Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Akankah Presiden Jokowi Jatuh?

Puthut EA oleh Puthut EA
5 November 2016
A A
Akankah Presiden Jokowi Jatuh?

Akankah Presiden Jokowi Jatuh?

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lho, kok judulnya ngeri amat? Sebetulnya memang judul itu dilebih-lebihkan. Bukan supaya dibaca orang. Tapi berusaha menjangkau ‘keinginan terpendam’ sebagian orang yang ikut aksi massa 4 November kemarin (411).

Kericuhan aksi massa 411 sebetulnya sudah sejak awal bisa dideteksi. Semua terlihat terang benderang dari mulai kelompok-kelompok massa yang didatangkan ke Jakarta, lalu menyimak yel-yel, dan juga isi orasi menunjukkan semua itu dengan gamblang. Tentu saja tidak semua peserta aksi ingin ricuh. Tapi mengabaikan bahwa kericuhan tidak akan terjadi pada aksi 411 adalah sejenis kenaifan politik.

Pertanyaan yang penting untuk segera dijawab adalah apakah kericuhan aksi massa tersebut akan mengakibatkan goncangan politik, akan membuat kerusuhan sosial, dan apakah ada kemungkinan bisa membuat Presiden Jokowi terjungkal?

Kalau Anda masih bertanya bahwa: lho ini kan urusannya soal Ahok, kenapa bisa sampai ke Jokowi? Itu berarti sensitivitas politik Anda kurang tajam. Bagi beberapa kelompok yang tergabung di aksi tersebut, jelas sekali bahwa isu Ahok adalah target antara saja. Tujuan sebagian dari mereka adalah mendelegitimasi rezim Jokowi, dan syukur bisa menjungkalkannya.

Nah, jika itu memang keinginan mereka, apakah keinginan tersebut bisa terjadi? Dalam politik, tidak ada keinginan yang salah. Dulu, orang ingin menjatuhkan Suharto, keinginan tersebut juga tidak salah. Hanya saja kalau menjadi praktik politik, ada konsekuensinya: kalau menang jadi juara, kalau kalah masuk penjara.

Terjadinya kerusuhan sosial di Indonesia punya beberapa syarat yang tidak mudah. Saking tidak mudahnya, saya termasuk orang yang percaya bahwa mendesain hal tersebut perlu daya yang luar biasa. Kalau bikin kericuhan, jauh lebih mudah. Poin-poin di bawah ini bisa untuk membantu apakah kericuhan bakal berbuntut kerusuhan atau tidak.

Pertama, krisis ekonomi. Kerusuhan sosial di Indonesia selalu ada pemicu dasarnya, yakni krisis ekonomi. Apakah Indonesia sedang krisis ekonomi? Jika iya, rezim Jokowi harus ekstra-hati-hati. Jika tidak, maka satu hal dasar terjawab. Definisi krisis ekonomi itu apa? Dalam konteks ini agak mudah yakni melambungnya harga kebutuhan pokok yang terjadi secara tiba-tiba.

Kedua, aksi massa yang terjadi didukung oleh masyarakat sekitar. Sebagaimana kita tahu, massa aksi kemarin didatangkan dari luar Jakarta. Itu sah-sah saja. Masalahnya adalah apakah aksi tersebut mendapat dukungan politik dari masyarakat sekitar? Jika dapat dukungan, itu persoalan besar. Jika tidak, itu tak terlalu menjadi persoalan. Demonstrasi 98 yang terjadi di berbagai kota, didukung oleh masyarakat sekitar. Di Jakarta didukung selain oleh kelas menengah, juga oleh apa yang biasa disebut sebagai ‘kaum miskin kota’. Kelompok masyarakat yang tersingkirkan karena agenda pembangunan. Salah satunya tentu saja karena digusur.

Ketiga, soal eskalasi. Poin ini lebih mudah melihatnya. Jika hari Sabtu (hari ini) dan hari Minggu ada aksi-aksi massa susulan di Jakarta, dan jumlahnya makin besar, Presiden Jokowi harus bersiap-siap menghadapi persoalan besar. Tapi jika jumlah peserta aksi massa menurun, terlebih menurun drastis, apalagi jika tidak ada aksi, bolehlah Presiden Jokowi merasa lega. Termometer politik rezim Jokowi harus siaga untuk memindai 511 dan 611.

Keempat, persebaran atau perluasan aksi demonstrasi. Kemarin, selain di Jakarta terjadi aksi massa di berbagai kota lain. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa Jakarta adalah titik didihnya. Namun butuh bahan bakarnya. Bahan bakar itu bisa dilihat dalam pergerakan aksi demonstrasi di kota-kota lain pada hari Sabtu dan Minggu ini.

Kelima, kesigapan rezim. Satu kekeliruan politik terjadi kemarin. Sebab mestinya Presiden Jokowi menemui perwakilan para demonstran. Tapi Presiden Jokowi memilih pergi ke tempat lain. Jelas hal itu menjadi amunisi dan alasan ketidakpuasan demonstran. Dan sialnya, semalam, dia membuat pernyataan politik resmi kalau kericuhan yang terjadi karena ada aktor politik yang menunggangi. Hal ini mungkin dianggap orang-orang di sekitar Presiden sebagai ‘gertakan’ atau bahasa politik termudah yang bisa dinyatakan. Namun dalam situasi seperti ini, keadaan bisa berbalik. Pernyataan itu bisa menjadi amunisi baru bagi lawan politik Presiden Jokowi. Maka kalau memang benar ada yang aktor politik yang menunggangi, secepatnya disebut dan diproses hukum. Kalau tidak, satu lagi bara yang sengaja dibiarkan tetap menyala.

Tim kerja di sekeliling Jokowi, memang dipilih dalam situasi tenang. Mereka adalah para teknokrat dan birokrat yang dibentuk untuk situasi ‘normal’. Tapi seorang Presiden harus bersiaga menghadapi situasi tidak normal. Kalau Presiden Jokowi mendapatkan masukan politik dari tim yang dipersiapkan bekerja dalam kondisi normal untuk merespons situasi yang tidak normal, Presiden Jokowi bakal punya potensi melakukan kekeliruan langkah-langkah politik. Ingat, Tom Hagen tidak cocok menjadi ‘consigliere’ dalam situasi ‘perang’ pada masa Michael Corleone.

Silakan pembaca menilai sendiri, apakah situasi-situasi di atas sedang terjadi atau tidak. Dan yang lebih penting lagi, langkah-langkah politik Presiden Jokowi seyogianya lebih kreatif dan lebih segar. Misalnya, ketika massa sudah membakar ban atau mobil, bawakanlah jagung, ketela, dan kambing. Massa diajak bebakaran bersama.

Jangan terlalu tegang, Pak Jokowi! Semalam, muka Anda terlihat: “Kau tampak tua dan lelah, keringat mengucur deraaas…” dan “Anak kuruuus tak seeekolaaaah, pemuda desa tak kerjaaa…”

Iklan

Pagi ini saatnya bekerja. Di saat para anggota aksi massa masih kecapekan dan belum sempat konsolidasi lagi. Jangan lupa sarapan. Dan jangan lupa: segera umumkan siapa saja aktor politik penunggang kericuhan semalam. Kalau tim Anda yang membisiki hal tersebut tidak bisa menjawab: pecat saja. Suruh balik ke habitat masing-masing. Mereka itu Anda karyakan untuk mempemudah kerja Anda, bukan malah mempersulit.

Selamat bekerja, Tuan Presiden!

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2017 oleh

Tags: ahokdemo 411featuredjokowi
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.