Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mengenang Masa-masa tanpa Internet

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
28 Oktober 2019
A A
Mengenang Pusingnya Hidup Tanpa Internet yang Mentok di Game Minesweeper

Mengenang Pusingnya Hidup Tanpa Internet yang Mentok di Game Minesweeper

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kita nggak bakal pusing waktu membaca komentar netizen karena, dalam hidup tanpa internet, kita pasti lebih pusing mikirin gimana cara main Minesweeper.

Bulan Agustus lalu, akun Twitter saya berulang tahun yang ke-10. Kalau Twitter adalah manusia, akun saya tentu sudah duduk di kelas 4 SD—mungkin sekelas bareng Nobita dan Shizuka.

Sepuluh tahun lalu—saya jadi berpikir—apa yang sedang saya lakukan? Saya masih berusia 17 tahun, duduk di kelas 12, baru saja merayakan hari jadi pacaran ke-3-bulan, dan menulis twit berbunyi “Exit!” setiap kali hendak menutup tab browser dan pergi tidur. Dari masa-masa sepuluh tahun yang lalu hingga hari ini, hidup saya—sadar atau tidak sadar—sudah dibayangi kekuatan internet dan media sosial.

Kamu mungkin mengalami hal yang sama, tapi pernah nggak sih kamu berpikir: Apa yang kita lakukan dalam masa-masa hidup tanpa internet, di mana media sosial belum sebegini dominannya?

Pertama, mana ada sosialisasi sambil rebahan?

Kamu sekarang bisa saja menulis status atau caption untuk meningkatkan engagement dengan teman-teman dunia mayamu sambil tiduran di kasur dan gegoleran. Tapi, coba tebak—hal yang sama nggak bakalan mungkin bisa kamu lakukan di hidup tanpa internet. Sosialisasi dimulai dari seruan teman yang datang dan memanggil namamu dengan nada khas anak-anak, diikuti ajakan, “Main, yuk!”

Kedua, Tinder < nembak langsung.

Zaman dulu, jomblo hanya bisa diakhiri dengan dua hal: berani “nembak” langsung atau minta dijodohin sama teman yang lain. Mana ada aplikasi ajaib macam Tinder yang bisa membuatmu bisa “menerima” atau “menolak” orang lain, lalu menunggu pesan masuk untuk kenalan kalau ternyata timbul match?

Ketiga, Wikipedia nggak ada apa-apanya.

Saya pernah terobsesi dengan buku ensiklopedia yang tebalnya naudzubillah itu demi memenuhi hasrat penasaran terhadap banyak hal. Saya nggak tahu ada teknologi yang namanya search engine—apalagi Wikipedia—jadi satu-satunya cara mencari tahu dalam hidup tanpa internet adalah membaca banyak buku dan ensiklopedia. Tapi, suatu hari, kakak saya pulang membawa sebuah CD-ROM berisi software ensiklopedia digital bernama…

…Encarta!!!

Keempat, bertahan hidup tanpa Spotify asalkan ada Walkman atau tape player.

Seingat saya, zaman dulu, nggak pernah tuh ada masa-masa kita makan di restoran, lalu terdengar musik mengalun yang mendadak dipotong kalimat, “Mau dengerin musik tanpa iklan???” setelah lagu pertama selesai. Jangankan iklan Spotify, lah wong Spotify-nya sendiri aja belum ada.

Alih-alih Spotify, walkman dan tape player justru memasuki masa kejayaannya di masa-masa hidup tanpa internet. Persetan dengan iklan—dengan bermodalkan sebuah kaset pita, kita bisa mendengarkan lagu yang kita suka, meski hanya dari satu penyanyi saja. Tapi ya nggak apa-apa—semakin banyak kaset yang kita punya, semakin bisa kita manfaatkan tempat-tempat kasetnya untuk mainan rumah-rumahan. Ngaku aja, deh.

Iklan

Kelima, alih-alih twitwar dan gontok-gontokan di media sosial, mainan kita adalah Solitaire dan Minesweeper.

Dulu, kalau lagi bosan, kita nggal bakal scrolling timeline atau tap-tap Instagram Story untuk melihat apa yang teman kita sedang lakukan atau membaca komentar mereka soal film yang baru atau skandal artis terbaru. Kita juga nggak bakal pusing waktu membaca komentar netizen (“Dasar warga +62!”) karena kita, dalam hidup tanpa internet, pasti lebih pusing setengah mati mikirin baik-baik soal gimana cara main Minesweeper sesungguhnya.

Serius, deh, bahkan sampai 10 tahun saya kenal internet, saya masih nggak ngerti cara main Mineswepeer. Heran!

BACA JUGA Kamu Pikir Ngerjain Skripsi Susah? Udah Ngerasain Pas Nggak Ada Laptop dan Internet? atau artikel Aprilia Kumala lainnya.

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2019 oleh

Tags: hidup tanpa internetInstagrammedia sosialMinesweepertwitter
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Brain Rot karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok.MOJOK.CO
Mendalam

Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Pembusukan Otak karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok

3 Juli 2025
Cara Termudah Menghapus Akun Instagram Secara Permanen MOJOK.CO
Kilas

Cara Termudah Menghapus Akun Instagram Secara Permanen

20 September 2023
survei revou untuk instagram dan tiktok ugm mojok.co
Pendidikan

Survei RevoU: Instagram dan TikTok UGM Paling Populer dari 15 Kampus Teratas

10 September 2023
Self Abuse yang Tidak Aku Sadari Setelah Melihat Media Sosial MOJOK.CO
Kilas

Self Abuse yang Tidak Aku Sadari Setelah Melihat Media Sosial

9 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama MOJOK.CO

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama

5 Januari 2026
Vixion R, Motor Terbaik Yamaha yang Mati karena Zaman MOJOK.CO

Vixion R, Tamat Riwayatmu Kini: Ketika Motor Terbaik Yamaha Mati karena Perubahan Zaman

6 Januari 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal

8 Januari 2026
Susah jadi bidan desa, niat edukasi malah dianggap menentang tradisi MOJOK.CO

Susah Payah Bidan Desa: Warga Lebih Percaya Dukun Bayi, Kasih Edukasi Malah Dianggap Menentang Tradisi

6 Januari 2026
Gudeg Jogja 3 Porsi di Malioboro Dihargai 85 Ribu Itu Wajar, Jadi Wisatawan Mbok Ya Riset, Jangan Caper!

Saya Benci Setengah Mati, Gudeg Jogja Menjadi Simbol Hidup Tak Bertanggung Jawab tapi Sering Menyelamatkan Saya Semasa Kuliah

6 Januari 2026
flu.mojok.co

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.