• 330
    Shares

MOJOK.COBerpuluh-puluh tahun sejak merdeka, kita masih saja bermental inlander. Bahkan masih mendamba nikah dengan bule, hanya untuk memperbaiki keturunan. Sebetulnya, kita ini kenapa, sih?

Beberapa waktu yang lalu, kita dihebohkan dengan pernikahan seorang lelaki Magelang dan bule perempuan dari Inggris. Sebetulnya, pernikahan antar negara ini bukan menjadi hal aneh di Indonesia. Hal ini sudah terjadi berulang kali. Namun, tampaknya pernikahan mereka menjadi heboh, dikarenakan ada kesan yang mendeskreditkan sosok pria yang berhasil mendapatkan sang perempuan bule tersebut.

Apalagi di berbagai pemberitaan, judul yang sering digunakan adalah, ‘Pria asal Magelang ini—berhasil—nikah dengan bule cantik dari Inggris.’

Hal ini semakin dibuat heboh dengan dihiasi foto-foto yang menampakkan perbedaan warna kulit dan fisik mereka. Tak lupa, ditambahi bumbu-bumbu cerita tentang perbedaan status sosial ekonomi di antara keduanya. Tak mengherankan, dengan narasi ini, masyarakat seolah-olah kompak menganggap bahwa: sang lelaki sungguh beruntung sekali mendapatkan perempuan bule tersebut.

Eh, tapi tunggu dulu. Bolehkah kita tidak mudah menyimpulkan sesuatu hanya dari sesuatu yang tampak? Pasalnya, bisa jadi ada narasi lain yang tidak kita ketahui, jika ternyata…

…sang perempuan bule yang merasa beruntung dengan pernikahan tersebut. Atau justru keduanya merasa beruntung mendapatkan satu sama lain. Kita tidak pernah tahu, kan? Lantas, mengapa dengan mudahnya menganggap bahwa sang lelaki lebih beruntung?

Dengan kejadian yang cukup bikin ramai tersebut—bahkan di-share di grup Whatsapp keluarga saya karena saking hebohnya—banyak orang yang kemudian berkomentar semacam ini,

“Aku juga pengin bisa nikah sama bule. Biar bisa memperbaiki keturunan.”

Eh, eh, eh. Tunggu, memangnya ada masalah apa dengan keturunan kita? Kok pengin nikah sama bule untuk memperbaiki keturunan?

Woy, bangun, woy! Kita ini sudah nggak dijajah lagi. Tapi kok masih aja punya mental inlander? Sebegitu melekatnya kah, bagaimana dulu kita direndahkan oleh para penjajah? Hingga akhirnya setelah berpuluh tahun masa penjajahan itu berlalu, kita masih memiliki anggapan bahwa bangsa kita memang tidak cukup baik jika dibandingkan dengan si bangsa penjajah.

Kalau kita masih saja terus menganggap bangsa kita sebagai kelas kedua dan kita tidak merasa bangga-bangga amat dengan bangsa kita sendiri. Bagaimana kita bisa merasa percaya diri dengan bangsa sendiri? Bagaimana kita bisa merasa yakin bahwa kita dapat menjadi bangsa yang maju bukan sekadar manggut-manggut manut karena takut?

Jangankan membicarakan ketidak percayaan diri kita dalam hal yang lebih krusial lainnya. Jika perkara tampang saja kita masih minder. Belum menerima wajah yang dianugerahkan Tuhan kepada kita sebagai sesuatu yang harusnya disyukuri, serta sebagai warisan dari nenek moyang kita yang harusnya menjadi sebuah kebanggaan. Bagaimana kita sanggup melangkah lebih jauh? Kalau dari teorinya sih, jika kita ingin bergerak maju, kita harus berlatih menerima diri terlebih dahulu.

Kalau kita memang betul-betul bangga dengan tampang kita sendiri, tentu kita tidak akan berniat nikah sama bule hanya untuk memperbaiki keturunan, kan?

Oh, bukan. Bukan berarti saya tidak setuju jika ada yang nikah sama bule. Langsung nyinyir dan menolaknya mentah-mentah. Hanya saja, saya geli-geli sendiri jika kita masih saja menjadikan orang bule sebagai manusia yang seolah-olah kelasnya berada di atas kita. Lantas kita memujanya mati-matian dan yang lebih parah…

…menyepelekan masyarakat sebangsa dan setanah air sendiri. (((MERDEKA!!!)))

Kita justru menganggap diri sendiri inferior dan anggap semua bule, khususnya yang datang ke negara kita adalah superior. Pokoknya mereka lebih baik daripada kita. Pantas untuk dipuja-puja dan didewakan.

Saat SMP, saya pernah berlibur bersama teman-teman satu sekolah ke sebuah tempat di mana ada banyak turis asing yang juga berlibur di sana. Banyak teman-teman saya yang tiba-tiba minta foto sama bule. Ketika itu, saya kira bule yang diajak foto adalah seorang artis luar negeri atau orang terkenal lainnya. Apalagi mereka secara bergantian meminta foto dengan si bule yang sedang berjalan berpasangan itu.

Ketika teman saya ini kembali pada saya, saya pun menanyakan siapakah si bule yang dia ajak foto itu? Ternyata jawaban teman saya ini,

“Nggak tahu. Soalnya dia bule sih. Kan keren. Bangga aja kalau bisa foto sama bule.”

Nice! Selamat datang di Indonesia, di negara di mana masyarakatnya merasa keren dan bangga bisa foto sama bule. Padahal bulenya siapa aja nggak tahu. Luar biasa!

Belum lagi tentang banyak dari kita yang seolah-olah memiliki tanggung jawab untuk melayani konsumen bule dengan lebih baik dibanding melayani konsumen domestik sendiri.

Lantas, sampai kapan kita terus-terusan memuja dan mendewakan bule. Hanya karena mereka memiliki kulit atau mata yang berbeda dengan kita? Sampai kapan kita mau-maunya hanya dijadikan ‘pelayan’ mereka dan semacam ogah-ogahan menjadi tuan rumah di negara sendiri?Sampai kapan kita mencukupkan diri menjadi kelas kedua?

Jadi daripada kita ribet-ribet pengin memperbaiki keturunan dengan menikahi bule. Akan lebih baik kalau kita memperbaiki akhlak saja. Supaya bahagia dunia akhirat. Toh, katanya laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, kan?

Tapi kalau kamu memang masih ngebet nikah sama bule, mungkin prinsip teman saya ini bisa dipakai. Teman saya, pengin banget nikah sama bule eropa hanya supaya ketika lebaran nanti, pulang kampungnya ke Eropa. Mamam noh! Kapan lagi Eropa dijadiin kampung?!