Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Cara Memilih Jurusan Kuliah untuk Anak SMA

Bachtiar W. Mutaqin oleh Bachtiar W. Mutaqin
13 Februari 2021
A A
bagusan jurusan ipa atau jurusan ips sma jurusan bahasa kuliahnya apa debat mojok.co cara memilih jurusan kuliah mojok.co

bagusan jurusan ipa atau jurusan ips sma jurusan bahasa kuliahnya apa debat mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – “Gimana sih cara memilih jurusan kuliah? Dari daftar jurusan dengan nama-nama asing ini, mana yang harus aku pilih?”

Hidup di lingkungan yang terbiasa menilai segala sesuatu dengan materi itu sungguh sangat merepotkan. Bener-bener nggak asyik. Beneran deh. Seolah-olah melakukan hal menyenangkan tanpa memikirkan imbalan adalah hil yang mustahal. Nggak percaya? Coba diingat-ingat lagi deh kapan terakhir kali kalian ngelakuin hobimu? Eh masih tahu hobimu apa kan? Atau jangan-jangan malah sudah lupa kalau punya hobi karena sibuk “menjadi sukses”? Hehehe.

Aku jadi ingat dulu pernah “berdebat” dengan orang tuaku saat memutuskan melanjutkan kuliah di jurusan kelautan alih-alih mengikuti saran mereka. Waktu itu Bapak nyuruh ambil pertambangan dan Ibu ingin aku jadi mantri desa. Bagi yang nggak tahu, mantri desa itu semacam pembantu dokter dalam pelayanan kesehatan. Dulu dokter masih ndak sebanyak sekarang, apalagi di sebuah desa kecil di perbatasan Banyumas dan Cilacap tempatku tinggal. Orang-orang juga lebih memilih berobat ke mantri desa daripada harus repot ke puskesmas atau rumah sakit. Aku ingat waktu itu di desa kami nggak ada tenaga kesehatan. Jadi kalau pas sakit, Ibu ngajak aku naik becak ke desa tetangga sekitar 8 km dari rumah untuk periksa.

Oh iya, aku adalah anak pertama dan punya dua adik. Bapakku lulusan STM jurusan mesin. Lulus SMP dia merantau dan kerja jadi penjaga malam di STM tempat dia sekolah karena nggak punya uang untuk bayar kos-kosan. Lulus STM dia diangkat jadi guru honorer. Ibuku juga lulusan SMA dan kerja jadi karyawati bank lokal hingga pensiun. Aku ingat betul kami sering sekali pindah kontrakan. Kami pernah ngontrak di sebuah warung kecil di depan STM Bapak. Bener-bener model warung kelontong gitu, hahaha.

Saat itu, argumen yang mereka sampaikan untuk memengaruhiku tentu saja sangat masuk akal. Bagaimana mereka “menginginkan yang terbaik” bagi anaknya ini. Ibuku yang melihat peluang, sudah membayangkan nanti aku lulus kuliah bisa langsung buka praktik di desa kami. Bapakku yang akhirnya berhenti jadi guru STM dan kerja sebagai mekanik serabutan dari satu proyek ke proyek yang lain sudah punya gambaran nanti aku harus kerja di tambang ngehits macam Tembagapura di Papua atau Batu Hijau di Sumbawa. Jelas pekerjaannya, banyak hartanya, bahagia keluarganya. Mungkin gitu pikir mereka.

Berbekal sikap nguweyel dan keras kepala, tentu saja aku tetap bersikeras dengan pilihanku dong. Lha wong nyatanya aku nggak suka dan nggak kepengin, ngapain dijalani. Ujung-ujungnya malah bisa jadi asal-asalan, nggak serius, dan nggak maksimal. Tapi pada dasarnya aku memang sudah dilatih untuk menentukan pilihanku sendiri semenjak SMP sih. Meski terkadang aku memilih hanya karena alasan yang sepele. Misalnya, saat teman-temanku berlomba masuk ke SMA A, aku justru memilih masuk SMA B hanya karena ada lapangan bolanya. Padahal nilaiku sudah pasti masuk kalau mau ke SMA A. Simpel sekali, bukan?

Untungnya orang tuaku mau memahami jalan pikirku alih-alih mengutukku hingga menjadi batu. Nggak kebayang kalau harus ada dua versi cerita anak durhaka, versi Sumatra dan Jawa.

Kalau mengingat saat-saat itu, aku jadi suka termenung sendiri, melihat bagaimana keputusan yang telah kuambil berhasil membawaku ke posisiku sekarang. Posisi yang bagi orang lain mungkin biasa-biasa saja, tapi bagiku yang berasal dari keluarga biasa di sebuah desa kecil, sudah merupakan capaian yang warbiyasa.

Tahun ini adalah tahun kesembilanku menjadi dosen di kampus kerakyatan. Dulu aku kuliah S-1 kelautan di Semarang dengan beasiswa mulai tahun kedua karena seleksinya melihat nilai tahun pertama. Saat kuliah S-1 aku juga nyambi kerja jadi pemulung, tukang ketik, dan juga konsultan pemetaan. Iya, kalian nggak salah baca. Jadi tiap kali ada acara di kampus, karton bekas nasi kotak dan gelas platik aku kumpulkan untuk aku jual.

Lulus S-1 aku dapat peluang beasiswa dari tiga universitas, termasuk universitas di tempat aku bekerja sekarang. Aku pun memutuskan keluar dari kerjaan dan pindah ke Jogja. Kapan lagi bisa S-2 dengan beasiswa. Perjalanan studi formalku ditutup dengan S-3 di kota yang jadi pusat mode dunia, di universitas yang terkenal di Indonesia gara-gara buku Laskar Pelangi: Universitas Paris 1 Panthéon-Sorbonne. Tentu saja dengan beasiswa. Mana sanggup kalau aku disuruh bayar sendiri. Sebenarnya kuliah di Prancis seperti karma bagiku karena saat SMA aku sering bolos pelajaran Bahasa Prancis dan memilih nongkrong di kantin sekolah.

Sebelum dicaci maki dan dituduh kelas menengah tidak tahu diri, perlu aku utarakan bahwa aku nggak akan jualan kisah sedih dan nelangsa dalam proses perjuanganku hingga sekarang, meskipun sebenarnya itu yang lebih disukai warganet. Aku pun nggak akan membahas pencapaianku secara detil karena bosan sombong dan males riya.

Tulisan ini dibuat karena aku ingin berbagi pengalaman sama kalian yang galau mikirin cara memilih jurusan kuliah. Mumpung bentar lagi anak-anak kelas XII pada mau lulus. Kalau dalam ilmuku, the present is the key to the past and the future. Dirimu sekarang adalah hasil dari apa yang sudah kalian perbuat di masa lampau. Pilihanmu sekarang akan menentukan seperti apa hidupmu 15-20 tahun lagi. Percaya alhamdulillah, nggak ya luweh.

#1 Kenali dirimu

Pertama dan yang paling utama tentu saja kalian harus tahu siapa diri kalian sebenarnya. Mungkin dapat dimulai dengan membuat pertanyaan-pertanyaan untuk kalian jawab sendiri. Misalnya, sebenarnya apa yang kalian inginkan dalam hidup ini? Apakah kalian memang benar-benar ingin kuliah? Atau karena solidaritas tanpa batas dengan anggota geng di SMA? Atau sekadar menuruti kemauan orang tua? Kalian sendiri yang tahu jawabannya.

Dari refleksi diri itu, aku berhasil menemukan diriku dan tujuan hidupku yang akhirnya kujadikan motivasi melanjutkan kuliah di kelautan. Aku memang suka membaca dan tadabur alam. Ibuku pernah cerita ke istriku kalau dulu aku sangat sedih ketika Ibu memutuskan berhenti langganan majalah Bobo. Aku nggak ingat hal itu sama sekali. Akses internet pada zaman itu masih terlalu mahal buatku, jadi sumber informasiku lebih banyak dari buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan.

Iklan

Waktu itu adalah tahun keenam berdirinya Kementerian Kelautan dan Perikanan. Berbekal riset kecil-kecilan, aku jadi tahu bahwa aspek kelautan masih bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Laut tuh masih dianggap sebagai pemisah, bukan penghubung. Coba kalian ingat-ingat pelajaran Geografi, misalnya, Pulau Jawa dan Sumatra disebut dipisahkan oleh Selat Sunda. Dipisahkan lho, bukan dihubungkan. Aku ingin mengubah itu.

Aku melakukan analisis statistik sederhana terhadap peluangku diterima, dan dengan keyakinan yang mantap, aku langsung mendaftar di jurusan yang aku inginkan. Kelautan. Aku nggak peduli teman-temanku beramai-ramai daftar di satu universitas tertentu ataupun di sekolah kedinasan. Aku tetap pada pendirianku dan pada akhirnya berhasil masuk lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Aku masih ingat waktu kelulusan SMA namaku dipanggil karena berhasil lolos perguruan tinggi tanpa tes. Senang.

#2 Semua ilmu itu bermanfaat

Apa pun jurusan yang akan kalian ambil, aku sangat yakin semuanya baik dan ilmunya jelas akan bermanfaat. Kalau butuh saran dan masukan, pastikan kalian datang ke tempat dan orang yang benar. Jangan asal kirim twit ke base terus percaya ke yang nge-reply. Biasanya kalau di SMA itu ada semacam ruang Bimbingan dan Konseling. Karena aku dulu sering “dipanggil” ke situ, malah jadi sering ngobrol dengan bapak-ibu guru. Obrolan itulah yang akhirnya menambah wawasanku.

Dan yang paling penting, nggak usah pedulikan “cibiran” kawanmu atau orang-orang terdekat atas pilihan yang sudah kalian ambil. Toh dia nggak bayarin kuliahmu juga. Aku jadi ingat dulu pernah mampir ke tempat kawanku SMA. Dia bilang gini, “Ngapain kamu kuliah di jurusan kelautan, mau jadi apa emangnya? Nelayan? Hahaha.” Ya, mungkin maksudnya bercanda, tapi bercandanya level nggak mutu bin wagu. Sebagai anak yang bermental baja, omongan gitu doang sih nggak bakal ngaruh. Malah kujadikan motivasi untuk total dengan apa yang aku pilih. Eh iya, gimana ya kabarnya sekarang? Apa dia juga dibayari untuk mengunjungi 30 negara seperti diriku? Tuh kan jadi sombong. Males ah.

#3 Luruskan niat, mantapkan hati, dan totalitas tanpa batas

Hidup itu sebenarnya cuma perkara berani mengambil keputusan dan menanggung semua risikonya. Ketika kalian sudah menentukan akan mengambil jurusan tertentu, aku yakin itu dilakukan setelah berbagai macam riset dan pertimbangan. Yang penting adalah meluruskan niat untuk mencari ilmu dan meningkatkan kapasitas diri. Pendidikan tidak sekadar untuk persiapan mencari kerja dan mendapatkan materi. Pendidikan jauh lebih mulia dari itu.

Uang bukanlah segalanya bagiku. Mungkin bagimu klise, tapi memilih suatu jurusan hanya karena prospek finansial menurutku kurang tepat. Aku bisa bilang gini karena aku pun pernah mengalami sebatang kere hingga punya uang. Guruku dulu pernah berpesan, “Carilah jeneng, maka jenang akan mencarimu”. Jeneng adalah kata Jawa yang berarti ‘nama’, dapat diartikan sebagai ilmu, kemampuan, kapasitas diri, kejujuran ataupun sikap dapat dipercaya. Intinya sifat-sifat yang ada dalam dirimu. Ketika kalian sudah punya jeneng, tawaran jenang (harfiahnya sih merujuk ke makanan manis mirip dodol) atau materi akan datang sendiri tanpa kalian perlu repot-repot mencari.

#4 Restu orang tua

Last but not least, restu orang tua. Ini penting banget. Bagaimanapun jalanmu nanti akan lebih mudah ketika orang tua memberikan restunya. Akan ada semacam kekuatan tak terlihat yang membantumu tiap kali dalam kesulitan. Bicarakan pilihan dan keinginanmu dengan orang tua, diskusikan, dan buatlah kompromi.

Aku jadi ingat cerita temanku. Dia melanjutkan kuliah hingga S-2 di bidang teknik untuk mengikuti keinginan orang tuanya. Setelah lulus S-2, dia bilang, “Aku sudah selesai S-2 teknik sesuai keinginan Bapak-Ibu. Sekarang izinkan aku untuk kuliah masak.” Kabarnya dia sekarang sudah menjadi salah satu koki terkenal. Istriku pun demikian, dia kuliah geografi hingga S-2 karena “tuntutan” bapaknya yang seorang dosen. Selesai kuliah, dia memilih bekerja dari rumah, mengerjakan apa yang dia sukai, memasak dan menulis. Apakah orang tuanya keberatan? Awalnya iya, tapi sekarang tidak sama sekali setelah melihat istriku bertanggung jawab atas pilihannya.

Itulah pesan utamanya: cari jeneng, maka jenang akan datang sendiri. Dan hidup tidak hanya perkara untung dan rugi. Hidup adalah persoalan berani memilih dan menanggung segala risikonya.

BACA JUGA Derita Salah Masuk Jurusan Saat Kuliah dan esai Bachtiar W. Mutaqin lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2021 oleh

Tags: jurusan kuliahkuliahlulus sekolahSMA
Bachtiar W. Mutaqin

Bachtiar W. Mutaqin

Dosen Geografi UGM dan peneliti tamu di Guilin University of Technology. Tertarik dengan isu-isu lingkungan dan perubahan iklim.

Artikel Terkait

kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
ibu dua anak, SMA Internasional Budi Mulia Dua, sekolah islam yang tidak mewajibkan siswinya berjilbab.
Ragam

Ibu Dua Anak Nekat Balik Masuk SMA Demi “Memutus Kemiskinan”, Cita-Cita Ingin Kuliah Kedokteran

29 Januari 2026
sekolah negeri, sekolah swasta.SALAM, sekolah di Jogja. MOJOK.CO
Mendalam

Sekolah Negeri Makin Tak Diminati, Mengapa Sekolah Swasta Kian Seksi di Mata Orang Tua?

28 Januari 2026
Kuliah, Lulus S1, Kebayoran Baru Jakarta SelatanMOJOK.CO
Ragam

Lulus S1 di Usia 25 adalah Seburuk-Buruknya Nasib: Terlalu Tua di Mata HRD, tapi Juga Dianggap Minim Pengalaman Sehingga Sulit Dapat Kerja

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

20 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.