Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Ngenesnya Jadi Pengangguran dan Ditinggal Nikah Adik Sendiri

Audian Laili oleh Audian Laili
29 Desember 2018
A A
kompromi
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seorang lelaki mengeluhkan kondisinya yang pengangguran dan ditinggal nikah adik kandungnya. Ia semakin galau ketika harus menghadapi omongan orang.

TANYA

Halo Mojok~

Perkenalkan nama saya Mahmud. Saya seorang fresh graduate dari kampus kecil di Kota Kembang. Selulus kuliah, saya sering mendapat pertanyaan semacam,

“Sekarang kerja di mana?” Dari orang-orang di sekitar saya. Yang membuat saya merasa tidak bisa tenang dengan status pengangguran saya.

Biasanya, saya akan menjawab, “Masih belum menemukan jodohnya.” Sambil cengar-cengir manis semanis es tebu.

Yang semakin menyedihkan, belum sempat menemukan jawaban lain untuk pertayaan template tersebut, saya sudah dibuat bingung oleh ulah adik perempuan saya. Ternyata ia memutuskan untuk menikah dengan tambatan hatinya yang telah ia pacari selama 7 tahun, tepat sebulan setelah saya wisuda.

Tentu saya ikut merasakan bahagia, namun rasanya masih ada yang mengganjal di hati. Rasa-rasanya kok status saya yang masih pengangguran ini semakin berat dengan bumbu-bumbu pertanyaan, “Kapan menikah?”, “Kok keduluan adiknya?” dari orang-orang di sekitar saya. Saya harus bagaimana, Jok? Biar saya bisa legawa menerima kenyataan ini?

JAWAB

Hai Mahmud yang belum legawa dalam menerima kenyataan hidup…

Jadi ada dua hal yang saat ini sedang memberatkan hidup kamu, ya. Pertama, karena saat ini masih berstatus pengangguran. Kedua, ditinggal nikah oleh adik sendiri.

Mengenai permasalahan pertama kamu yang masih menganggur, menurut saya sih, selama kamu masih berusaha mencari pekerjaan, baik mendaftar di tempat-tempat yang sedang buka lowongan ataupun berusaha memulai sendiri pekerjaanmu, maka tidak alasan bagimu untuk mencemaskan sesuatu.

Jika kamu memang galau masalah kerja dan betul-betul tidak ingin menjadi pengangguran, tentu kamu tidak akan membatasi diri dengan menunggu sebuah pekerjaan. Mahmud, di zaman sekarang ini, ada banyak sekali kesempatan yang bisa kamu lakukan asalkan kamu punya keberanian memulai sendiri pekerjaan tersebut. Ada banyak jalan yang bisa kamu mulai, jika kamu betul-betul tidak ingin menjadi pengangguran.

Jangan sampai kamu terus merasa cemas dan hanya berhenti dalam kecemasan tanpa melakukan apa-apa.

Lantas terus-menerus menyalahkan keadaan, mengapa kamu harus lulus dan menjadi pengangguran. Jika kamu masih mudah menyalahkan kondisi atau orang lain atas kegagalanmu, itu artinya kamu belum cukup dewasa dan belum betul-betul siap dalam menjalani tantangan hidup yang akan semakin besar seiring dengan pertambahan usiamu.

Sedangkan untuk permasalahanmu yang kedua, sebelum saya menjawabnya, saya ingin bercerita tentang kisah teman saya. Jadi, saya memiliki seorang teman perempuan dan dia memiliki adik laki-laki dengan selisih usia hanya sekitar 1 tahun. Jadi, mereka terlihat seperti anak yang seumuran atau justru seperti anak kembar.

Iklan

Kalau kita membicarakan perihal pernikahan dan memandangnya dari kebiasaan di masyarakat, tentu saja idealnya adalah teman saya ini yang harusnya menikah duluan. Selain dia adalah anak pertama, dia juga seorang perempuan. Di mana, dalam pandangan masyarakat kita, anak perempuan biasanya akan menikah lebih cepat dibandingkan lelaki seumurannya. Jika terlambat, maka ejekan semacam, ‘nggak laku!’, ‘perawan tua!’, akan sering mampir dalam kehidupannya.

Namun di kenyataan yang harus dilakoni oleh teman perempuan saya ini, adik laki-lakinya lah yang justru menikah duluan. (((Ya seorang adik laki-laki yang justru mendahuluinya))). Meski di awal, pernikahan tersebut sempat mendapatkan pertentangan dari keluarga karena dianggap nggak pantes dan kurang menghargai ‘keberadaan’ teman perempuan saya ini.

Sedangkan teman saya, meski pada awalnya dia merasa berat. Namun, ia berpikir akan egois jika adiknya harus menunda pernikahan hanya karena menunggunya yang memang masih belum menemukan seseorang yang tepat untuk menjalani hari-hari dengannya.

Lagipula, baginya pernikahan adalah sesuatu yang baik. Ia tidak ingin menjadi penghalang niat baik adik laki-lakinya yang ingin mengambil amanah baru sebagai seorang suami. Ia pun tidak ingin, adik laki-lakinya menjadi seorang lelaki yang ‘menggantungkan’ seorang perempuan dengan waktu yang lebih lama.

Ternyata bagi teman saya, sudah menerima keadaan itu saja belum cukup. Pasalnya, celotehan-celotehan tidak menyenangkan masih saja ia terima. Tidak hanya dia, adik laki-lakinya pun juga ikut mendapatkan omongan dan dianggap sebagai: adik yang tidak tahu diri.

Namun, teman saya ini memahami, jika ia terus mendengarkan omongan orang lain yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, maka dia tidak akan merasakan kebahagiaan. Bagi orang lain, semua yang kita lakukan pasti menyimpan kesalahan yang pantas untuk dicela.

Mahmud, omongan orang memang sering terasa menganggu di pikiran, namun yang perlu kita pahami meski menyakitkan, omongan-omongan tersebut juga bisa membantu untuk menguatkan diri kita.

Begini, Mahmud, menikah bukanlah perkara dulu-duluan. Pernikahan bukan masalah pertandingan di mana yang telah melaksanakannya terlebih dulu, maka dianggap menang dalam pergaulan. Nikmati saja proses pencarianmu sekarang.

Tenang saja, mengenai kedua kegalauanmu itu, semua pasti memiliki waktunya sendiri-sendiri. Asalkan, kamu tidak berhenti dalam kondisi yang terus-menerus mengeluhkan keadaan, lantas merasa nyaman dengan bertopengkan kondisi itu.

Terakhir diperbarui pada 29 Desember 2018 oleh

Tags: Ditinggal nikahditinggal nikah adikPengangguran
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

tunggu aku sukses nanti.MOJOK.CO
Seni

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Ketika Sandwich Generation Bermimpi, Orang Lain Tak Kehabisan Cara Buat Mencaci

26 Maret 2026
Open To Work.MOJOK.co
Sehari-hari

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran MOJOK.CO
Liputan

5 Liputan Terpopuler Mojok Sepanjang 2025: Saat Realita Dunia Kerja Menampar Para Sarjana dan Lulusan S2

1 Januari 2026
Istri Super Jadi Budak Suami Pengangguran Kelas Premium MOJOK.CO
Esai

Derita Istri Jadi “Budak” Kasta Tertinggi Suami Pengangguran yang Lebih Mementingkan Burung Peliharaan ketimbang Anak dan Istri

28 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kucing, hewan peliharaan

Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

26 Maret 2026
Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja “Toxic”

30 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.