• 31
    Shares

MOJOK.CO Baik di hari bahagia maupun tidak bahagia, budaya ini terus saja ada. Sepertinya, budaya minta traktir memang sudah mendarah daging.

Seorang kawan dari Selandia Baru pernah secara random bertanya tentang apa yang saya dan teman-teman lakukan saat seorang sahabat berulang tahun. Sebelum menjawab, dia bercerita dulu bahwa dirinya selalu dibuatkan pesta kejutan dan ditraktir saat bertambah usia. Dalam sehari, ia merasa bagaikan anak emas yang mendapat perhatian berlimpah.

Saya agak-agak menelan ludah sebelum gantian bercerita. Kalau si William—nama bule Selandia Baru ini—selalu ditraktir saat berulang tahun, saya justru ditagih memberi traktiran saat ulang tahun. Secara sadar, saya telah berada di tengah-tengah lingkaran budaya minta traktir saat ulang tahun sejak dulu, mungkin sejak zaman SD.

“Cieeee, ulang tahun! Traktir dong! Makan di mana kita nanti?”

Bahkan tanpa diminta, si orang yang berulang tahun pun akan dengan senang hati mengajak seluruh kawannya makan gratis, baik di kantin sekolah atau tempat makan lain yang mitayani. Ih, apa itu mitayani? Coba tanya aja sama teman-teman yang bicara bahasa ngapak, ya, mylov. Hehe~

Tujuannya? Ya untuk memenuhi ‘standar’ pertemanan dan menjaga pertemanan itu sendiri. Ckck.

Kebiasaan meminta traktiran ini bukan cuma muncul di waktu seseorang berulang tahun. Jika ada orang yang baru jadian pacaran saja, pasti ada yang menagih meminta PJ (Pajak Jadian), minimal dibelikan es teh di kantin. Padahal, mah, ya…

…apa hak Anda minta-minta dibeliin makanan??? Ha wong kita pacaran aja backstreet kok!!! Huh.

Tapi, serius deh. Pertanyaannya, kenapa kita harus terus-terusan minta ditraktir teman di hari bahagianya, bahkan di hari tidak bahagianya?

Baca juga:  Ulang Tahun Rambat dan Sekretarisnya

Eh, di hari tidak bahagia?

Iya, mylov, budaya ini ternyata kian meluas. Sebagai contoh, setelah pacaran, akhirnya kita pun putus juga. Teman-teman datang menghibur dan mengatakan bahwa kita tetap harus bersyukur karena jadi lebih bebas sekarang. Setelah mood mulai tertata, mereka datang kembali dan berujar, “Asyiiiik, udah move on, nih, udah bebas! Traktiran, dong, udah lepas dari mantan!”

Ya ampun, Sista, hati aja masih babak belur penuh luka pengkhianatan mantan, kok ya tega-teganya kita langsung disuruh bayarin makan siang?! Apa pada nggak kepikiran uang itu bisa kita pakai untuk potong rambut di salon bagus untuk membuang sial—seperti yang biasa dilakukan orang-orang lain saat patah hati?!

Tak hanya patah hati, saat memutuskan resign dari kerjaan pun kita bakal menghantam tagihan traktir, baik berupa nasi kotak untuk teman-teman kantor, kue, atau pizza yang bisa dikonsumsi bersama-sama. Saya, sih, nggak mengalami traktiran ini, tapi beberapa teman di kota lain merasakannya. Nggak harus pizza—kakak saya malah beli satu tampah besar berisi jajanan pasar demi dimakan bersama-sama orang kantor.

Tapi, tapi, tapi, tidakkah mereka-mereka yang minta traktiran berpikir bahwa gaji orang-orang yang resign itu mungkin bakal menjadi gaji terakhir mereka sampai mereka berhasil menemukan pekerjaan berikutnya??? Tidakkah sebaiknya gaji itu disimpan dan ditabung untuk persiapan masa depan, bukannya dipakai seenaknya demi pizza dengan topping keju dan daging ekstra walaupun pizza itu emang enak banget nggak ada duanya???

Budaya minta traktir ini sepertinya tidak lahir dengan ujug-ujug. Bahkan sejak kita lahir ke dunia yang penuh dengan air mata dan kebohongan ini, syukuran kelahiran kita pun digelar. Setiap kali ulang tahun, pesta dan syukuran tak lupa diadakan. Pindah rumah pun dirayakan dengan syukuran, persis seperti hal-hal lain seperti syukuran panen dan syukuran pernikahan.

Baca juga:  Nahdlatul Ulama, Makasih ya!

Seakan tidak puas ‘memperkosa’ dompet teman sendiri melalui budaya minta traktir ini, beberapa orang bahkan melakukan ekspansi ke beberapa hal lainnya yang mirip-mirip: minta harga teman kalau ketahuan mereka baru membuka bisnis atau usaha baru.

“Eh, sekarang jualan baju, nih? Beli satu, dong, tapi dikasih harga temen, ya!”

Itu masih mendingan. Ada juga yang bilang, “Tolong bikinin ini, ya, nanti aku beliin rokok sama kopi.”

A-apa??? Ja-jadi kemampuan yang diasah bertahun-tahun lewat tugas sekolah dan kuliah yang naudzubillah ribetnya ini hanya wajar dihargai sebungkus rokok dan kopi??? Lagian, situ suka minta traktir pas kita ulang tahun dan resign kerjaan, tapi masih juga minta diskon harga temen??? Situ sahabat atau mantan pacar yang jahat lintah darat???

Kebiasaan minta traktir ini sebenarnya sudah sering dibahas pada forum terbuka. Tidak sedikit yang mengeluhkan keanehan orang-orang yang minta ditraktir pada orang yang berulang tahun, padahal seharusnya yang berulang tahunlah yang dibuat bahagia seharian. Toh, di kesempatan berikutnya saat mereka berulang tahun, merekalah yang bakal ditraktir. Adil, kan?

Lagian, pada hari-hari yang sebenarnya bukan hari bahagia, seperti putus cinta atau resign kerjaan, rasanya kurang etis saja kalau kita langsung menagih minta ditraktir. FYI aja nih, daripada minta traktiran pada teman yang habis putus cinta, kayaknya akan jauh lebih baik kalau kita membantunya untuk berbahagia dengan mengajaknya pergi nonton, belanja, makan berdua, atau—hehe—ngenalin kandidat calon pacar yang jauh lebih baik daripada mantannya.

Gitu.

  • 31
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles