MOJOK.CO Sliding-an dari bos Telegram ke WhatsApp ternyata masih bergema. Dua aplikasi pesan ini memang yang paling menonjol belakangan. Mari bongkar saja plus minus chattingan pakai WhatsApp vs Telegram.

Pavel Durov, bos Telegram lagi hobi banget menyerang WhatsApp perihal keamanannya yang katanya memprihatinkan. Pasca ponsel bos Amazon, Jeff Bezos kena hack lewat kiriman video melalui pesan WhatsApp, prahara saling lempar kesalahan muncul.

WhatsApp nggak mau disalahkan, lalu menyalahkan sistem operasi iPhone, diam-diam Telegram masuk dan ngejekin sistem keamanan WhatsApp yang memang rentan. Hadeeeh!

Mari abaikan saja para pengembang aplikasi bicara. Saatnya objektif dan menilai plus minus WhatsApp vs Telegram. Mana di antara keduanya yang paling asyik buat chattingan.

#1 Telegram punya fitur keamanan yang yahud

Ada fitur secret chat di Telegram yang memungkinkan kalian berkirim pesan secara rahasia. Teks yang tertera di kolom pesan nggak akan tampil di pop-up notification. Bahkan chat ini bisa dipasangi self-destruct timer yang berfungsi buat mengatur kapan kolom chat kalian lenyap dengan sendirinya.

Fitur ini jelas antihoaks karena nggak mengizinkan penggunanya meneruskan pesan apalagi melakukan screenshot percakapan. Konon, Tuan Krab dan SpongeBob menggunakan fitur ini buat berbagi resep rahasia Krabby Patty.

Urusan keamanan, mau nggak mau Telegram memang lebih unggul dan lengkap. Sementara WhatsApp hingga kini mengandalkan end-to-end encryption yang kabarnya bisa ditembus juga. Nggak heran kalau Pavel Durov pede banget mempertandingkan WhatsApp vs Telegram.

Baca juga:  Ravio Patra Ditangkap dan Kita Tidak Boleh Merasa Baik-baik Saja

#2 WhatsApp punya fitur Story yang nggak dipunyai Telegram

Fitur WhatsApp Story belakangan digandrungi sama penggunanya. Sampai-sampai jadi ciri khas bersosialisasi para boomer. WhatsApp Story bisa jadi sama asyiknya dengan Instastory. Mereka memberikan kesempatan bagi pengguna untuk ‘nyampah’ tapi bakal hilang sendiri setelah 24 jam.

Ini dia yang bikin orang-orang males ke Telegram, karena sejatinya jiwa kepo kita buat mengetahui aktivitas orang lain masih begitu bergejolak.

#3 Telegram mampu menampung grup hingga ribuan orang

Berbeda dengan grup WhatsApp yang maksimal cuma bisa menampung 256 anggota, Telegram bisa menampung hingga 5.000. Inilah yang bikin grup-grup di Telegram jadi serupa forum-forum di Internet. Bukan grup keluarga atau grup arisan kantor aja.

Bayangin aja kalian bisa bikin grup angkatan satu universitas dalam satu grup. Enak banget kalau mau menghubungi kenalan dari fakultas lain, tinggal cek database kontak.

#4 Dari jumlah pengguna, WhatsApp vs Telegram masih dimenangkan WhatsApp

Terkadang ada banyak pengguna yang merasa lebih nyaman dan cocok pakai Telegram. Tapi sayang, Telegram masih jarang penghuninya. Inilah sebabnya orang-orang susah move on, karena teman-teman chatting mereka adanya di WhatsApp semua.

Saking terbiasanya pakai WhatsApp, pakai Telegram jadi suatu hal yang nggak umum. Secanggih apa pun suatu aplikasi kalau kenampakannya kayak kota yang sepi, jarang ada yang tertarik untuk tinggal dan menetap.

Baca juga:  5 Fakta Chat Keluarga yang Ngeselin tapi Ngangenin

Selain beberapa hal konkret di atas, sepak terjang Telegram memang sedikit terhambat karena pernah dicap sebagai aplikasi yang dipakai teroris. Saking ketatnya sistem keamanan mereka, orang-orang nggak bertanggung jawab macam terori justru memanfaatkan aplikasi ini untuk bertukar informasi.

Akibatnya Telegram pernah diblokir oleh Kominfo. Namun tidak lama kemudian, setelah Pavel Durov melakukan negosiasi dengan pemerintah, Telegram pun bisa dipakai lagi.

Berbeda dengan WhatsApp yang sudah dinaungi oleh perusahaan raksasa Facebook. Dananya mengalir lancar, urusan birokrasi pun bisa lebih mudah. Intinya WhatsApp vs Telegram memang kayaknya bakal abadi.

Yang jelas mau pakai aplikasi chattingan WhatsApp atau Telegram, pengembang keduanya sama-sama akan jadi kaya raya semakin sering kita memakainya. WhatsApp dari Amerika, Telegram dari Rusia, kedua negara ini secara politis aja saling ribut. Sampai ke ranah aplikasi pesan juga sindir-sindiran.

Sementara orang Indonesia sudah cocok banget jadi penonton yang layak dikomersialisasi. Tapi tenang, kalau mereka punya aplikasi pesan, kita tetap punya banyak waktu untuk memakai keduanya.

BACA JUGA Fitur-fitur ‘Rahasia’ di WhatsApp yang Bahkan Pengembangnya Sendiri Tidak Tahu atau artikel lainnya di LIST