• 91
    Shares

MOJOK.CO – Bruce Lee tidak hanya mengenalkan kung fu ke Amerika, melainkan juga mengangkat citra imigran Cina di perantauan. Pada bulan Juli ini, sudah 45 tahun namanya jadi legenda.

Tak ada yang luar biasa, saat seorang pemuda Cina, berukuran pendek, berusia 18 tahun, kurus dan berkacamata dari Hong Kong tiba di Amerika Serikat, pada tanggal 17 Mei tahun 1959.

Apalagi saat itu, tipikal cara pandang orang Amerika terhadap orang Cina tak lebih dari kisaran sebagai pembantu rumah tangga yang penurut, koki restoran, karyawan binatu, atau buruh konstruksi rel kereta api. Mereka dianggap orang-orang pragmatis bahkan cenderung oportunis.

Orang-orang Cina di Amerika ini tidak dipandang seperti orang negro, yang dianggap lebih berbahaya, agresif, dan berani menyuarakan hak mereka. Saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu.

Apa karena orang negro dianggap punya kemampuan yang bisa menyamai kemampuan orang kulit putih? Lebih bergaya dalam bicara, bisa menyanyi lebih baik, musiknya lebih dinamis atau tariannya lebih hot? Sejumlah gospel di gereja negro memang terasa lebih nge-soul dan nge-jazz dibanding gospel di gereja kulit putih ortodoks, yang terasa kaku.

Belum lagi kemampuan fisik orang negro, baik laki-laki maupun perempuan, yang berujung pada kepuasan batin. Itu sudah menjadi rahasia umum yang sulit dibantah orang kulit putih.

Sebelum era Hak Sipil mencapai kemenangan di Amerika, seorang laki-laki kulit putih yang tidak bisa membela kehormatan istrinya karena diselingkuhi misalnya, akan segera mencari kambing hitam sebagai upaya menyembunyikan kegagalannya.

”Istriku diperkosa negro!” dan sekian orang akan membantu untuk mencari pelakunya. Tidak akan laki-laki kulit putih ini akan berkata, ”Istriku diperkosa orang Cina,” siapa yang akan percaya?

Tapi sejurus waktu, siapa mengira? Sosok pemuda berkacamata yang baru tiba dari Hong Kong tadi, nyatanya beda. Tubuhnya berotot, tatapan matanya bisa menyiutkan nyali, sedikit arogan dan acungan jari telunjuknya tegas.

Namanya Bruce Lee. Pandai bicara dan jago bela diri. Gambarannya mirip Clark Kent yang tak perlu ganti kostum menjadi Superman. Kemudian hari, orang akan mengenalnya sebagai superstar melalui film-film bertema bela diri.

Film-film The Big Boss, Fist of Fury, Way of The Dragon, Enter The  Dragon, dan Game of Death, merupakan rangkaian perjalanan kerja kerasnya sepanjang tahun 1971 hingga 1973.

Dirombaknya segala tradisi film bela diri klasik Cina, yang terlalu monoton dengan jurus dan memakai efek kawat sling untuk membuat orang bisa melayang di udara. Gaya Bruce Lee menunjukkan gerakan perkelahian lebih natural pada zamannya. Presisi kecepatan, pentalan efek pukulan, lalu gerakan-gerakan perkelahian yang belum ada di film-film sebelumnya, memunculkan sosok idola baru bagi penikmat film saat itu.

Baca juga:  Beban Jadi Anak Kiai atau Anak Orang Sukses kayak Sandiaga Uno

Di layar film, bisa disaksikan kemampuan Bruce Lee melayang sambil berteriak senyaring bangau lalu secara bersamaan bisa menendang dua orang bajingan sampai tersungkur. Semua penonton terpukau bukan hanya soal gerakan di potongan adegan tersebut, akan tahu keyakinan bahwa dalam kehidupan nyata, Bruce Lee memang mampu melakukan itu semua—hal yang semakin membuat kekaguman kepadanya tumbuh semakin cepat.

Ia pendiri aliran Jet Kune Do, yang diterjemahkan bebas sebagai ”cara cepat untuk menjatuhkan lawan”. Banyak melakukan demonstrasi di berbagai turnamen bela diri di Amerika dan sejumlah selebriti kelas atas jaman itu mengikuti pelatihan yang diadakannya.

Ia dianggap semacam ”sufi” dalam hal bela diri dan pemujaan tubuh. Ada suatu keyakinan spiritual dari pengikutnya, bahwa kita bisa punya kekuatan untuk mengatasi kesulitan jika istikomah pada kombinasi latihan jurus, diet, meditasi, dan latihan beban yang tepat. Dengan niat yang kuat, ditambah setengah ngotot, kita mampu membentuk diri kita menjadi ”manusia setengah dewa”.

Pandangan yang tidak bisa disalahkan. Kalau memerhatikan film-film soal jago kung fu Cina. Para jagoan kung fu dalam aneka film klasik Cina itu bisa hidup tanpa harus pusing cari kerja. Cukup dengan kemampuan bela diri, mereka bisa melanglang buana, bertarung di mana saja, makan di mana saja, dan belanja di mana saja.

Mereka seolah selalu punya uang tanpa diketahui apa pekerjaannya. Pokoknya jadi pendekar maka pintu dunia akan terbuka. Pekerjaan itu fana, jago kung fu itu abadi.

Pada tahun 1900, para pemberontak Boxer dari Cina, yang menyerang berbagai entitas diplomatik Barat di Beijing, dipengaruhi filosofi itu. Mereka sangat yakin bahwa bela diri membuat mereka kebal terhadap peluru. Bayangkan saja, ratusan pemberontak dengan tangan kosong menyerang sepeleton pasukan bersenjata api. Baru pasang kuda-kuda sekian jurus untuk menyerang, senapan dan pistol sudah bicara. Ya amblas.

Sebenarnya fanatisme itu masih bertahan, tentunya dengan sedikit penyesuaian, bahwa seni bela diri mampu membentuk tubuh kita menjadi senjata yang sempurna sekaligus sebagai resep panjang umur. Akan tetapi nyatanya Bruce Lee tidak pernah mencapai panjang umur. Ia meninggal pada usia 32 tahun, pada bulan Juli 1973 atau 45 tahun yang lalu.

Rilis resmi rumah sakit, penyebab kematiannya berawal dari edema otak, yang menurut otopsi adalah hasil reaksi ganjil terhadap obat resep penghilang rasa sakit, yang disebut Equagesic. Toh para pemujanya tak begitu saja percaya. Sebab, dengan olah tubuh dan ahli kung fu seperti itu harusnya Bruce Lee panjang umurnya. Pada akhirnya kabar kematiannya dianggap penuh kontroversi.

Apalagi saat itu dikabarkan tim dokter menyatakan bahwa ditemukan bekas-bekas mariyuana di tubuh Bruce Lee. Para pemuja jelas menganggap itu melecehkan Bruce Lee. Apalagi ada isu bahwa para dokter memberi keterangan ke media hanya dengan membaca kata-kata pernyataan di atas sebuah catatan, sesuai arahan pihak-pihak yang menghendaki kematiannya.

Baca juga:  Puasa Ramadan di Negeri Cina yang Komunis nan Agamis

Menghendaki kematiannya? Ya memang kala itu yang lantas berkembang pada tahun-tahun 1970-an adalah dugaan musuh-musuh Bruce Lee. Ada yang bilang Bruce Lee dibunuh mafia yang mengontrol bisnis perfilman di Hong Kong, ada yang bilang dia dibunuh oleh saingannya dalam dunia bela diri. Ah, macam-macam, saya juga tidak tahu pasti.

Saat saya masih di bangku SD, sudah menjadi pengetahuan jamak di lingkungan sebaya saya maupun orang-orang dewasa, bahwa Bruce Lee mati diracun. Entah itu benar atau tidak. Apalagi saat ditemukan sekarat, Bruce Lee sedang berada di kamar seorang aktris bom sex Hong Kong saat itu, Betty Ting Pei, yang kemudian diisukan sebagai gundiknya.  Lha kok anak SD sampai bisa tahu cerita soal bom-sex segala?

Gimana lagi, memang zaman itu pilihan bacaan dan tontonan buat anak-anak tidak terlalu banyak. Semua koran, majalah dan buku, terbaca dengan kendali yang ukurannya sangat longgar.

Apapun itu, Bruce Lee tetap dikenal awet muda dalam film-filmnya. Ia juga berhasil mengabadikan ajaran ”untuk tidak menginjak-injak orang yang lemah”. Plot filmnya seragam. Selalu berperan sebagai ”si kecil”. Senantiasa dipaksa bersumpah untuk tidak bertarung, tapi orang-orang dekatnya diganggu dan dibunuh. Itu memaksanya untuk menghabisi banyak orang sebagai pembalasan dan sesudahnya menyerahkan diri kepada pihak yang berwenang.

Bruce Lee sepanjang hampir 10 tahun kariernya di dunia perfilman Amerika telah menjadikannya semacam sosok raja, bukan hanya untuk orang Cina perantauan, tetapi untuk semua orang yang dianggap aneh di tanah rantau serta para pengagum aksinya di layar putih.

Bagi orang Barat, ia bagaikan Raja Daud, dengan tendangan berputar dan lompatan melayang, yang jauh lebih menawan daripada ketapel untuk melawan Goliath.

Bagi orang Cina, ia bagaikan Raja Kera Son-Gokong, yang dengan kemampuan beladirinya mampu mengambil kitab suci kehormatan derajat orang Cina di tanah asing Amerika. Kehadirannya bikin orang Cina tidak lagi dipandang sebagai masyarakat kelas dua lagi di sana.

Sedangkan bagi orang Indonesia, Bruce Lee bagaikan Raja Dandut, yang dengan teriakan bercengkok mampu melibas musuh dalam sekejap sambil bergoyang cepat begitu indahnya. Jelas tidak kalah menawan daripada Roma dengan iramanya.

Tapi tidak seperti Bang Roma, Bruce Lee tidak panjang umurnya, meskipun jelas-jelas lebih abadi namanya. Setidaknya dari usia 45 tahun kematiannya yang jauh lebih melegenda.