Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Susahnya Punya Tampang yang Tak Layak Bagi-Bagi Makanan Gratis

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
12 Mei 2019
A A
membagikan makanan
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Niat baik akan selalu membuahkan kebaikan. Namun penerimaannya kadang tak melulu beriringan dengan kebaikan pula. Dan kemarin sore, saya membuktikannya.

Kemarin saya mengisi semacam acara lokakarya mahasiswa di salah satu kampus. Acara berlangsung dari pukul tiga sore dan berakhir sekitar lima belas menit menjelang maghrib.

Begitu acara selesai, saya buru-buru pamit ke panitia sebab saya keburu ingin berbuka di salah satu rumah makan langganan saya di Jakal atas.

“Nggak nunggu buka sekalian, Mas?” tanya salah satu panitia.

“Nggak, Mbak. Habis ini saya ada acara,” terang saya.

Panitia kemudian langsung memberi saya bungkusan, lengkap dengan amplopnya. Saya terima bungkusan dan amplop tersebut dan kemudian langsung ngacir keluar.

Saat sampai di tangga, seorang panitia tergopoh-gopoh mengejar saya sembari membawa nasi kotak.

“Mas, ini, ada jatah makan dari panitia. Harusnya buat buka puasa, tapi karena Mas Agus sudah pulang duluan, jadi saya kasihkan saja, siapa tahu nanti di jalan bisa dimakan,” ujarnya sembari memberikan kotak tersebut beserta tas kresek sebagai wadahnya.

“Oh, suwun, Mbak.”

Di parkiran, saya buka nasi kotak yang tadi dikasih panitia. Isinya nasi, tempe, sayur buncis, dan telur balado. Saya tutup kembali kotak tersebut dan saya gantungkan di gantungan motor.

Di jalan, saya memikirkan kepada siapa nasi kotak ini harus saya berikan. Nasi kotak ini tak mungkin saya makan sebab saya sudah ngebet ingin makan di warung makan langganan saya yang menyediakan menu ayam panggang sambal bawang yang legit dan bumbunya kolosal itu.

Dasar nasib mujur. Setelah sekitar setengah kilo saya melaju, saya melewati pemulung yang sedang mendorong gerobaknya. Pas betul. Mungkin inilah yang dinamakan berkah. Mau nyumbang makanan, ealah kok ya dimudahkan.

Motor saya hentikan. Saya datangi si bapak pemulung.

“Pak, ini saya ada nasi kotak,” ujar saya sembari menyerahkan nasi kotak saya pada si bapak yang wajahnya tampak kusut dan begitu kotor.

Iklan

Saya mengira, si bapak akan langsung menerima. Tapi ternyata tidak. Ia menggeleng. “Nggak, Mas.”

Wah, tengsin ini saya. Saya curiga, dia tersinggung sebab saya menganggapnya berkekurangan.

Saya lantas mencoba membujuknya.

“Pak, ini buat njenengan. Saya dikasih sama orang, daripada saya buang, daripada nggak saya makan.”

Kali ini, ia menerima dengan sukacita.

“Oalah, Mas. Gratis tho. Saya kira tadi sampeyan itu sedang jual nasi sama saya,” ujarnya sambil prengas-prenges.

Bajigur. Apakah sudah sedemikian susah wajah saya sampai-sampai mau ngasih nasi gratis saja saya nggak dipercaya?

Jangan-jangan tampang saya memanglah tampang melarat, tampang yang tak selayaknya membagi-bagikan makanan gratis pada orang-orang.

Sepanjang perjalanan pulang, saya terus saja merenung. “Kelihatannya saya lebih pemulung ketimbang pemulung itu sendiri. Saya lebih gelandang ketimbang gelandangan itu sendiri.”

Bodhol wuk, bodhol… semplok wuk, semplok…

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2019 oleh

Tags: pemulungPuasatampang
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Hendisman dapat gelar sarjana Universitas Labuhanbatu. MOJOK.CO
Sosok

Getirnya Kuliah di Jurusan Akuntansi karena dari Keluarga Kurang Mampu, Akhirnya Kerja Jadi Pemulung dan Cumlaude

7 Mei 2025
3 Alasan Orang Sleman Malas Bukber ke Bantul, Selain Karena Egois dan Jogja Selatan Isinya Gondes.mojok.co
Ragam

Bagi Warga Bantul Ajakan Bukber di Sleman Adalah Bentuk Diskriminasi dan Ketidakadilan, Apa Orang Jogja Utara Memang Egois?

15 Maret 2024
Penambang Kawah Ijen Tak Puasa Demi Baju Lebaran Anak MOJOK.CO
Catatan

Perjuangan Penambang Belerang Kawah Ijen Banyuwangi Demi Baju Lebaran Anak Istri, Puasa-puasa Tetap Naik Turun Gunung Memikul Ratusan Kg Hasil Tambang

11 Maret 2024
Menelusuri Sejarah Takjil Pertama Berkah Gulai Kambing di Kauman Jogja. MOJOK.CO
Geliat Warga

Menelusuri Sejarah Takjil Pertama, Berkah Gulai Kambing di Kauman Jogja

19 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

2 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh” MOJOK.CO

Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”

31 Januari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.