Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bodo Amat Sama Dampak Positif Nonton Film Horor, Saya Tetap Nggak Suka!

Audian Laili oleh Audian Laili
30 Juni 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Nonton film horor katanya bisa bikin tubuh dan mental makin sehat walafiat. Ah, yang betul? Nggak berlaku buat saya, tuh~

Saya tidak suka nonton film horor. Tapi, saya nggak masalah di rumah sendirian dan harus pergi ke tempat yang katanya “begitulah”. Saya nggak suka nonton film ber-genre ini karena dia memaksa saya untuk deg-degan saat menonton dan terbayang-bayang sesudahnya. Kalau diingat-ingat, film yang membuat saya ketakutan setengah mati adalah saat menonton Paranormal Activity. Menjadi aneh, saya jadi ketakutan karena di film tersebut tidak muncul makhluk yang bikin kaget. Apalagi, saat itu saya menontonnya beramai-ramai dengan teman SMA dan di siang hari—di tengah jam pelajaran pula. Jadi, apa yang sebetulnya membuat saya takut? Dari ilmu otak-atik saya, karena imajinasi soal sosok tak tampak yang diceritakan dalam film tersebut terasa begitu nyata dan dekat.

Intinya, setelah itu saya merasa menjadi pribadi yang lebih gicik. Lantas saya memutuskan untuk menghindari betul menonton film ber-genre horor. Pasalnya, pernah terakhir kali akhirnya dipaksa untuk menonton lagi film ber-genre ini, otak saya mengimajinasikan makhluk di film tersebut dengan berlebihan. Sehingga, saya jadi terus terbayang-bayang dengan sosok di film horor tersebut hingga bulan-bulan sesudahnya.

Baik menonton, membaca, ataupun mendengar cerita horor cukup membuat saya bikin membayangkan secara berlebihan. Padahal, saya sama sekali nggak pengin mengimajinasikan hal tersebut. Saya tahu bahwa di dunia yang kita tempati sekarang ini juga tinggal makhluk lainnya. Namun, saya memutuskan lebih baik untuk tidak membahas-bahas soal mereka. Apalagi dengan cara bercerita yang bikin deg-degan.

Meskipun nonton film horor ini digadang-gadang punya manfaat yang mumpuni untuk kesehatan mental dan fisik, tetap saja saya (((nggak percaya))). Lha wong bukannya sehat dan bergembira setelah menonton, saya justru jadi insomnia dan bahkan bermimpi buruk saat tidur. Jadi, sebetulnya di mana letak kebahagiaan yang disebut-sebut itu? Heh?

Belum lagi suara yang digunakan pada film untuk bikin efek kejut dan mencekam. Iya, biasanya mereka cuma seru di backsound-nya aja, tapi adegannya sebetulnya biasa aja. Yang pasti, suara-suara berlebihan ini cukup bikin pendengaran saya muak. Oke mungkin saya cuma muak, lha kalau buat orang yang menderita penyakit jantung? Apa efek kejut itu malah nggak bagus buat kesehatan jantungnya, ya?

Apalagi nggak sedikit yang sok-sokan bikin penonton takut dengan adegan-adegan sadis yang “apa banget, sih?” Padahal itu bisa memunculkan pengalaman traumatis dan stres, buat orang-orang yang nggak kuat dan punya empati tinggi, loh~

Bukan hanya soal itu saja, tapi merasa cemas dan mudah terkejut dalam kegiatan sehari-hari setelah nonton film horor juga sering terjadi. Mungkin pada saya, ini wajar karena pada dasarnya otak saya menolak untuk mengkonsumsi film ber-genre ini. Jadi, ketika terpaksa mengkonsumsinya yang ada hanya kemangkelan dan kegeraman belaka. Ya, kayak kalau kamu nggak suka makan daging. Daging dimasak seenak apa pun kalau otak kamu sudah menolaknya, ya tentu saja nggak bakal enak rasanya. Dan efeknya, bisa bikin muntah-muntah.

Nah, saya malah punya teman yang cukup aneh. Dia suka betul nonton film horor. Dan sering kali meminta saya untuk bergabung dengannya. Tidak hanya dengan cara yang betul-betul pengin ngajakin, tapi juga dengan gaya sok berani karena dia tahu kalau saya gicik soal hal ini. Dia suka menonton film horor tidak hanya dengan menonton di bioskop, tapi juga menonton via laptop dengan meng-copy filmnya dari Luxury—warnet hits di Jogja.

Bisa saya katakan, dia sangat senang betul soal menonton film ber-genre ini. Akan tetapi, yang sangat tidak saya pahami dari dia, meski dia punya hobi nonton film ber-genre ini, ketika kami sedang ada acara bersama-sama dia nggak berani ke kamar mandi sendirian. Dia meminta saya untuk menemaninya.

Bagaimana? Cukup aneh, bukan? Seorang pecinta film horor tapi nggak berani ke kamar mandi sendirian? Hellowww??!11?!

Tentu saja, saya yang pasif agresif ini hanya sanggup gerundel. Dan akhirnya tetap saja mengantarkannya ke kamar mandi meskipun dengan perasaan sebal. Saya betul-betul tidak paham dengan teman saya ini. Kalau memang hobi nonton film horor-nya akhirnya bikin dia susah-susah sendiri, ya ngapain terus-terusan dilanjutin?

Katanya nonton film horor itu sebagai media hiburan? Sebagai sarana katarsis? Serta bisa memuaskan adrenalin sehingga bikin mental dan fisik kita semakin sehat? Akan tetapi, kalau ternyata bikin cemas dan ketakutan dalam berkegiatan sehari-hari, ya buat apa, Maemunah? Pilihan menghibur diri sendiri kok malah efeknya bikin nggak nyaman? Menghibur diri macam apa?

Saya mengapresiasi betul teman-teman yang cukup punya keberanian menonton film horor. Bahkan sangat semangat untuk mengeluarkan adrenalinnya dan menikmati segala sensasi yang diberikan dari tontonan ini. Sekalian menguji nyali mereka sendiri. Akan tetapi, saya nggak paham dengan orang-orang pecinta film ber-genre ini yang oke-oke saja ketika menontonnya, tapi malah ketakutan setelah menontonnya.

Iklan

Mohon maaf nih, kalau memang tahu film tersebut tidak baik bagi kesehatan mental kamu, terus ngapain ditonton? Buat apa ditonton kalau setelah nonton film itu kamu malah jadi takut ke kamar mandi dan harus ditemani?

Akan tetapi, tentu saja saya bukan melarang-larang orang lain buat nggak nonton film horor. Hanya saja, kalau memang merasa tidak cukup berani, nggak perlu sok-sokan. Daripada setelah nonton bikin ribet sendiri. Atau malah pas nonton bikin ribet orang di sebelahnya karena kamu nutupin wajah sepanjang film tapi tanya-tanya terus adegan yang tengah berlangsung. Fyi, itu annoying, tauk!

Terakhir diperbarui pada 30 Juni 2019 oleh

Tags: adrenalinfilm horornonton filmtakut
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Membongkar Alasan Film Horor Indonesia Suka Munculkan Hantu Kayang MOJOK.CO
Ragam

Di Film Horor Indonesia Kiwari, Puncak Kengerian Hantu adalah Ketika Sudah Jalan Kayang

6 November 2024
Film Horor Indonesia Semakin Menistakan Budaya Jawa, Terakhir- Film Primbon yang Tayang 10 Agustus! MOJOK.CO
Esai

Film Horor Indonesia Semakin Menistakan Budaya Jawa, Terakhir: Film Primbon yang Tayang 10 Agustus!

1 Agustus 2023
film inang tentang mitos rebo wekasan mojok.co
Hiburan

Film Inang Perkenalkan Kesialan Mitos Rebo Wekasan pada Generasi Z

23 Oktober 2022
Suzzanna: Ratu Horor Paling Lawak yang Menciptakan Ketakutan dalam Komedi mojok.co
Pojokan

Suzzanna: Ratu Horor Paling Lawak yang Menciptakan Ketakutan dalam Komedi

23 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.