Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Yoga Pratama, Kisah Perjuangan PSIM Mengalahkan Blitar United yang Belum Diceritakan

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
2 Agustus 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – PSIM terjepit, dibuat menderita oleh hal-hal non-teknis. Yoga Pratama dan para pemain menderita. Dukungan dengan aura positif yang mereka butuhkan.

Tanggalnya 30 Juli 2018. Harinya, hari Senin, PSIM Yogyakarta tandang ke rumah Blitar United. Sebagai tim tamu, PSIM berhasil pulang ke Jogja dengan nilai penuh setelah mengalahkan Blitar United dengan skor 1-3. Kemenangan heroik yang didapat setelah tertinggal terlebih dahulu memang terdengar begitu menggugah. Namun, tahukah kamu, ada satu fragmen pertandingan yang lebih dramatis, yang belum kamu tahu.

Waktu itu usia pertandingan belum genap enam menit ketika wasit meniup peluitnya. Pertandingan terhenti, pemain-pemain terpaku selama satu detik sebelum kemudian emosi itu meluap begitu saja. Wasit memberikan hadiah penalti untuk tuan rumah, untuk Blitar United. Sontak, beberapa pemain mengerubungi wasit, melakukan protes.

Wasit memberi hadiah penalti untuk Blitar United setelah pemain PSIM, Raymond Tauntu dianggap melakukan pelanggaran. Tangan gelandang tengah berusia 23 tahun itu mengenai bola di dalam daerah berbahaya. Setidaknya itulah yang terjadi di dua bola mata wasit. Protes pemain PSIM tidak mempan. Penalti tetap akan diberikan.

Para pemain PSIM sepakat bahwa Raymond tidak menyentuh bola, baik sengaja maupun tidak disengaja. Raymond hanya berusaha mengontrol bola menggunakan paha. Sayangnya, tidak ada tayangan video yang bisa menguatkan argumen para pemain Laskar Mataram. Apalagi VAR, sebuah teknologi yang masih sangat asing untuk telinga sepak bola Indonesia.

Masih berusaha untuk memprotes keputusan yang keliru ini, pemain muda PSIM, Yoga Pratama mendekat ke sang pengadil. Yoga Pratama tegas mengatakan bahwa bola tidak mengenai tangan Raymond, bahwa keputusan wasit sungguh keliru. Wasit pun menjawab protes Yoga Pratama menggunakan sebuah kalimat, alih-alih kartu kuning yang biasanya diberikan wasit kepada pemain yang protes berlebihan.

Seperti dituturkan oleh salah satu saksi, sore itu, wasit melontarkan kalimat bahwa pertandingan Blitar United melawan PSIM sudah tidak murni lagi. Apakah pertandingan Blitar United melawan PSIM sudah “dibeli”? Hanya wasit, Yoga Pratama, dan sang saksi yang tahu. Toh, di sepak bola Indonesia, ayo jujur saja, kejadian semacam ini masih jamak terjadi. Lihat saja proses juara Bhayangkara FC musim lalu.

Singkat kata, penalti tetap dilaksanakan dan Blitar United unggul 1-0 di awal pertandingan. Protes tidak digubris, keadilan sudah lepas. Setelah gol Blitar, para pemain PSIM terlihat berusaha menguasai emosi. Maklum, kejadian “panas” seperti ini rentan membuat mental pemain menjadi rusak dan tidak bisa bermain normal, mengeluarkan kemampuan terbaik.

Untungnya, sebelum babak pertama usai,  skuat PSIM bisa menyamakan kedudukan lewat Riskal Susanto. Kembali ke ruang ganti, peristiwa dramatis ini terjadi. Yoga Pratama, pemain yang masih berusia 20 tahun itu, tiba-tiba menangis. Yoga Pratama tidak bisa membendung emosinya setelah menahannya dengan susah payah sepanjang babak pertama.

Tim pelatih berusaha menenangkan jiwa muda Yoga Pratama yang terluka. Setelah ditanya pelan-pelan, Yoga Pratama menjelaskan. “Kami merasa tidak dihargai, coach. Perjuangan kita untuk bisa sampai seperti ini tidak mudah. Ayo, coach, buktikan pada mereka kalau kita bisa,” ujar Yoga Pratama sambil menangis.

Tim pelatih sadar bahwa kejadian ini perlu penanganan khusus. Mental para pemain coba diperkuat, semangat dipompa. Emosi yang sebelumnya tidak bisa dikontrol, diubah menjadi “semangat” untuk membalikkan keadaan di babak kedua. Erwan Hendarwanto, manajer PSIM, memang punya kelebihan menangani masalah seperti ini. Kedekatannya dengan para pemain berbuah sangat manis.

Team talk sore itu ditutup dengan instruksi pelatih agar para pemain menguasai bola selama mungkin. Jangan biarkan lawan bermain. Persempit ruang para pemain Blitar United saat bertahan supaya membuat kesalahan individu. Benar saja, babak kedua berjalan sesuai skenario PSIM. Para pemain terlihat begitu bersamangat. Tangisan Yoga Pratama sukses memacu semangat para pemain yang “dicurangi” di babak pertama.

Pertandingan babak kedua berjalan 60 menit ketika Ismail Haris membalikkan keadaan, skor menjadi 1-2. Setelah itu, menit 86, Henrico memastikan kemenangan untuk PSIM. Skor 1-3 bertahan hingga pertandingan selesai. Perjuangan yang luar biasa.

Musim ini, perjuangan PSIM memang sangat berat. Parang Biru mengawali musim dengan beban minus sembilan. Sanksi minus sembilan diterima PSIM lantaran gagal membayar tunggakan gaji tiga pemain asing. Situasi yang berbahaya itu justru menjadi pemacu semangat anak-anak Kota Jogja musim ini. Hasilnya memang luar biasa, dari minus sembilan, saat ini PSIM sudah mengumpulkan 15 poin dan duduk di peringkat kelima.

Iklan

Seperti penuturan sang saksi, menjadi bukti bahwa faktor non-teknis mampu dikalahkan dengan hal-hal teknis dan semangat. Keputusan pelatih untuk memilih unggul penguasaan bola sangat tepat, membuat wasit tidak leluasa melancarkan niat-niat busuknya.

Para pemain sudah bekerja, bertarung, berjuang dengan tangisan, dengan darah, dengan peluh. Para pemain PSIM, Yoga Pratama, dkk., perlu terus didukung dengan nyanyian, dengan koreo yang menawan, dengan aksi yang positif.

Aura positif itu yang mendorong para pemain untuk berlari lebih jauh, bergerak lebih cepat. Jangan dukung PSIM dengan aura negatif. Para pemain sudah cukup menderita, sudah cukup menanggung beban minus sembilan. Mari sokong dengan kebahagiaan, dengan nyanyian dukungan yang menggugah hati. Aku yakin dengan kamu (semua)!

Terakhir diperbarui pada 2 Agustus 2018 oleh

Tags: blitar unitedliga 2liga 2 indonesiapsimPSIM YogyakartaYoga Pratama
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

PSIM Jogja Aku Yakin dengan Kamu MOJOK.CO
Esai

PSIM Jogja: Aku Yakin dengan Kamu

18 Februari 2025
Mie Ayam Pak Sarmintul Bikin Senyum Persiba Bantul MOJOK.CO
Esai

Kerja Sama yang Melahirkan Senyum bagi Sepak Bola Jogja ketika Mie Ayam Pak Sarmintul Resmi Menjadi Sponsor Persiba Bantul

14 April 2024
Liga 3 Faktanya, Liga Malaysia Jauh Meninggalkan Kita MOJOK.CO
Esai

Memaksimalkan Liga 3 Sebagai Cara untuk Mengejar Ketertinggalan dari Sepak Bola Malaysia

11 September 2023
Sejarah Stadion Kridosono, Eks Markas PSIM Yogyakarta yang Terancam Punah MOJOK.CO
Memori

Sejarah Stadion Kridosono, Eks Markas PSIM Yogyakarta yang Terancam Punah

4 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Adalah Daihatsu Sigra MOJOK.CO

Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat

20 Januari 2026
Kalau Bobby di Buku Karya Aurelie Mooremans Iblis, Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia MOJOK.CO

Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Kalau Bobby Iblis Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia

21 Januari 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026

Video Terbaru

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.