Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Sori, Vice, tapi Menurut Kami Bukan Ongkos Menjaga Pertemanan yang Mahal

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
23 April 2018
A A
Sobat-qismin-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ongkos menjaga pertemanan dianggap mahal bagi sebagian orang karena tuntutan yang harus dipenuhi demi teman lainnya. Pertanyaanya: apakah realitas ini benar terjadi dan sungguh-sungguh dirasakan semua orang?

Usia saya (hampir) 26 tahun, tiga tahun lebih bangkotan dibanding penulis artikel Vice tentang ongkos menjaga pertemanan sebulan lalu dan nge-hits berhari-hari di lini masa. Ketika saya membaca artikel tadi untuk yang kesekian kalinya, kening saya berkerut-kerut.

Peringatan: Baca dulu artikel yang saya tautkan di atas, ya~

Percayalah, sebagai wanita yang punya beberapa teman wanita, saya juga pernah merasakan (beberapa) hal yang dikeluhkan penulis: teman-teman akan menikah lalu mereka membagikan kain untuk dijahit—atau dengan kata lain, mereka “meminang” saya menjadi bridesmaid mereka, yang pada dasarnya sama dengan orang-orang yang dititahkan untuk pakai baju kembaran dan harus siap untuk diminta foto bareng pengantin.

Yang jadi permasalahan adalah penulis artikel tadi menyebutkan bahwa ongkos menjaga pertemanan itu mahal, yang dilihat dari biaya jahit baju: 300 ribu!!!

Tunggu, 300 ribunya kan dibayar ke tukang jahit, tapi kenapa itu malah seakan-akan jadi salahnya teman yang ngasih kain? Bukankah seharusnya ongkos 300 ribu itu untuk “bayar jasa penjahit” alih-alih untuk “menjaga pertemanan”? Lagian, itu jahitnya 300 ribu banget, sis? Coba deh keliling-keliling sedikit. Kalau minta dijahitin di tukang jahit langganan, 150-an ribu dapet, kok, dengan ilmu negosiasi.

Setelah pusing urusan baju bridesmaid, masalah yang dibahas kedua adalah soal bridal shower dan iuran membeli kado untuk teman yang akan menikah. Dalam artikel tadi, angka iuran yang disebutkan cukup tinggi: 200 ribu per orang.

Alamak, itu beli apa aja, ya? Foundation Estee Lauder? Balon aneka warna? Pakaian dalam kelas dunia?

Saya jarang ikut iuran, lebih sering iuran sama diri sendiri untuk ngamplop di kondangan: masalah beres, selesai, tanpa nggerundel di dalam hati. Lagian, kenapa ongkos 200 ribu tadi juga dipermasalahkan sebagai ongkos menjaga pertemanan? Padahal, kalau dipikir-pikir, ongkos 200 ribu itu, kan, muncul karena…

…jumlah orang yang patungan kurang banyak. Itu!

Solusinya, dalam melakukan iuran, ajaklah teman-teman sebanyak mungkin, mulai dari teman SD, SMP, SMA, kuliah, hingga kerja. Alih-alih mengeluh ongkos pertemanan tadi mahal, hikmah silaturahmi pasti akan terasa.

Meski jarang ikut iuran, saya pernah terlibat dalam beberapa kali iuran kado pernikahan. Terakhir, saya iuran 50 ribu untuk 2 pasang pengantin dengan hadiah yang tidak ecek-ecek dan cukup bermanfaat. Kuncinya? Iuran sama temen-temen yang banyak, nggak usah sok-sok pakai squad-squad gitu.

See? It’s all about how you plan everything, gaes-gaesku.

Dan, lupakan gengsi! Nggak perlulah ngado dan dekor sana-sini hanya demi momen foto yang Instagramable. Kalau mindset-nya masih kayak gitu, yang mahal berarti bukan ongkos menjaga pertemanan, tapi ongkos menjaga followers.

Iklan

Xixixi~

Yang tidak kalah bikin runyam adalah ongkos menjaga pertemanan dalam bentuk traktiran, mulai dari berulang tahun hingga resign dari pekerjaan.

Tapiiii, saya sendiri resign bulan Desember lalu dari tempat kerja lama saya dan—untungnya—nggak ada tuh yang minta traktiran resign. Lagi pula, teman macam apa, sih, yang setiap kali kita bergerak selalu minta traktiran?

[!!!!!!11!!!!!!!!!!!!]

Ya, ya, ya, benar!!! Kalau dipikir-pikir, teman macam apa yang memaksa kita untuk bersikap seperti teman yang ada dalam pikirannya??? Menyediakan baju seragam dalam pernikahan, bridal shower, kado, kejutan, hingga traktiran—memangnya itu ada dalam Undang-Undang Pertemanan??? Bahkan… emangnya ada Undang-Undang Pertemanan???

Saya ingat, dalam artikel tadi, ada kalimat yang menyebutkan:

“Ini terjadi enggak cuma di Jabodetabek. Di kota-kota besar lain juga mulai ngetren. Itu belum menghitung biaya yang keluar kalau misalnya kita resign dari kantor lama.”

Eeiiiits. Tunggu sebentar, tunggu sebentar.

Apakah Yogyakarta termasuk kota besar? Karena jika ya, saya tidak sepenuhnya merasakan semua hal yang disebutkan penulis, apalagi di kampung halaman saya, Cilacap. Ya, Cilacap mah emang bukan kota besar, sih. Tapi, btw, Cilacap itu salah satu kabupaten terluas di Jawa Tengah (nggak mau kalah) dan budaya ini juga tetap jarang ditemui.

Jadi, Teman-Teman, sudahlaaaah~ Nggak perlulah kamu-kamu lantas ketakutan untuk berteman karena ongkosnya disebut-sebut mahal. Kalau pun kamu merasa mahal, kemungkinannya ada lima: 1) pergaulan yang kamu cemplungi memang terlalu tinggi; 2) kamu sedang memenuhi standar gengsimu sendiri; 3) kamu nggak punya tukang jahit langganan; 4) squad-mu terlalu eksklusif; atau 5) belum ada diskon di toko-toko yang barangnya kamu incar.

Saya pribadi sih memang tidak begitu merasa ongkos pertemanan ini mahal. Setidaknya, tidak mencapai nominal biaya yang—jika pun harus keluar—setara dengan artikel tadi, lah.

Boro-boro ngado sampai 200 ribu, lah wong inget ulang tahun temen aja udah alhamdulillah.

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: amplop kondanganartikel vicebridal showerbridesmaidbridesmaidsiurankado pernikahan
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Amplop nikahan jadi kebingungan untuk fresh graduate di Jakarta
Catatan

Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya

24 April 2026
rekomendasi kado pernikahan mojok.co
Kilas

Biar Nggak Mubazir! Ini Rekomendasi Kado Pernikahan Buat Pengantin Baru

6 Januari 2023
kado pernikahan, liverpool mojok.co
Pojokan

5 Rekomendasi Kado Pernikahan Paling Unik yang Tepat Guna

14 Maret 2020
Pojokan

Dilema Memilih Bridesmaid Biar Nggak Bikin Teman Iri Hati

14 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Deni mahasiswa berprestasi dari UGM berkat puisi. MOJOK.CO

Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

14 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.