Beberapa hari yang lalu Yamadipati Seno menyarankan dua lagu alternatif selain selawat untuk dinyanyikan di tribun stadion “supaya para kafirun bisa ikut bernyanyi”. Salah satunya adalah lagu koplo.

Kepadanya saya mau bilang: “Mas, lagu koplo itu sudah masuk stadion dari kemarin-kemarin. Situ ke mana aja?” Mungkin chef @arsenalskitchen ini terlalu sibuk twitwor sampai abai pada fakta terang seperti itu.

Tapi saya maklum, blio ini kan tinggal di Baciro yang bisa dibilang pusatnya Brajamusti, jadi selain pendukung Arsenal, blio juga penggemar PSIM (Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram) Yogyakarta. Wajar blio tidak tahu lagu koplo sudah bergema di stadion, dinyanyikan para Sleman Fans di Stadion Maguwoharjo, stadion rival si Biru Mataram.

Walaupun Sleman Fans ini kelihatannya suka ngitaly, jangan salah, masih ada kearifan lokal dalam lagu-lagu mereka, terutama dari kelompok BCS (Brigata Curva Sud). Inilah proses yang dinamakan “glokalisasi” kalau kata Richard Giulianotti dan Roland Robertson dalam “The Globalization of Football: A Study in the Glocalization of the ‘Serious Life’”.

Menurut Giulianotti dan Robertson, glokalisasi adalah fenomena perpaduan kebutuhan, nilai, dan budaya lokal yang sekaligus tidak tertinggal dari budaya global. Gabungan antara kultur ultras Eropa yang garang dengan kehidupan orang gunung ala Sleman akhirnya melahirkan ultras yang ngitaly tapi tetap ndeso. Inilah yang membuat lagu-lagu koplo orang gunung tadi berdamping dengan kultur suporter londo.

Empat lagu di bawah ini adalah contoh lagu koplo yang digubah sedemikian rupa untuk mendukung PSS Sleman.

“Cinta Tak Terbatas Waktu”, Deddy Dores

Lagu ini enak betul didengar, sampai bisa buat joget-joget di atas tribun. Tapi saya tidak begitu yakin lagu ini gubahan langsung dari versi aslinya mengingat ada frasa “oa … oe …” di akhir lagu. Mungkin ini lebih mirip versinya NDX AKA.

Baca juga:  Pak Edy Rahmayadi Yuk Belajar Sejarah Sepakbola Indonesia

Aku cinta PSS-ku tak terbatas waktu

Tak ‘kan ada selain dirimu

Ooo … ooo … ooo …

Cinta yang telah kita bina

Pahit manis bersama

Demi PSS super elang Jawa

Oa … oe …

Lagu ini menceritakan besarnya cinta yang melahirkan tekad suporter untuk selalu mendukung kebanggaannya sebagaimana Naruto pad tekad ninjanya. Memang tercium aroma gombal pada lagu ini. Saya kira juga tidak banyak yang benar-benar meresapi lagu ini terutama baris kedua dan kelima. Sedikit sekali yang mau merasakan pahit bersama. Kalau timnya lagi bobrok ya tinggal cari tim lain yang lebih bagus. Hehe.

“Tak Ingin Sendiri”, Dian Piesesha

Lagu kedua ini cukup tua. Saat lagu ini diciptakan, PSS (Persatuan Sepak Bola Sleman) baru berumur 8 tahun. BCS dan Slemania baru berbentuk embrio. Terima kasih untuk band bernama Neckemic yang sudah menyelami masa lalu untuk menggubah lagu ini.

Malam ini tak mungkin kamu sendiri

Bernyanyi ku ‘kan bersama semangatmu

Lantang nyanyian ‘kan selalu kau rasa

Kau ingin kau menang

Sebenarnya ada tiga bait yang digubah, tapi saya berikan bait terakhirnya saja biar nggak kepanjangan. Pokoknya dua bait awal isinya betul-betul manis. Janji setia untuk mendukung, kerelaan hati untuk berkorban, sampai memohon agar diizinkan untuk mencintai.

Tapi, lihat baris terakhir, di balik janji manis yang sudah diucapkan ada udang di balik batu. Tidak bisa dimungkiri semua suporter tabiatnya memang seperti itu, penginnya cuma lihat timnya menang. Hih, memang sulit menemukan cinta yang tulus di era sekarang.

“Brondong Tua”, Siti Badriah

La la la la la la la

La la la la la la la la

Baca juga:  Pesona Indomie yang Tak Terbantahkan dari Sleman hingga Nigeria

La la la la la la la

La la la la la la la la la la la la

Ya gitu lagunya. Nggak ada yang bisa dibahas. Kalau ngotot ingin tahu lagunya, cukup nyanyikan dengan nada lagu aslinya. Lagu aslinya bisa cari di YouTube. Kalau sudah bisa menyanyikan tanpa harus cari nada lagu aslinya, berarti sampean penggemar koplo sejati. Saya bangga sama sampean.

“Suket Teki”, Didi Kempot

Lagu terakhir berasal dari legenda campursari asal Solo. Dengan tambahan “oa … oe …” setelah baris terakhir, sudah cukuplah membuat lagu ini beraliran koplo.

Wong salah ora gelem ngaku salah (orang salah nggak mau ngaku salah)

Suwe-suwe sopo wong e sing betah (lama-lama siapa yang betah)

Mripatku uwis ngerti sak nyatane (mataku sudah mengerti yang sesungguhnya)

Kowe selak golek menangmu dewe (kamu keburu ingin menang sendiri)

Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki (kutanama padi yang tumbuh kok rumput teki)

Oa … oe …

Lagu ini jarang dinyanyikan, tetapi sekali dinyanyikan akan terlihat bahwa suporter PSS betul-betul cerdas. Kecerdasannya tak hanya mendekam dalam kampus yang memang menjamur di Sleman, tapi juga dibawa ke dalam stadion.

Kebanyakan suporter biasa menggunakan umpatan untuk menyerang pemain lawan. Di Sleman, selain umpatan lagu ini juga dipakai untuk menyindir pemain lawan. Saat pemain lawan melakukan protes terhadap keputusan wasit, lagu ini akan dinyanyikan dengan mengumpamakan pemain lawan sebagai “wong salah sing ora gelem ngaku salah”.

Begitulah kira-kira beberapa lagu koplo yang sudah tidak asing terdengar di Stadion Maguwoharjo. Lagu-lagu tersebutlah yang menandakan bahwa selain mengusung budaya ultras dari Negeri Pizza, Sleman Fans juga tidak kehilangan karakter ndeso-nya.

Komentar
Add Friend
No more articles