Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mbak Titiek Soeharto dan Romantisme “Piye Kabare? Isih Penak Jamanku, Tho?”

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
17 November 2018
A A
titiek soeharto
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya, Titiek Soeharto (atau mungin biar lebih akrab, kita sebut dengan Mbak Titiek saja, yes) dalam beberapa hari terakhir membuat manuver sederhana yang cukup menghebohkan dunia persilatan politik tanah air.

Melalui cuitan di akun Twitternya, Mbak Titiek menyebut bahwa Indonesia sudah saatnya kembali seperti masa pemerintahan Bapak Harto.

“Sudah cukup… Sudah saatnya Indonesia kembali seperti waktu era kepemimpinan Bapak Soeharto yang sukses dengan swasembada pangan, mendapatkan penghargaan internasional dan dikenal dunia.” Begitu kata Mbak Titiek.

Dalam beberapa cuitan yang lain, Mbak Titik juga menyoroti soal masalah pengangguran dan ekonomi yang di masa pemerintahan Jokowi ini dianggap semakin buruk.

Hal tersebut tentu saja langsung mengundang banyak komentar miring dari para netizen. Maklum saja, urusan ekonomi, kemiskinan, juga pengangguran memang hal yang sensitif, terlebih jika hal tersebut kemudian diperbandingkan antar rezim.

Pernyataan Titiek tentang pengangguran jaman sekarang yang semakin tinggi dibandingkan dengan jaman pemerintahan ayahnya sedikit banyak memang debatable.

Di masa akhir pemerintahan Soeharto sebelum krisis, tingkat pengangguran di Indonesia adalah sebesar 5,46 persen, sedangkan di masa pemerintahan Jokowi, naik turun di kisaran 5,13 persen sampai 5,70 persen. Itu artinya, tingkat pengangguran di era pemerintahan Soeharto dan Jokowi sebenarnya tak beda-beda amat.

Tingkat kemiskinan lebih bisa dibantah lagi. Tingkat kemiskinan di periode terakhir kepemimpinan Soeharto berkisar antara 13,7 persen sampai 17,47 persen. Sedangkan di masa pemerintahan Jokowi, per bulan Maret kemarin, berada di tingkat 9,82 persen. Menurut BPS, itu adalah angka yang terendah sepanjang masa.

Jadi, kalau ada orang yang bilang bahwa angka kemiskinan di era Jokowi meningkat, itu bisa dianggap omong kosong belaka.

Pernyataan Mbak Tutiek yang jauh lebih sensasional adalah saat ia mengomentari insiden Ratna Sarumpaet beberepa waktu yang lewat.

“Mosok emak-emak, nenek-nenek, dianiaya. Itu kan perbuatan biadab. Biadab banget ini,” ujar Mbak Titiek. “Dulu di zaman Orde Baru, dibilang otoriter. Tapi apakah dengar ada aktivis wanita dianiaya. Coba dibandingkan siapa yang otoriter?”

Pernyataannya ini mendapatkan nyinyiran jauh lebih nylekit, sebab, untuk tidak menyebutnya sebagai naif atau pura-pura lupa, pada masa pemerintahan Soeharto nyatanya banyak sekali aktivis yang mendapatkan perlakuan represif dari aparat.

Beberapa netizen yang menanggapi pernyataan Mbak Titiek tersebut menyebutkan nama Marsinah, sosok aktivis perempuan di jaman orde baru yang tewas karena dibunuh.

Yah, Pemilu, utamanya Pilpres memang membuat banyak orang jadi sukar mengingat masa lalu dan sulit menangkap fakta.

Iklan

Tapi tak apa, anaknya Pak Harto, bebas.

Lagipula, pada titik tertentu, saya setuju dengan Mbak Titiek. Pada titik tertentu, saya memang harus mengakui kalau memang lebih enak jaman pak Harto. Lha gimana, jaman Pak Harto, kerjaan saya cuma nonton dragon ball sama kartun tamiya.

Dan pula, jaman pak Harto, masalah terbesar saya cuma PR Matematika, bukan patah hati, dikhianati teman, atau terjerat hutang.

Ah, saya kok jadi inget sama dialog lucu suami dan istri soal rezim Soeharto.

“Memang enak jaman Soeharto ya, Dik?” tanya suami pada istrinya.

“Ah, kok bisa tho, Pakne, enaknya di mana?”

“Ya enak, soalnya jaman Soeharto, kamu masih muda, mulus, lincah, dan lentur, nggak tua dan gembrot kaya sekarang.”

“Lambemuuuuuu…”

Terakhir diperbarui pada 17 November 2018 oleh

Tags: berkaryatitik soeharto
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Kilas

Tiga Partai yang Ketua Umumnya Fokus Nyaleg, Bukan Nyapres atau Nyawapres

18 Juli 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

2 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas Karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi MOJOK.CO

FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi

2 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.