulama harus bersinergi dengan pemerintah untuk kemaslahatan rakyat MOJOK.CO

Gus Yahya: NU Tidak Punya Jalan Lain Selain Kerja Sama dengan Pemerintah jika Ingin Hadirkan Manfaat Nyata

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.