Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cerbung Berbalas Fiksi

Maaf, Aku Bukan Witfana yang Kamu Cari

Bernard Batubara oleh Bernard Batubara
4 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Baca cerita sebelumnya di sini.

Salam kenal, Kala.

From: Jannah Az-Zahra <[email protected]>

Date: 4 Mar, 2029, 15:07 WIB

To: Andangsaki Kalasan <[email protected]>

Selamat siang, Kala. Atau lebih tepatnya, Andangsaki Kalasan.

Saya Jannah. Jannah Az-Zahra.

Saya tidak tahu siapa kamu, tapi saya merasa harus mengirim email ini kepadamu. Saya tidak yakin alasannya, tapi mungkin karena beberapa hari yang lalu saya mengecek kotak masuk email dan saya melihat beberapa email dari nama yang tidak saya kenal. Saya membacanya satu per satu. Saya mengernyit saat membaca semua email itu karena merasa kamu begitu mengenal saya, tapi saya tidak mengenalmu.

Tapi, yang lebih menggerakkan saya untuk menulis email ini adalah perasaan yang muncul di hati saya ketika membaca email darimu. Saya merasa mengenal sosok gadis yang kamu bicarakan di dalam email itu. Siapa namanya? Witfana Aulia? Fana? Nama yang menarik. Pertama kali membaca namanya, saya mengulangnya berkali-kali di kepala.

Fana, Fana, Fana….

Anehnya, kamu mengirim email ke saya, tetapi saya merasa bukan saya yang kamu tuju. Sepertinya itu cukup jelas.

Saya Jannah. Jannah Az-Zahra. Bukan Witfana Aulia. Meskipun demikian, saya merasa cukup familier dengan hal-hal yang kamu sampaikan di email-mu mengenai gadis bernama Fana ini. Sangat familier, malah, sampai-sampai saya merasa ngeri. Apakah di masa lalu saya adalah seorang gadis seperti Fana?

Ini dia masalahnya, Kala. Atau lebih tepatnya, Andangsaki Kalasan. Entahlah, saya lebih senang memanggil orang dengan nama lengkapnya. Itu membuat saya mengingat ulang nama saya sendiri. Mungkin itu cara saya mengingat masa lalu saya: sejarah hidup yang sudah terhapus dari ingatan saya. Atau lebih tepatnya, dihapus.

Saya tidak tahu mengapa saya merasa ingin menceritakan ini kepadamu, Kala. Saya tidak tahu banyak hal saat ini, tetapi saya merasa ingin menceritakannya kepadamu. Itu saja yang saya miliki saat ini, Kala. Rasa. Intuisi, jika kamu ingin menyebutnya demikian.

Intuisi saya mengatakan saya harus mengirim email kepadamu.

Intuisi saya mengatakan saya ingin—atau mungkin harus?—mengungkapkan hal ini. Hal yang tidak pernah saya ungkapkan kepada siapapun karena saya tidak merasa perlu untuk mengungkapkannya. Tetapi ketika saya tidak sengaja membaca email darimu, perasaan itu muncul. Intuisi itu bekerja. Saya merasa saya ingin mengirim email kepadamu.

Ini hal pertama yang ingin saya sampaikan kepadamu, Kala:

Intuisi adalah satu-satunya yang saya miliki saat ini.

Iklan

Saya tidak punya memori.

Saya tidak lagi punya memori akan kehidupan saya di masa lalu.

Berapa usia saya sekarang? Dua puluh tujuh tahun? Saya bahkan tidak bisa ingat bagaimana diri saya di usia 26 tahun, apalagi dua, tiga, hingga sepuluh tahun sebelumnya. Saya tidak punya ingatan jangka panjang, Kala. Ingatan saya hanya sejauh makan apa saya tadi pagi dan apa yang saya lakukan sebelum tidur malam kemarin. Setiap kali saya mencoba untuk mengingat lebih jauh dari itu, kepala saya terasa sakit. Jika saya memaksakan diri, rasa sakit itu semakin kuat, dan saya tidak sanggup menahannya.

Suatu hari saya memaksakan diri untuk mengingat-ingat apa yang saya lakukan minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu. Intuisi saya mengatakan saya harus mengingat diri saya di sepuluh tahun yang lalu, itu artinya ketika saya berusia 17 tahun.

Tetapi, ketika saya melakukannya, rasa sakit di kepala itu muncul, menguat, dan membuat darah mengalir dari kedua lubang hidung saya. Bahkan telinga.

Suami saya memanggil dokter dan saya diperiksa. Saya hanya diberi obat pereda nyeri dan sedikit dosis vitamin penambah darah. Tidak ada yang sangat serius, menurut dokter itu. Tapi, semenjak peristiwa tersebut, saya tidak pernah mencoba untuk mengingat lagi.

Saya pikir, mungkin hidup saya akan lebih mudah jika tidak mengingat masa lalu.

Mungkin, saya akan lebih bahagia jika saya tidak dapat mengingat apa-apa. Mungkin, saya dan suami saya, serta anak yang sedang saya kandung, akan hidup bahagia bersama-sama jika masa lalu tidak hadir di kepala saya. Di kepala kami.

Jadi itu saja yang ingin saya sampaikan di dalam email ini untukmu, Kala. Lagi-lagi, jangan tanya mengapa atau bagaimana. Saya hanya mengikuti apa yang saya rasakan. Saya hanya mengikuti intuisi karena hanya itu yang saya miliki. Saya tidak memiliki penjelasan.

Mungkin, hidup kita semua akan lebih berbahagia jika kita tidak menuntut penjelasan.

Semoga hidupmu berbahagia selamanya.

 

Salam,

 

Jannah Az-Zahra

Baca cerita berikutnya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 September 2020 oleh

Tags: berbalas fiksiBernard Batubaraganti namamasa depansalam kenal
Bernard Batubara

Bernard Batubara

Bernard Batubara (Benzbara) menulis sejak tahun 2007 dan sudah menerbitkan 14 buku. Saat ini tinggal di Yogyakarta, bekerja sebagai penulis dan editor lepas. Selain menulis dan membaca, ia juga hobi menyeduh kopi.

Artikel Terkait

Akui Saja, Kita Suka Melamun soal Masa Depan daripada Mewujudkannya
Esai

Akui Saja, Kita Suka Melamun soal Masa Depan daripada Mewujudkannya

18 Januari 2022
Masa Depan Koin Kripto Indonesia yang Rilis di Hari Sumpah Pemuda MOJOK.CO
Konter

Masa Depan Koin Kripto Indonesia yang Rilis di Hari Sumpah Pemuda

20 Oktober 2021
cerita anak indigo bisa melihat masa depan kejadian buruk menderita trauma indigo sejak kecil mojok.co
Malam Jumat

Cerita Anak Indigo yang Menderita karena Bisa Melihat Masa Depan

20 Februari 2020
Berbalas Fiksi

Dirimu Berharga, Mereka Hanya Tak Mau Bilang Saja

29 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.