Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Salahkah Memilih Pacaran Supaya Nggak Kesepian?

Audian Laili oleh Audian Laili
13 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seorang mas-mas bercerita tentang kebingungannya yang memilih pacaran hanya karena nggak pengin kesepian. Kan nganu, ya~

TANYA

Dear Mbak Au, yang entah jawabannya nanti sesuai dengan harapan saya atau tidak.

Saya adalah mas-mas yang belum pernah pacaran dan sekalinya pacaran langsung LDR. Umur saya akan menginjak 21 tahun beberapa bulan lagi, dan saya yakin pacar saya akan menjadi orang yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Pasalnya, di keluarga saya tidak ada tradisi merayakan atau saling mengucapkan ulang tahun.

Jadi gini mbak, saat itu tidak ada angin tapi ada hujan, tiba-tiba saya ditawari oleh teman saya, mau atau tidak dikenalkan dengan temannya alias pacar saya sekarang? Sebagai perantau yang sering kesepian, tentu langsung saya terima dong tawaran tersebut. Saya diperantauan jarang main. Main pun selalu sama teman-teman yang cowok. Jadi, intensitas saya bertemu dengan lawan jenis begitu sedikit. Maka, semakin sedikit juga kesempatan saya untuk bertemu lawan jenis, sekadar menjadi teman curhat dan berbagi canda tawa.

Akhirnya, saya yang mengawali chat dengan pacar saya. Padahal dia juga sudah punya nomor saya. Begini kok bilang emansipasi wanita. Kami pun semakin dekat, kami saling bertukar tanya di dalam chat. Jadi, bukan hanya saya saja yang harus mencari bahan obrolan.

Dari situ, hampir setiap malam saya chatingan dengan dia, dan sesekali video call. Kami sudah seperti orang pacaran (walau saya belum pernah pacaran). Dia sering tanya apakah saya chat dengan wanita lain atau tidak, marah kalau bales chat dia lama, begitu perhatian dengan saya dan segala tetek bengek lainnya.

Skip-skip, waktu saya pulang kampung saya sempatkan untuk bertemu langsung dengan dia dan ngobrol ngalor-ngidul. Saya akui dia wanita yang asik, nggak cuma di chat saja. Cantik bagi saya, supel, dan yang saya suka dia bisa nggak main gadget saat kami sedang ngobrol. Kami bertemu hanya sebentar karena ada teman yang mau saya temui. Sebenarnya saya mau bertemu sekali lagi untuk memberi kepastian, karena saya merasa dia berharap dengan saya dan tidak enak jika menggantung. Tetapi saat saya ajak bertemu, dia berangkat ke luar kota dan akhirnya kita jadian via chat (iya, saya memang pria pengecut).

Saya sebenarnya biasa saja dengan dia, tidak ada perasaan kepada dia. Lebih merasa hanya sebatas teman chat agar tidak kesepian. Terlebih, saya bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta, perlu waktu untuk benar-benar yakin bahwa saya jatuh cinta dengan seseorang.

Apakah saya jahat hanya menganggap dia sebagai pengisi saat saya sedang dilanda kesepian? Yang sebenarnya saya tak ada perasaan dengan dia. Apakah saya harus tetap berpura-pura hingga tak tau kapan berakhir? Ataukah saya harus jujur dengan dia soal hal ini? Mohon penggelapannya, eh pencerahannya.

JAWAB

Hai Mas-mas yang belum pernah pacaran. Saya akan coba menjawabnya, entah ini sesuai dengan harapan sampeyan atau tidak. Tapi kalaupun nggak sesuai harapan, ya, BODO AMAT.

Intinya, sampeyan ini deket sama seorang perempuan yang cukup menarik, nyaman, tapi belum ada perasaan. Terus, karena ngerasa nggak enak kalau dianggap nggantungin dan supaya ada teman saat dilanda kesepian, akhirnya memilih untuk jadian aja? Gitu, kan?

Oke, pertama, tentu saja kenyataan ini adalah sesuatu yang menyakitkan jika seseorang yang sekarang jadi pacar sampeyan itu tahu tentang fakta sebenarnya. Menerima realita bahwa hubungan tersebut hanya dijalani dengan alasan nggak enak dan biar nggak kesepian, jelas bikin ngilu sendiri. Apalagi, kalau ternyata, pacar sampeyan itu sungguh tulus dalam memberikan perasaannya. Dan akan lebih parah lagi, jika dia mengira, Mas punya perasaan yang—setidaknya—hampir sama.

Sampeyan ini bukan lagi pengecut, Mas. Tapi sungguh kurang ajar betul. Kok bisa-bisanya hanya karena kesepian, hati anak orang dijadikan mainan? Memangnya, nggak ada mainan lain yang sanggup dijadikan hiburan?

Begini, ya, Mas. Saya sebetulnya nggak terlalu ada masalah soal: apakah sebuah hubungan harus dilandasi cinta? Pasalnya, ada dua tipe seseorang dalam memulai hubungan. Pertama, suka dulu baru dijalani. Kedua, dijalani aja dulu dan berharap pelan-pelan bakal suka—karena terbiasa.

Iklan

Nah, saya nggak tahu nih, apakah sampeyan betul-betul tipe yang kedua? Tapi yang pasti, meski memang nggak cinta, ketika sampeyan memutuskan pacaran sama dia. Ya, tetep harus berusaha menjaga komitmen tersebut. Nggak peduli gimana caranya.

Kalau ngerasa berat merawat komitmen karena memang nggak berlandaskan cinta. Ya, itu urusan sampeyan. Salah sendiri, dengan percaya dirinya macarin perempuan hanya karena kesepian.

Ehm, haruskah sampeyan jujur saja atau bertahan dalam kepura-puraan tersebut? Saya juga nggak begitu tahu, mana yang akan berdampak lebih buruk. Khususnya pada pacar sampeyan, setelah menerima kenyataaan yang sungguh bajingan itu. Tapi yang jelas, sebuah hubungan, apa pun itu. Kalau dijalani dengan kepura-puraan, hanya akan meninggalkan lara, benci, dan dendam.

Kecuali, sampeyan memang pengin pelan-pelan belajar mencintainya dengan modal kenyamanan—jalani aja dulu. Apalagi sampeyan bilang, kalau diri Mas bukanlah orang yang mudah jatuh cinta dan perlu waktu untuk betul-betul yakin sedang jatuh cinta dengan seseorang. Yaudah, dirasain dulu aja: mungkin nggak, bakalan cinta? Masalah perasaan itu, ditanyain ke dalam diri sendiri, Mas. Saya kan, nggak bisa masuk ke diri sampeyan. Lha, gimana caranya saya betul-betul tahu?

Meski kelakuan sampeyan cukup bikin saya pengin nyethol. Tapi saya juga mengapresiasi sampeyan yang menyadari, bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan percintaan tersebut. Semangat menentukan dan semoga tidak menjadi menjadi bajingan~

Terakhir diperbarui pada 13 April 2019 oleh

Tags: jalani dulu ajakesepianpacaranperantau
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co
Pojokan

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Kerja di Jakarta gaji 5 juta sebenarnya cukup saja bagi perantau. Tapi yang dirampas dari mereka jauh lebih banyak MOJOK.CO
Urban

Kerja Gaji 5 Juta di Jakarta Sebenarnya Cukup-cukup Saja. Tapi yang Direnggut dari Kita Lebih Besar, Hidup Jadi Tak Normal

24 Maret 2026
Duka merantau lama: nelangsa dengan pertanyaan dan permintaan ibu yang sebenarnya sangat sederhana MOJOK.CO
Catatan

Pertanyaan dan Permintaan Ibu yang Bikin Saya Nelangsa dan Bersalah karena Merantau Lama, Padahal Ia Tak Banyak Menuntut

24 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.