MOJOK.CORelawan Jokowi Bersatu laporkan Najwa Shihab karena bikin acara parodi soal Terawan. Kata mereka, nggak boleh memparodikan pejabat negara.

Jurnalis cum pembawa acara perempuan yang sedang moncer, Najwa Shihab dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Relawan Jokowi Bersatu, sekelompok organisasi pendukung Jokowi. Najwa Shihab dilaporkan oleh pendukung Jokowi lantaran mewawancarai kursi kosong.

Sebelumnya Najwa Shihab mewawancarai kursi kosong yang seolah-olah menjadi representasi menteri kesehatan (menkes) kesayangan kita, Pak Terawan Agus Putranto.

Laporan itu pun akhirnya ditolak kepolisian karena seharusnya perkara demikian larinya ke Dewan Pers dulu. Btw, Wakil Ketua Dewan Pers saja sampai bilang kalau pelaporan ini menunjukkan kalau relawan Jokowi itu baperan banget. Sama sindiran aja mau dibawa ke perkara hukum, gimana kalau kritik betulan?

Ya harus diakui sih, kursi kosong di Mata Najwa memang menjadi model tayangan pertama kali di Indonesia. Di mana secara gamblang menampilkan “narasumber” paling bertanggung jawab pada suatu kasus tapi sekalian ditunjukkan pula gimana keengganan si narasumber untuk menunjukkan batang hidungnya.

Oleh karena itu, wajar kalau masih banyak orang yang kaget setengah mampus atas apa yang dilakukan Mbak Najwa Shihab. Padahal jika selo sedikit cari di Google atau YouTube video jurnalis atau pembawa acara mewawancarai kursi kosong merupakan hal yang lumrah di luar negeri.

Akan tetapi, selain pada kaget, banyak yang tak suka atas penampilan kursi kosong Terawan di Mata Najwa. Orang-orang yang tak suka ini pun berupaya memperkarakan wawancara kursi kosong, maksudnya mencoba menyeret Mbak Najwa Shihab. Haembuh piye carane, entah bagaimana caranya, pokoknya diperkarakan aja dulu.

Hm, wajar sih, namanya juga sakit hati.

Masalahnya lagi, karena Menkes Terawan itu tak punya basis relawan (kan nggak ada gitu relawan Terawan?), maka ke-muntab-an ini pun coba diakomodasi oleh relawan Jokowi. Benar-benar keren, soal perkara sakit hati aja, Relawan Jokowi Bersatu mau mewakili.

Kata mereka, aksi mewawancarai kursi kosong ini dianggap sebagai cyber-bullying, karena memparodikan pejabat negara.

“Parodi itu suatu tindakan yang tidak boleh dilakukan kepada pejabat negara, khususnya menteri,” kata Silvia Devi Soembarto, Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu.

Selain itu, tayangan kursi kosong Terawan ini juga sudah melukai marwah Presiden Jokowi, sebab Pak Terawan mempresentasikan Jokowi. Apalagi Pak Terawan itu pembantunya Jokowi. Catat: pembantunya Jokowi.

“Menteri Terawan adalah pejabat negara. Hal yang membuat saya, sebagai Ketum Relawan Jokowi Bersatu marah adalah menteri ini adalah representasi Jokowi, dan Presiden Jokowi adalah kami relawannya. Jadi apa pun yang terjadi dengan Presiden dan pembatunya, ya kami harus bersuara,” katanya.

Pelaporan itu pun menuai banyak kontroversi. Apalagi amarah rakyat sedang di ubun-ubun setelah Pemerintah dan DPR sahkan RUU Cilaka, eh ditambah dengan Relawan Jokowi Bersatu bikin nama Najwa Shihab berhasil nyelip dan trending di Twitter. Makin banyak yang muntab lah dengan pemerintah sekarang ini.

Makanya wajar kalau ternyata cukup banyak orang yang mendukung Najwa Shihab. Maklum, akumulasi kepercayaan publik ke pemerintah sudah sampai ke titik terendah. Keadaan carut marut kayak gini kok. Pandemi dianggap kenormalan baru, UU Cilaka tahu-tahu diketok diem-diem.

Meski begitu, harus diakui, keputusan Relawan Jokowi Bersatu laporkan Najwa Shihab juga sudah betul. Terlepas dari ke mana mereka melapor, apa yang dilakukan ini patut diapresiasi setinggi-tingginya.

Sebab tindakan ini menjadi sebuah kemajuan. Lah iya dong, ternyata Relawan Jokowi Bersatu ini masih punya malu juga, sampai merasa marwahnya dilukai begitu dalam. Mewakili rasa malu dan sakit hati orang lain lagi.

Kan ajaib ini? Kemampuan empatinya luar biasa lho ini. Harus diapresiasi ini. Meski empatinya ke pejabat negara, nggak ke rakyat. Ya nggak apa-apa, belajar empati itu kan dari yang tinggi-tinggi dulu.

Apalagi, bisa dibilang, pada situasi seperti sekarang, Relawan Jokowi Bersatu ini merasa lebih Jokowi ketimbang Jokowi sendiri. 

Kenapa seperti itu?

Ya karena Pak Presiden pun nggak mempermasalahkan itu terjadi. Nggak merasa dipermalukan sama sekali ketika “pembantu”-nya diparodikan di Mata Najwa. Artinya, jika Pak Presiden nggak masalah, lantas relawannya malah bermasalah, yang benar-benar Pak Jokowi itu yang mana?

Kan ya mumet saya.

Orang yang diwakili aja selo dan santuy, tapi orang yang mewakili kok kayak marah betul? Dari perspektif orang ketiga lagi.

Lagi pula, kalau memang Relawan Jokowi Bersatu merasa sakit hati ketika Terawan dipermalukan begitu, seharusnya mereka juga marah saat Terawan dipermalukan di hadapan jutaan orang pemirsa televisi sebelum acara kursi kosong Mata Najwa.

Bahkan ketimbang di Mata Najwa, Terawan pada saat itu tidak disindir lagi, tidak diparodikan lagi, tapi betul-betul disemprot di depan muka umum. Bisa ditonton live!

Hal ini terkait pada kinerja Terawan yang dianggap kurang optimal dalam mengatasi pandemi. Lebih-lebih ada kesan meremehkan pandemi di awal-awal, sampai akhirnya mengorbankan banyak nyawa.

Masalahnya adalah orang yang memarahi Terawan, orang yang melakukan (kalau pakai bahasa Relawan Jokowi Bersatu) cyber-bullying itu adalah Presiden Joko Widodo sendiri. Yang marah-marah sampai ngoyot di hadapan para menteri, termasuk Pak Terawan pula.

Nah lho?

Ya ini kan termasuk mempermalukan seorang pejabat negara! Di tayangan televisi yang bisa ditonton jutaan orang lagi. Efeknya pun lebih dahsyat berkali-kali lipat saat itu ketimbang kursi kosong Mata Najwa. Soalnya, usai Pak Jokowi marah-marah, Terawan gentian dikritik habis-habisan oleh banyak orang setelah itu.

Dalam efek yang serupa dengan saat ini, mungkin Relawan Jokowi Bersatu bisa mempertimbangkan untuk melaporkan Jokowi sendiri karena melakukan cyber-bullying ke Terawan. Kan tadi katanya nggak boleh mempermalukan pejabat negara. Memparodikan aja salah, apalagi mempermalukan. Begitu kan?

Nah, kalau hal kayak gitu mau konsisten dijalankan betulan, tidak hanya lebih Jokowi ketimbang Jokowi, Relawan Jokowi Bersatu ini patut diacungi jempol karena mereka lebih Terawan ketimbang Terawan sendiri.

BACA JUGA Yang Perlu Dilakukan Najwa Shihab agar Pak Terawan Mau Datang ke ‘Mata Najwa’.

Baca juga:  Kritik Dilawan Intrik, Argumen Dijawab Sentimen