MOJOK.CO – Bicara soal fiksi berarti tak jauh-jauh juga dari bicara soal sastra. Tapi sebenarnya, apa hubungan antara sastra dan fiksi? Apakah sastra adalah bagian mutlak dari fiksi? Atau sebaliknya?

Setelah ramai kata fiksi berlalu-lalang di banyak media, tingkat kepo masyarakat soal fiksi seolah meningkat. Hal ini diperkuat dengan berita dari Prabowo Subianto yang—mengutip novel Ghost Fleet—menyebutkan bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030 serta pernyataan Rocky Gerung, pengamat politik yang dikabarkan sebagai (mantan) dosen Filsafat UI, yang menyebutkan bahwa kitab suci adalah fiksi.

Kemunculan berita ini cukup menyentuh hati kami, Mojok Institute cabang Language Center (uopppooo iki!), untuk turut menganalisis makna sesungguhnya dari kata fiksi. Tertarik? Baik, ayo dimulai. Anda sudah siap? Zidan siap? Pak Haji siap?

*tekan Enter*

Kata fiksi berasal dari bahasa Latin, yaitu fictio, yang berarti “membangun” atau “membuat”. Selanjutnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memuat arti fiksi dalam 3 definisi, yaitu:

  1. cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya),
  2. rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan,
  3. pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran

Singkatnya, fiksi sering diingat atas sifatnya yang menghibur sekaligus bertentangan dengan cerita nyata. Dengan demikian, setelah kita mengetahui bahwa fiksi adalah hal yang ditulis berdasarkan khayalan saja, tentu ia tidak bisa disamakan dengan curhatan teman yang baru putus, lalu nangis-nangis, kan?

Baca juga:  Bagaimana Saya Menjadi Penggemar Berat Felix Siauw dan Mendukung Khilafah Islamiyah

Gagasan ini diperkuat pula dengan pernyataan Welleck dan Warren, penulis Theory of Literature, yang menyebutkan bahwa peristiwa dalam karya fiksi adalah ilusi dari kenyataan. Artinya, karya fiksi bukanlah apa yang sebenarnya terjadi sehari-hari.

Sampai di sini paham, ya? Ya? Ya?

Bicara soal fiksi berarti tak jauh-jauh juga dari bicara soal sastra. Jangankan ngomongin sastra dari definisinya, wong kalau ada orang kuliah di Jurusan Sastra aja kita biasanya merasa ia bisa menulis fiksi. Iya atau nggak?

Kata sastra sendiri disebut-sebut berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu shastra, yang maknanya adalah “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”. Tapi sebenarnya, apa hubungan antara sastra dan fiksi? Apakah sastra adalah bagian mutlak dari fiksi? Pada batas apa sastra bersifat fiksi alias fiktif, atau (mungkin saja) tidak fiktif?

Berdasarkan hasil riset Mojok Institute sambil mengingat-ingat pelajaran Bahasa Indonesia sekian tahun yang lalu, karya sastra memang dibagi menjadi dua, yaitu karya sastra fiksi dan karya sastra nonfiksi. Jadi, kalau diibaratkan, sastra adalah seorang suami yang berpoligami dengan dua istri, bernama Mbak Fiksi dan Mbak Nonfiksi. Kenapa harus poligami banget contohnya? Ya nggak papa, ini soalnya saya nulis sambil baca berita orang poligami, jadi sekalian aja :(((

Karena dari atas sampai paragraf ini tulisan kita sudah agak-agak serius, kita lanjutin aja dengan nuansa yang sama sembari mendata contoh-contoh karya sastra berdasarkan gambaran hubungan antara sastra dan fiksi:

Baca juga:  Indonesia Bubar Tahun 2030: Sebuah Imajinasi Lain

Karya Sastra Fiksi

  1. Puisi
  2. Prosa
  3. Drama

Karya Sastra Nonfiksi

  1. Biografi
  2. Otobiografi
  3. Esai
  4. Resensi

Gimana, gimana? Udah ngangguk-ngangguk?

Tapi ngomong-ngomong, kenapa puisi, prosa, biografi, esai, dan lain-lainnya itu masuk ke dalam daftar tulisan sastra? Apa kriteria dari sastra itu sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan ini, bisalah kita sekali lagi mendefinisikan sastra (yang memayungi tulisan fiksi maupun nonfiksi) menurut KBBI, yaitu:

  1. bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari),
  2. kesusastraan,
  3. kitab suci Hindu; kitab ilmu pengetahuan,
  4. pustaka; primbon (berisi ramalan, hitungan, dan sebagainya),
  5. tulisan; huruf

Well, dari salah satu definisi di atas, Anda mungkin terkesiap melihat makna nomor 3: kitab suci Hindu. Wow! Bisa-bisa, Anda teringat pada pernyataan Rocky Gerung yang disinggung pada paragraf pertama tulisan ini~

Jangan-jangan, yang benar ialah “kitab suci adalah sastra”, alih-alih “kitab suci adalah fiksi”??? Hmm???

Tapi yaaa, sudahlah, ya. Mengutip Ivan Lanin, setiap kata itu sifat aslinya netral, Teman-Teman. Tafsir manusialah yang membuatnya memihak.

Aseeeek~



Tirto.ID
Loading...

No more articles