Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Asal-Usul Social Justice Warrior alias SJW yang Kena ‘Efek’ Peyoratif

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
2 Agustus 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sekarang ini, ada banyak orang yang disebut Social Justice Warrior alias SJW, tapi sambil dihina-dina. Sebenernya, awal mula “profesi” ini tuh gimana, sih?

Akun Twitter saya nganggur bertahun-tahun . Terakhir kali, saya aktif sampai tahun 2014, sebelum akhirnya kembali di tahun 2018—itu pun gara-gara masuk ke Mojok dan di-mention. Berturut-turut, saya “mempelajari” Twitter kembali.

Selain menyadari bahwa cara retweet lama sudah terlampau jadul (itu, loh, yang pakai nulis “RT” segala), saya menangkap ada julukan baru yang populer, yang sama sekali nggak saya pahami: Social Justice Warrior alias SJW.

Beberapa orang bermain Twitter dengan lebih serius dibandingkan yang lain. Adu argumen tak terhindarkan. Topik yang diperbincangkan berat dan serius.

Teman saya bilang, itu para SJW yang sedang beraksi. Saya cuma manggut-manggut, padahal nggak tahu SJW itu apa. Saya tahunya tuh di dunia KPop, SJ adalah Super Junior. Tapi, kalau ditambah W, saya benar-benar nggak ngerti!

“Social Justice Warrior,” terang teman saya akhirnya. Pada sebuah sesi ngobrol, ia menjawab semua rasa penasaran saya.

“Itu… baik atau buruk?” tanya saya. Pertanyaan ini sebenarnya cukup absurd karena, nyatanya, istilah SJW sendiri mengalami perjalanan yang cukup panjang.

Seperti namanya, Justice, SJW merujuk pada konsep keadilan, khususnya keadilan sosial. Para SJW adalah mereka-mereka yang memperjuangkan sikap adil dan sama rata bagi setiap orang untuk diperlakukan dengan manusiawi. Sampai di sini, sepakat kan kalau saya bilang betapa mulianya para SJW?

Awal Mula Istilah Social Justice Warrior

Penggunaan istilah SJW mulai berkembang pesat di tahun 2015. Ia bahkan masuk ke dalam Oxford Dictionary. Mula-mula, Social Justice Warrior itu sendiri dipakai pada tahun 1991 dengan tujuan apresiatif pada aktivis Kanada, Michel Chartrand, yang menentang ketidakadilan dalam masyarakat.

Selain itu, tujuh tahun setelah 1991, istilah Social Justice Warrior pun kembali digunakan, kali ini merujuk pada anggota gerakan Homeless Action Coalition yang bergerak memperjuangkan kepentingan tunawisma.

Sayangnya, istilah Social Justice Warrior ini lantas berubah makna yang tak lagi jadi pujian, alias menjadi kata peyoratif.

Dikuti dari Fee.org, Social Justice Warrior mendadak tak lagi jadi “seksi” karena kepositifannya. Malah, bagi banyak orang sekarang ini, ungkapan SJW bisa bermakna sebagai hinaan atau insult. Loh, loh, kok bisa?

Jawaban dari problematika ini hanya satu: konotasi. Masih menurut Oxford Dictionar, SJW ternyata juga diberi makna “a person who expresses or promotes socially progressive views”. Wikipedia bahkan menjelaskan lebih spesifik. Di sana, tertulis bahwa SJW adalah sebuah istilah peyoratif bagi seseorang dengan pandangan progresivisme sosial, termasuk feminisme, hak sipil, multikulturalisme, dan politik identitas.

Know Your Meme konon pernah menjelaskan istilah Social Justice Warrior sebagai berikut:

Iklan

“A pejorative label applied to bloggers, activists and commentators who are prone to engage in lengthy and hostile debates against others on a range of issues concerning social injustice, identity politics and political correctness. In contrast to the social justice blogosphere at large, the stereotype of a social justice warrior is distinguished by the use of overzealous and self-righteous rhetorics [sic], as well as appealing to emotions over logic and reason.”

Atau, dengan kata lain, SJW adalah…

…istilah yang diberikan pada orang dianggap selalu merasa sok benar dan berupaya “memikat” emosi melalui teori logika dan alasan-alasan yang dipunyainya.

Bagaimana SJW Menjadi Konotasi

Dari penjelasan makna Social Justice Warrior di atas, apa artinya, Saudara-saudara?

Seperti yang dipercaya oleh para peneliti bahasa, “efek” peyoratif ini ibarat “senjata” bagi sekolompok orang untuk menjatuhkan semangat dan motivasi orang yang memang bergerak di bidang keadilan sosial.

Artinya, dengan ngata-ngatain menggunakan istilah SJW seolah-olah itu adalah hinaan yang kotor, orang-orang yang sebenarnya sedang berjuang demi keadilan sosial beneran pun dianggap “mencari pembenaran diri, bukan karena benar-benar yakin dengan pandangan mereka”.

Di situlah, Teman-teman sekalian, makna peyoratif itu muncul—semua karena konotasi.

Tapi, meski berangkat dari konotasi, istilah SJW nyatanya bisa dimanfaatkan dengan baik pula sebagai peluang bisnis. KFC, misalnya—dengan cerdik, ia menjual sedotan stainless steel.

Nggak tanggung-tanggung, nama produknya pun ditulis dengan mantap: Sedotan SJW.

Daebak.

Terakhir diperbarui pada 2 Agustus 2019 oleh

Tags: Michel Chartrandsedotan stainless steelSJWsocial justice warrior
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Yang Terjadi kalau Majapahit Masih Eksis hingga Hari Ini
Esai

Yang Terjadi kalau Majapahit Masih Eksis hingga Hari Ini

13 November 2021
Zara, Posting Video Pribadi Emang Hak Kamu, tapi Hak Itu Nggak Bebas Konsekuensi perempuan edgy kalis mardiasih mojok.co
Kolom

SJW versus Standar Kecantikan ala Micelle Halim? Ya Ikut SJW Lah!

11 Juli 2021
Esai

Adil Membayangkan Indonesia Tanpa Omnibus Law

14 Maret 2020
sjw social justice warrior megi margiyono arti definisi makna ciri-ciri kelakuan kiri ekstrim kanan ekstrim fasisme far left far right fascism teori sepatu kuda horse shoe theory
Esai

SJW Termasuk Fasisme Kiri Ekstrim, Terdengar Tak Masuk Akal, tapi Bisa Dijelaskan

16 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

9 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.