Untuk Kamu yang Beternak Burung, Modal Sayang dan Kurungan Saja tak Cukup

Beternak burung tak cukup bermodalkan cinta, apalagi cuma modal kurungan, ngasih makan dan minuman….

ERVAN Sholeh Hantara (44) baru saja menghadapkan motor Honda Monkey modifikasinya  ke arah jalan, saat saya memasuki halaman rumahnya.

“Wah sudah saya tunggu, ini baru saja saya mau berangkat ke stasiun,” katanya. Di belakang motornya, ada box berwarna putih berisi seekor burung Derkuku. Burung itu menurutnya spesial karena memiliki mutasi warna pada bulunya. Ia lepas ke pembeli Rp 4 juta.

Ervan lebih dikenal dengan panggilan Mbah Pawiro Doro, itu karena awalnya ia memang dikenal sebagai peternak burung Merpati atau dara, khususnya Merpati hias. Kini di rumahnya Merpati hiasnya tak sebanyak burung jenis anggungan  seperti Perkutut, Puter dan Derkuru yang tengah serius ia tekuni. Selain jenis anggungan dan Merpati Pawiro juga memiliki jenis burung oceh-ocehan seperti Kutilang, Jalak, Poksay, Trotokan, Manyar, dan Mozambik.

Saat ini memelihara burung jadi salah satu pilihan orang untuk memulai hobi, ada yang hanya sekadar ingin mendengarkan suaranya, keindahan bulu bahkan muncul keinginan beternak karena tergiur keuntungan yang menggiurkan. Pawiro mengakui, karenan mainan burunglah hidupnya terselamatkan.

“Usaha konter handphone dan asesoris bangkrut, hutang hampir 1 miliar, lunas karena burung. Rumah, tanah, mobil ini hasil dari jualan burung,” katanya di rumah sekaligus kandang burungnya Jalan Parangtritis Km 11, Kabuapten Bantul, DIY.

Mbah Pawiro mengingatkan, meski menggiurkan, jangan sampai punya keinginan ternak burung sekadar cari untung atau bisnis. “Ra mashoook, kalau niatnya dari awal cuma bisnis. Niatnya itu kalau saya cari hiburan, nanti untung mengikuti, tapi kalau niatnya dari awal cari untung, biasanya jebol,” katanya serius.

Mbah Pawiro mengingatkan, bagi yang ingin serius beternak burung atau sekadar memelihara, ada syarat yang dipunyai, yaitu cinta dan sayang pada burung. Itu modal awal. Tapi tak cukup kalau modalnya cuma itu. “Gemati, perhatian, memahami burung yang dipelihara, itu.”

Biasanya, ia melihat pemula yang baru awal beternak burung terprovokasi oleh orang-orang yang sudah sukses lebih dulu, sehingga hanya mengejar untung. Logikanya begini, kalau awalnya cari hiburan, meski burung nggak beranak pinak,  masih bisa menikmatinya sebagai hiburan. Bahkan kalau burung itu nggak bunyi, masih bisa dinikmati tingkah lakunya.

Ada yang berpandangan bahwa memelihara hewan piaraan seperti burung itu tanganan. Artinya, hanya orang-orang tertentu yang cocok memelihara burung. “Saya percaya ada orang tanganan, tapi tanganan itu bisa dipahami sebagai orang yang bukan saja cinta atau sayang dengan burung, tapi memahami karakter burung yang dipeliharanya,” kata Mbah Pawiro.

Artinya memilihara burung itu tidak hanya meletakan burung di kurungan atau kandang, memberi makan dan minum atau sekadar tahu cara memandikan burung. Lebih dari itu memelihara burung artinya harus bisa memahami ‘bahasa burung’.

Jika di rumahnya ada 200 burung, maka dia harus tahu masing-masing karakter si burung. Dari gerak-gerik burung atau suaranya ia seolah-olah bisa membaca kemauan burung. “Misalnya burung ngomong, ini badanku nggak enak, kurang jamu. Maka saya kasih jamu,” kata Pawiro yang juga berjualan bermacam jamu khusus untuk burung yang ia racik sendiri.

Melalui bahasa tubuh burung, ia juga tahu apa yang diinginkan burung. Burung juga bisa membaca atau merasakan karakter manusia. Misalnya, ada orang yang tidak suka burung Merpati, atau pernah menyakiti burung, maka ketika masuk ke kandangnya, Merpati-merpati tersebut ribut. Tapi kalau yang lewat orang yang dasarnya sayang dengan burung, maka burung santai saja.

Jika ada yang berpandangan memelihara burung bisa mendatangkan rezeki, Mbah Pawiro sepakat dengan pendapat tersebut. Ia menjelaskan posisi burung bagi laki-laki Jawa punya posisi sendiri. Kukila atau burung menjadi klangenan yang fungsinya sebagai untuk menangkan batin. Nah, bayangkan ketika seseorang pulang kerja dia mendengarkan suara burung, mampu menghiburnya, membuat hatinya tentrem.

“Suara burung itu menjadi terapi, tidak perlu ngobat, orang bisa sakaw dengan mendengar suara burung, membawa perasaan positif yang itu mempengaruhi suasana hatinya dalam kehidupan sehari-hari seperti keluarga, tempat kerja atau lingkungan.

Dikatakan membawa rezeki, misal pemilik burung punya warung atau toko, saat mendengar burung ngoceh atau manggung maka hatinya pasti senang, terus dia pergi ke tokonya atau tempat kerjanya. Pasti hatinya tambah fresh. Saat menghadapi pembeli hatinya juga tenang, sehingga klien akan puas.

Bagi pemula yang akan memelihara burung sebaiknya mengukur diri, sesuai takaran. Jangan terburu untuk mengeluarkan materi atau modal tinggi. Misal burung itu hanya untuk didengarkan atau klangenan maka sebaiknya pilih yang terjangkau. Begitu juga ketika menentukan untuk diternak, maka harus melihat daya dukung tempat dan kemampuan.

Kedanan burung boleh, tapi sik penting ilmune mashoook sik,” katanya. Ia melihat kegagalan usahanya dulu di bidang konter handpbone karena ia tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi yang sedemikian cepat. Berbeda saat dia menekuni ternak burung. Ia sudah menyukainya sejak kecil. Ia bahkan meminta ganti untung saat ‘burungnya’ dipotong alias disunat.

“Saya mau disunat asal saya boleh melihara burung dara. Tidak menyangka jika mainan masa kecil ternyata jadi rezeki saat ini. Dulu saya waktu kecil suka ngloloh burung emprit, eh saya sempat jualan emprit jenis mahal yang satunya punya harga Rp 2- Rp 3 juta. Untung wae aku mbiyen disunat,” ujarnya tertawa.

Dalam menjalankan ternak atau hobi burung, seseorang harus punya titik kulminasi atau hal yang dituju. Kalau yang dituju adalah materi, maka pasti tidak akan selesai. “Kalau saya titik yang ingin saya capai adalah membahagikan keluarga, terutama orang tua melalui hobi saya. Alhammdullilah sudah mengumrohkan orang tua, membelikan benda yang mereka inginkan. Itu titik kebahagiaan yang ingin saya capai,” kata Mbah Pawiro.

Sedang titik kesenangan atau materi tentu tidak pernah selesai. Salah satu target yang ingin ia capai adalah bisa punya tempat konservasi burung yang bisa digunakan siapa saja belajar sekaligus berekreasi.

Anggit Mas Arifudin (27) pemilik JSP Farm, Tempel, Kabupaten Sleman mengiyakan pendapat Mbah Pawiro tentang syarat utama jika orang ingin memelihara atau beternak burung. Rasa senang dan cinta harus menjadi dasar sebelum punya burung. Setelah itu orientasinya harus jelas, apakah punya burung hanya sekadar untuk dinikmati bunyinya atau juga untuk diternak.

“Kalau diternak, dia harus mikir, punya lahan atau engga, punya modal bikin kandang atau tidak, kalau burungnya banyak punya orang kepercayaan yang bisa menangangi burung tidak,” kata Anggit yang akrab dipanggil Anggit Kacer.

Bagi yang memiliki orientasi untuk ternak, maka juga harus tahu jenis burung apa yang dipilih. Menentukan burung apa yang dipilih terkait dengan susah tidaknya jenis burung yang mau dirawat.  Hal itu karena peternak harus tahu masing-masing karakter burung yang dipelihara. Meski burungnya dari jenis yang sama, satu jenis burung bisa berbeda dengan yang lain.

Selain itu juga untuk mengetahui burung yang harganya stabil dari tahun ke tahun. Bagi pemula yang ingin terjun di dunia perburunga, harus tahu tips saat membeli burung, jangan sampai menyesal kemudian. Budget untuk membeli indukan juga harus diperhitungkan, mulai dari yang harganya jutaan, puluhan juta hingga ratusan juta, ada.

Termasuk memperhitungkan harga jual saat masanya panen. Jangan sampai ternyata harganya ambyar. Dimana akan menjual burung juga harus dijajaki. “Saran saja kalau pemula pilih saja burung yang harganya stabil beberapa tahun ke belakang, bisa dilihat jenis-jenis burung yang banyak dikonteskan,” kata pemilik ratusan indukan untuk burung jenis Jalak Bali, Kacer, Cucak Rawa, dan jenis-jenis ayam impor eksotis.

Anggit mengatakan merawat burung untuk ternak itu berat, kalau orientasinya bisnis terus burung tidak terawat, bisa-bisa yang punya justru yang dirawat.  “Makanya kalau mau beternak burung sebaiknya diawali dari hobi dan rasa senang dulu. Kalau hobi, mau burungnya ternyata nggak bunyi, atau nggak bertelur tetap disayang,” kata Anggit.

Soal orang yang tanganan dalam merawat burung, Anggit sepakat bahwa istilah itu tepat disematkan kepada orang-orang yang tidak gengsi untuk belajar tentang burung yang dipeliharanya. Sering terjadi banyak orang yang dari awal sudah tidak yakin dengan kemampuannya merawat burung. Otomatis hal itu membuat sugesti kalau dia memang tidak mampu merawat.

“Apalagi kalau dia saat awal sudah memelihara jenis burung yang mudah stres seperti Cucak Rawa, pasti gagal karena dia dari awal sudah tidak yakin. Padahal tanganan itu sebenarnya proses belajar mengenal burung. Saya sampai sekarang juga terus belajar ke siapa saja kok,” kata Anggit yang juga punya izin untuk menangkarkan Merak Jawa.

Baca Juga : Bahayanya Ngomongin Burung Bareng Cowok

Soal tips beternak burung juga disampaikan Elya Kurniawan (23), anak muda ini membenarkan kalau mau memelihara burung apalagi beternak, rasa senang dan cinta adalah hal pertama yang dimiliki oleh seseorang. Saat masih Sekolah Dasar (SD) bukan hanya burung, ia memiliki beberapa jenis hewan piaraan seperti Merpati, Kelinci, Siskin, Kenari dan ayam.

Orang tuanya meminta ia fokus ada satu jenis saja sehingga ia kemudian memilih burung Kenari untuk diternakan. Pertamakali ia membeli burung Kenari saat kelas 5 SD. Burung  betina itu ia beli  dari menyisihkan uang jajan senilai Rp 80 ribu. Burung itu kemudian ia titipkan pada pamannya yang memiliki pejantan. Setiap menetas, ia bagi hasil dengan pamannya. Setelah merasa mampu dan memiliki ilmu untuk beternak, Elya kemudian beternak sendiri di rumahnya Jalan Kaliurang Km 7,8.

Selain rasa sayang, tentu saja ilmu memelihara burung harus dipelajari. Elya menjelaskan, bisa saya teori memelihara burung antara pembeli dan penjual itu sama, tapi aplikasi di tempat masing-masing bisa berbeda. Maka memahami tingkah laku burung adalah keharusan. Termasuk memahami soal pakan, vitamin, dan masa birahi.

Soal tanganan, baginya adalah kemauan seseorang untuk telaten, sabar dan perhatian pada burung. Misalya saja, tiga tahun yang lalu ada orang yang membeli burung jenis Siskin Hijau dan Merah padanya. Setelah tiga tahun, ternyata hanya jenis yang merah yang mau berproduksi. Sementara Siskin Hijau yang terkenal rewel tidak mau bertelur.

“Seminggu lalu saya beli dari dia karena mau dijual. Di tempat saya, tak lama burungnya mau bertelur,” kata Elya. Menurutnya membaca karakter burung memang sangat penting untuk melihat apa yang dimaui oleh burung. Tidak bisa jika sebaliknya, burung mengikuti kemauan manusia. Setiap burung akan punya karakter dan sifat masing-masing.

Mungkin ada orang yang menganggap memelihara burung itu adalah investasi masa depan. Kepada mereka, omongan Mbah Pawiro ini bisa jadi perlu disampaikan.  “Keliru kalau ternak burung untuk investasi, mending tuku lemah, emas, opo sisan main saham, podo jebole!!” kata Mbah Pawiro sembari tertawa.

Seri Liputan “Beternak Burung”

  1. Dipingit, Cara Efektif Mengawinkan Burung
  2. Untuk Kamu yang Beternak Burung, Modal Sayang dan Kurungan Saja tak Cukup