Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

WhatsApp Dark Mode dan Penyebab Gelap-gelapan Jadi Tren

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
11 Februari 2020
A A
whatsapp dark mode instagram twitter mode gelap dark mode bikin mata lelah keseatan mata photophobia tren gelap-gelapan fungsi dark mode

whatsapp dark mode instagram twitter mode gelap dark mode bikin mata lelah keseatan mata photophobia tren gelap-gelapan fungsi dark mode

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO –  Setelah Twitter dan Instagram, WhatsApp dark mode sudah ancang-ancang bakal diresmikan. Tren gelap-gelapan ini makin dicintai meski klaimnya bikin mata lebih sehat agak keliru. 

Sejak sebelum ponsel dan budaya netizen terbentuk, gelap-gelapan memang sudah jadi hobi. Bayangkan, restoran yang pakai konsep candle light dinner, bioskop yang lampunya dimatikan, sampai tema-tema gotik (bukan goyang itik) sudah ada dari dulu. Warna gelap muncul sebagai antitesis terhadap keterangbenderangan dan segala pewarnaan yang menjemukan.

Tapi mohon maaf, sebaiknya konsep warung yang gelap alias remang-remang memang jangan dilanggengkan.

Saya kenal konsep dark mode dari Twitter, setelah itu Tirto.id juga pakai. Bahkan tema gelap Instagram sempat jadi bahan takabur para pengguna iPhone karena di awal perilisan, cuma pengguna sistem operasi iOS yang bisa pakai. Kini WhatsApp sedang mengujicobakan dark mode yang belum semua orang bisa pakai. Namanya juga masih jajalan.

Mode gelap dengan latar belakang hitam ini diklaim bisa bikin mata kita nggak cepat lelah, bahkan katanya lebih baik buat kesehatan mata karena mengurangi pancaran sinar berlebihan dari layar. Observer juga menulis bahwa dark mode sedikit banyak meredam emosi netizen saat bersosial media. Sehingga pecinta tubir bisa diredam kemarahannya dengan mode ini.

Selain alasan kesehatan mata, mode gelap juga berhubungan erat dengan kesehatan baterai ponsel. Makin sedikit pixel yang dipakai, makin awet penggunaan baterai. Artinya layar LED ponsel nggak bekerja ekstra kalau kita pakai mode gelap di hampir semua aplikasi.

Tentu saja kita semua terbeli dengan embel-embel itu. Sebagai manusia yang hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk menatap layar, menjaga mata agar less damage itu tindakan yang wajar. Tapi di balik itu, dark mode juga sebuah tren yang memang sedang gencar-gencarnya dijual.

Adalah keliru jika mengatakan sepenuhnya mode gelap lebih ramah di mata. Teks putih dengan latar belakang gelap memang mudah dibaca, tapi kalau menatapnya saat kondisi ruangan terang benderang ya sama saja, bikin mata lebih lelah. Sebaliknya, mode gelap ini justru bagus dipakai saat kondisi ruangan cukup gelap. Gelap for gelap.

Dalam kondisi ruang terang benderang, light mode akan lebih memudahkan mata kita bekerja dan membuat produktivitas meningkat. How to Geek menyimpulkan kalau dark mode baiknya dipakai malam hari aja sementara light mode dipakai di siang hari. Andai alasan penggunaannya demi mata ya memang seyogyanya begitu.

Saya sendiri punya alasan pakai dark mode karena tren aja sih. Lagian bosen kan lihat background putih melulu. Nyatanya kalau suka sama mode gelap dan malah nggak peduli soal sains di balik penggunaannya mah gas aja.

Sebagian orang juga menderita photophobia, di mana light mode bikin kepala mereka migrain. Dark mode bakal menolong orang-orang ini dari kepeningan akibat chat sama gebetan seharian. Mungkin pacar kalian yang ghosting dan tiba-tiba nggak pernah balas chat juga karena dia photophobia. Setelah WhatsApp dark mode resmi, maka nggak ada alasan.

Intinya jangan berkekspektasi apa-apa dari tren mode gelap ini. Gelap-gelapan sejatinya memang kita sukai. ‘Suka’ adalah motivasi terkuat di balik segala tindakan nonwajar.

BACA JUGA Plus Minus Chattingan Pakai WhatsApp vs Telegram. Mana yang Lebih Bagus? atau artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2020 oleh

Tags: elektronikponselwhatsapp dark mode
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

perbedaan reboot dan restart mojok.co
Kilas

Ini Perbedaan Reboot dan Restart Biar Kamu Nggak Asal Pencet

4 Februari 2023
Ponsel Saya Diretas, Apa yang Harus Dilakukan Mojok.co
Kilas

Ponsel Diretas, Apa yang Harus Dilakukan?

26 September 2022
kebocoran Data Kartu SIM Mojok.co
Hukum

Cek Kebocoran Data Kartu SIM, Situs Ini Bisa Digunakan 

2 September 2022
POCO Indonesia luncurkan smartphon flagship
Kilas

POCO Seri F, Smartphone Flagship yang Harga dan Spesifikasinya Berani

27 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.