MOJOK.CO  Sementara iuran BPJS naik sampai dua kali lipat, staf BPJS ternyata ketahuan pakai asuransi kesehatan swasta. Mereka sendiri saja nggak pakai produk sendiri. Alias, apa-apaan ini?

Saya masih belum bisa move on dengan adanya kenaikan tarif BPJS Kesehatan yang bukan main itu. Tadinya bayar cuma Rp80 ribu per bulan, sekarang harus bayar Rp160 ribu per bulan. Dua kali lipat, iya. Buat membiayai asuransi kesehatan yang prosedurnya saja masih maha ribet.

Sebelumnya, Menkes Terawan hampir saja menimbang ulang kenaikan ini dengan membicarakannya pada raker bersama Komisi IX DPR. Sayangnya hingga hari ini, kebijakan kenaikan tersebut nggak goyang. Pak Terawan nggak punya opsi lain untuk menambal defisit BPJS selain dengan menaikkan tarifnya.

Padahal kenaikan tarif ini jelas bikin orang-orang memutuskan turun kelas BPJS Kesehatan secara berjamaah. Yang berarti, kemungkinan defisit masih membayang-bayangi JKN. Ini memang selayaknya problem internal yang diatasi pihak-pihak eksternal a.k.a peserta BPJSnya sendiri.

Sebuah slentingan nggak mengenakkan pun muncul. Staf BPJS Kesehatan dirumorkan pakai jasa asuransi kesehatan swasta alias mereka nggak pakai produk yang mereka hasilkan sendiri. Persetan dengan cintailah ploduk-ploduk dalam komunitas sendili.

Anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay mengunggah statemen melalui media sosialnya bahwa staf BPJS Kesehatan justru difasilitasi asuransi kesehatan yang dipandang lebih mumpuni daripada produk mereka sendiri. Informasi ini ia dapatkan dari seorang kepala bagian rumah sakit di Riau.

Baca juga:  Mahkamah Agung (MA) Batalkan Aturan Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Sungguh pengkhianatan yang menyayat sanubari.

Informasi ini kemudian dikulik lebih dalam oleh Tirto.id dengan menanyai salah satu staf BPJS Kesehatan yang identitasnya dirahasiakan. Hasilnya, voila, mereka benar-benar pakai asuransi kesehatan swasta yaitu Mandiri InHealth.

Mari kita pahami bahwa asuransi dari Mandiri InHealth memang sering digunakan oleh perusahaan swasta, BUMN, dan institusi pemerintahan. Tapi jangan lupa kalau badan asuransi ini komersil. Sementara internal BPJS Kesehatan sedang sakit, mereka malah berobat pakai jasa asuransi lain yang bikin keuangan mereka sendiri makin defisit.

Slentingan pengkhiatan ini sebenarnya sudah mengudara semenjak 2016 lalu. Tapi belum seserius ini ketika iuran BPJS Kesehatan sedang naik dan diprotes habis-habisan. Pada Maret 2016, Kompas berbicara dengan Perwakilan Humas BPJS Kesehatan, Ikhsan. Katanya sih staf BPJS Kesehatan memang diperbolehkan pakai asuransi lain karena tidak ada regulasi yang melarangnya.

Cuy, kalau ini cuma soal regulasi sih, kami nggak peduli. Yang digarisbawahi adalah keheranan tiada ujung mengapa staf BPJS Kesehatannya memilih pakai produk asuransi kesehatan lain. Mereka jadi nggak merasakan kegalauan mau operasi pakai BPJS Kesehatan yang harus menunggu kepastian kapan kamar sesuai kelasnya bisa ditempati. Galau karena mengurus berkas-berkas sembari sakit hanya untuk klaim dana asuransi.

Kalau begini, bagaimana BPJS Kesehatan bisa evaluasi? Minimal punya pemahaman tentang bagaimana jasa asuransi mereka melantai pada rakyat-rakyat perindu kesehatan. Ini ibarat vegan yang jualan sate klathak. Mana bisa mereka klaim satenya enak karena mereka sendiri aja nggak nyobain?

Baca juga:  Kenaikan Iuran BPJS Satu-satunya Cara Agar BPJS Nggak Bangkrut, Ah Masa?

BACA JUGA Berhenti dari BPJS Kesehatan Hanya Bisa Dilakukan dengan Satu Cara atau artikel lainnya di POJOKAN.